Di pagi hari yang sejuk, suara burung bersahut-sahutan dengan ramai. Sinar hangat mentari menembus tirai jendela, menyoroti isi kamarku yang berserakan. Aku terbangun dengan langkah sempoyongan, lalu merapikan ruangan yang berantakan bak kapal pecah ini dalam kondisi setengah sadar.
Pukul enam pagi, aku selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi—entahlah, aku pun tak tahu hendak ke mana. Setelah sarapan sepotong roti, aku keluar dari kost dan memandang suasana sekitar. Suasana ini, sangat jauh berbeda dari kampung halamanku. Suara kereta yang berdesing keras seakan memanggilku untuk pulang. Ya, hidup sendiri di perantauan dengan hanya ditemani sepi selalu memicu rindu rumah setiap kali kereta lewat. Rasanya ingin menangis, tapi apa daya. Begitu sebuah keputusan diambil, kita harus menerima konsekuensinya, bukan?
Aku berjalan melewati rumah penduduk yang berimpitan. Aroma masakan yang harum selalu mengiringi langkahku. Beberapa orang sudah memulai roda kehidupan mereka; ada yang sibuk bersiap, ada pula yang sekadar duduk menyesap kopi sambil berbincang dengan tetangga. Segerombolan anak yang sedang bermain menyapaku dengan senyuman. Aku membalasnya dengan senyum terbaik, meski hatiku sendiri terasa hampa dan kosong.
Aku berhenti sejenak, menunggu deretan gerbong besi melintas. Setelah itu, aku kembali melangkah. Sebenarnya aku cukup lelah, tetapi kupaksakan kaki ini untuk terus berjalan. Kini aku telah sampai di jalan raya. Di setiap langkah, ribuan cerita hadir di kepalaku. Jalanan kota kian ramai; kendaraan berlalu-lalang meninggalkan deru asap yang menari di udara. Orang-orang disabilitas tertidur di trotoar kotor dan dingin dengan penuh ketenangan, seolah dunia yang bising ini selalu menjadi pengantar lagu tidur mereka. Di sisi lain, para pekerja berangkat dengan penuh semangat meski akhir pekan, memacu asa demi keluarga yang menanti di rumah. Sungguh, berjalan di tengah hiruk-pikuk kota besar seakan mengingatkanku bahwa hidup adalah tentang terus bergerak, meski kadang kita lupa ke mana tujuan sebenarnya.
Sudah hampir dua puluh menit aku melangkah hingga langkahku terhenti di sebuah stasiun. Di sinilah muara pertemuan dan perpisahan melebur menjadi satu. Seketika, aku rindu rumah. Aku ingin pulang. Namun, langkah tetap kupaksa meski hati terisak dan lelah mulai menyerang. Terasa sia-sia jika perjalanan yang sudah ditempuh hampir setengah jam ini berakhir hanya karena kelelahan. Dengan senandung lirih sebagai kawan, aku pun terus melaju. Tak peduli seberapa letih, tak peduli seberapa jauh lagi jalan yang harus kutempuh, takkan kubiarkan langkah ini terhenti di sini.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dengan iringan peperangan batin, akhirnya aku tiba di sebuah kawasan kota. Sebuah tempat dengan jejeran bangunan kuno yang bersejarah. Meski bagi sebagian orang ini hanyalah kota biasa, tetapi aku merasa ada ketenangan kecil yang akhirnya kutemukan di sana setelah berjalan kaki sambil melawan segala keluhan hatiku.
Ini bukan hanya tentang tempat. Namun, segala pelajaran, pengalaman, dan cerita yang tersusun rapi di dalam pikiranku selama perjalanan membuatku tersadar kalau hidup di perantauan memang bukan hanya tentang menahan rindu, tapi juga tentang menempa kaki agar tak mudah goyah, Aku harus berdamai dengan sepi yang selama ini kupeluk sendiri dan rasa damai yang harus kuciptakan sendiri di mana pun kakiku berpijak.
