Di kota yang tak pernah benar-benar tidur
aku berjalan sendiri di antara lampu-lampu yang tak mengenal namaku
Surabaya ramai, tetapi hatiku sunyi
seperti stasiun yang kehilangan kereta terakhirnya
Ada dingin yang diam-diam tinggal di ingatan
tentang pagi berkabut di Paris van Java
tentang jalanan yang lebih pelan dan lebih ramah
seolah waktu di sana tahu cara memeluk manusia
Aku ingin pulang
bukan sekadar ke tempat
tetapi kepada rasa yang dulu sederhana
ketika langit terasa lebih dekat dan napas lebih ringan
Di sini aku punya alasan untuk bertahan
wajah kecil yang menungguku pulang
tangan yang menggenggamku saat lelah
dan satu hati yang memilihku tiap hari
Namun rindu tetap datang diam-diam
menyusup lewat udara yang tak lagi sejuk
membawa nama lain seperti doa yang tertahan
yang hanya bisa kusebut dalam diam
Aku belajar hidup dengan dua arah
melangkah ke depan, tetapi menoleh ke belakang
Dan mungkin itulah arti bertahan
bukan tak merasa sepi
melainkan tetap tinggal
meski hati ingin pulang
![[PUISI] Tentang Pulang yang Hanya Berani Kuingat](https://image.idntimes.com/post/20260412/ilustrasi-pulang_80ac8a44-c46f-4008-9094-7deae6936ea4.jpg)