Di antara riuh dan sunyi yang melata
Ada jemari takdir yang menenun karsa
Mengikat dua jiwa dalam rahasia semesta
Tanpa perlu suara, tanpa perlu dipaksa
Meski jarak membentang ribuan samudera
Dan waktu mencoba mengaburkan muara
Benang merah itu tetap kokoh membara
Menuntun langkah pulang ke peluk yang setara
Tak akan putus oleh badai yang menerjang
Tak akan luntur meski cahaya kian jarang
Sebab yang sudah tertulis di buku benderang
Akan tetap bersatu, takkan pernah hilang
Kita hanyalah pengembara yang patuh
Pada benang merah yang membuat kita utuh
Hingga di titik akhir saat raga telah rapuh
Cinta ini menetap, takkan lagi menjauh
![[PUISI] Terikat Takdir Benang Merah](https://image.idntimes.com/post/20260505/img_4473_31687875-eec8-460c-a40d-87b3b9bc6e29.jpeg)