Kita adalah bangsa yang sederhana
Cukup kenyang dengan
nyala kerdil dari lilin-lilin murah
yang hanya mampu diperoleh
secara eceran
Tiada habisnya kita dihibur oleh
habisnya lilin menuju tiada
Kedamaian kapan dapat memadai?
Kita memang tidak bisa meramal apa-apa,
hanya tahu getahnya
Kini berduka tidak cukup hanya
putusnya sandal jepit,
Kita masih harus memanen
rimba tangis dan jerit
Oh, Tuhan. Kenapa mala begitu lama?
Sepertinya kita terombang-
ambing di potongan
penderitaan yang kita dapat
sama rata
Jangan sampai terpisah;
Kita sudah berjanji untuk
menderita dari omong kosong
yang sama
![[PUISI] Teriakan Putus Asa](https://image.idntimes.com/post/20221211/compressjpegonline-100kb-62588-2d1613fb5ee0f02dddeb669a70cee42e-c6bd371a587462fdff04c1046e6ecc19.jpg)