Sore meremang, aroma kopi berkelindan dengan rintik hujan,
Membasuh Bumi, menghidupkan pendar mimpi yang kian lamat.
Di sini, aku merangkul hening yang kian tajam,
Mengeja kembali detak hidup yang tengah kujalani dalam diam.

Ada riuh imaji yang saling beradu dalam senyap,
Lalu perlahan luruh, menguap bersama kepulan asap.
Hidup memang teka-teki yang tak habis dikupas,
Kadang menyeret kita ke persimpangan jalan yang terasa asing dan luas.

Bak narasi yang disusun Semesta, ada kejutan yang melampaui logika,
Sesuatu yang sering kali luput dari jangkauan nalar manusia.
Namun, jalan sunyi ini bukanlah jalan yang mati,
Melainkan ruang untuk jeda, merasai setiap rona yang hadir di hati.

Biarlah misteri tetap menjadi rahasia yang terkunci,
Meski langkah seringkali tertahan, tak mampu lagi menepi.
Sebab dalam sunyi yang paling dalam, kita akhirnya menyadari,
Ada begitu banyak hal kecil yang layak untuk disyukuri.

Hingga pada akhirnya, biarlah waktu yang menjadi saksi,
Tentang langkah-langkah kecil yang bertahan di tengah badai dan sanksi.
Bahwa bahagia bukan tentang jalan yang selalu lapang dan terang,
Namun tentang hati yang tetap tenang saat malam mulai menjelang.