Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Titik yang Enggan Dijemput Garis
ilustrasi kaca dengan tetesan air (pexels.com/Nikita Khandelwal)

Malam jatuh ke dalam sunyi
Seperti bunga sedap malam yang tersesat dari siangnya melodi semesta

Di kamar ini, waktu melambat
Menggeser bayang di dinding dan sesuatu yang diam-diam telah berjamur di hati

Aku duduk bersama sunyi yang pandai menyamar jadi teman
Menawarkan segelas sepi yang kuminum tanpa tanya

Di luar, orang-orang saling menemukan
Seperti hujan yang tak pernah ragu ke mana ia harus jatuh

Tangan-tangan saling menggenggam
Nama-nama dipanggil dengan hangat dan dunia berjalan
Seolah tahu tujuannya masing-masing

Sementara aku kata yang tertinggal di ujung kalimat
Tak selesai mencari kata yang paling tepat
Tak juga benar-benar bisa digambarkan

Kadang kudengar bisikan itu
Entah dari celah jendela atau dari retak kecil di dadaku sendiri
Bahwa setiap orang punya waktunya
Bahwa cinta tak pernah benar-benar akan tersesat

Namun bisikan selalu datang terlambat setelah dingin lebih dulu menetap
Di kursi, di meja, di selimut yang lupa begitu nyamannya rasa hangat itu

Aku mulai tak mengerti cara kerja dunia
Mengapa sebagian hati dipertemukan
Seperti dua garis yang sengaja dipertautkan,
Sementara aku tetap menjadi titik yang tak diberi arah

Jika suatu hari kau datang
Ketuklah pintu ini perlahan
Aku mungkin sedang belajar berdamai dengan sepi
Atau mengajari hatiku cara percaya lagi pada sesuatu yang tak pernah hadir

Dan bila kau tak pernah datang
Biarlah kamar ini terus menyimpan
Bisikan-bisikan kecil itu tentang harapan yang telah mati
Bahwa hidup harus berbentuk garis lurus

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team