Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Si Penipu di Warung Rawon

Warmindo Makassar 1.jpeg
ilustrasi warung makan (IDN Times/Ashrawi Muin)
Intinya sih...
  • Pria paruh baya sering datang ke warung rawon untuk minum kopi dan tertipu oleh teman-temannya, termasuk Ayah penulis cerpen.
  • Ayah penulis cerpen menghilang tanpa kabar, menikah lagi dengan pemilik warung rawon, dan tidak memilih untuk menceraikan Ibunya.
  • Penulis merasa biasa saja dengan pernikahan Ayahnya, menyayangkan posisi Ibunya, dan enggan menerima pemilik warung sebagai Ibu tirinya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Aku melihatnya lagi. Pria paruh baya yang tengah menenggak kopi di warung rawon itu. Dia datang setiap pagi, sore, dan malam untuk meminum kopi sembari berbincang dengan teman-teman sebayanya. Di sana, mereka akan berbincang mengenai apa saja. Mulai dari keseharian, keluarga, pekerjaan hingga berakhir pada penawaran bisnis abal-abal yang ujungnya akan gagal. Bodohnya, pria paruh baya itu akan percaya lagi pada teman-temannya dan tertipu berulang kali hingga uangnya habis dan utangnya bertumpuk. 

Pria paruh baya di warung itu adalah Ayahku. Ayah yang beberapa tahun ini menghilang tanpa kabar dan tanggung jawab. Dia meninggalkan Ibuku dan anak-anaknya. Kudengar kini dia telah menikah lagi. Istri barunya adalah pemilik warung rawon itu. 

Saat mengetahui fakta bahwa Ayahku menikah lagi, aku tidak terkejut sama sekali. Apa yang ada di dalam pikiranku hanyalah "Ternyata menikah lagi adalah permasalahan yang dia pilih kali ini". Aku sama sekali tak marah, aku merasa biasa saja. Hanya saja, aku menyayangkan posisi Ibuku yang masih berstatus menjadi istrinya. Menurutku, akan lebih baik jika Ayah menceraikan Ibu.

Ketika mendengar kabar tentang Ayah, Ibu sama sekali tidak terkejut. Ibu sudah terbiasa dengan berbagai macam tingkah laku Ayah. Syukurlah Ibu tidak marah dan menangis. Meskipun aku tahu, bahwa dalam hatinya tetap ada perasaan terluka dan kecewa. Setidaknya, Ibu tampak baik-baik saja di hadapanku.

Aku tidak membenci perempuan pemilik warung rawon itu. Namun, aku juga enggan menerimanya sebagai Ibu tiri ataupun sebagai keluargaku. Meskipun begitu, terkadang aku berpikir, Bagaimana jika perempuan itu sebenarnya tidak mengetahui apa pun tentang Ibuku? Bagaimana jika perempuan itu ternyata hanyalah korban lain dari tipu muslihat dan tipu daya Ayah? Mungkin perempuan itu sama seperti Ibuku yang dibujuk rayu dengan janji-janji dan harapan palsu Ayah. Karena seperti itulah Ayahku. Menikah lagi diam-diam hanyalah salah satu perbuatan bejatnya. Sepanjang hidupnya, yang dia lakukan hanyalah menipu Ibu, menipuku, menipu keluargaku. Dan kini, dia menipu perempuan itu. Lalu, karma mendatanginya dalam bentuk teman-teman yang selalu dia percaya. 

Kendati begitu, aku tetaplah aku yang tak mau ambil pusing dengan persoalan Ayah. Aku memilih melewati warung rawon itu. Biarlah Ayahku mempunyai hidup baru. Semoga masih ada kebahagiaan di dunia ini yang tersisa untuknya. Semoga hari terakhirnya berakhir di pelukan perempuan itu. Tidak di pelukanku, tidak pula di pelukan Ibu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[CERPEN] Si Penipu di Warung Rawon

25 Jan 2026, 23:21 WIBFiction
ilustrasi perempuan yang sedang di pinggir pantai

[PUISI] Kelana Rasa

25 Jan 2026, 20:07 WIBFiction
Ilustrasi sekelompok anak kecil berjalan

[PUISI] Pahit yang Menetap

25 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi langit

[PUISI] Ragu

25 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
Pemandangan sore yang tenang dan sendu

[PUISI] Sore Pilu

24 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
ilustrasi seseorang berdiri di tengah cahaya terang

[PUISI] Senyap Kemenangan

24 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
ilustrasi perkuburan

[PUISI] Menuju Ketiadaan

23 Jan 2026, 05:04 WIBFiction
Ilustrasi angin

[PUISI] Embusan

22 Jan 2026, 21:17 WIBFiction
ilustrasi wanita yang berdiri di dekat kereta

[PUISI] Sapa Tanpa Gaung

21 Jan 2026, 05:15 WIBFiction
Potret kursi roda

[CERPEN] Kursi Roda Ali

20 Jan 2026, 21:56 WIBFiction
ilustrasi seorang pria di tengah keramaian

[PUISI] Berlalu-Lalang

20 Jan 2026, 21:48 WIBFiction