[CERPEN] Si Penipu di Warung Rawon

- Pria paruh baya sering datang ke warung rawon untuk minum kopi dan tertipu oleh teman-temannya, termasuk Ayah penulis cerpen.
- Ayah penulis cerpen menghilang tanpa kabar, menikah lagi dengan pemilik warung rawon, dan tidak memilih untuk menceraikan Ibunya.
- Penulis merasa biasa saja dengan pernikahan Ayahnya, menyayangkan posisi Ibunya, dan enggan menerima pemilik warung sebagai Ibu tirinya.
Aku melihatnya lagi. Pria paruh baya yang tengah menenggak kopi di warung rawon itu. Dia datang setiap pagi, sore, dan malam untuk meminum kopi sembari berbincang dengan teman-teman sebayanya. Di sana, mereka akan berbincang mengenai apa saja. Mulai dari keseharian, keluarga, pekerjaan hingga berakhir pada penawaran bisnis abal-abal yang ujungnya akan gagal. Bodohnya, pria paruh baya itu akan percaya lagi pada teman-temannya dan tertipu berulang kali hingga uangnya habis dan utangnya bertumpuk.
Pria paruh baya di warung itu adalah Ayahku. Ayah yang beberapa tahun ini menghilang tanpa kabar dan tanggung jawab. Dia meninggalkan Ibuku dan anak-anaknya. Kudengar kini dia telah menikah lagi. Istri barunya adalah pemilik warung rawon itu.
Saat mengetahui fakta bahwa Ayahku menikah lagi, aku tidak terkejut sama sekali. Apa yang ada di dalam pikiranku hanyalah "Ternyata menikah lagi adalah permasalahan yang dia pilih kali ini". Aku sama sekali tak marah, aku merasa biasa saja. Hanya saja, aku menyayangkan posisi Ibuku yang masih berstatus menjadi istrinya. Menurutku, akan lebih baik jika Ayah menceraikan Ibu.
Ketika mendengar kabar tentang Ayah, Ibu sama sekali tidak terkejut. Ibu sudah terbiasa dengan berbagai macam tingkah laku Ayah. Syukurlah Ibu tidak marah dan menangis. Meskipun aku tahu, bahwa dalam hatinya tetap ada perasaan terluka dan kecewa. Setidaknya, Ibu tampak baik-baik saja di hadapanku.
Aku tidak membenci perempuan pemilik warung rawon itu. Namun, aku juga enggan menerimanya sebagai Ibu tiri ataupun sebagai keluargaku. Meskipun begitu, terkadang aku berpikir, Bagaimana jika perempuan itu sebenarnya tidak mengetahui apa pun tentang Ibuku? Bagaimana jika perempuan itu ternyata hanyalah korban lain dari tipu muslihat dan tipu daya Ayah? Mungkin perempuan itu sama seperti Ibuku yang dibujuk rayu dengan janji-janji dan harapan palsu Ayah. Karena seperti itulah Ayahku. Menikah lagi diam-diam hanyalah salah satu perbuatan bejatnya. Sepanjang hidupnya, yang dia lakukan hanyalah menipu Ibu, menipuku, menipu keluargaku. Dan kini, dia menipu perempuan itu. Lalu, karma mendatanginya dalam bentuk teman-teman yang selalu dia percaya.
Kendati begitu, aku tetaplah aku yang tak mau ambil pusing dengan persoalan Ayah. Aku memilih melewati warung rawon itu. Biarlah Ayahku mempunyai hidup baru. Semoga masih ada kebahagiaan di dunia ini yang tersisa untuknya. Semoga hari terakhirnya berakhir di pelukan perempuan itu. Tidak di pelukanku, tidak pula di pelukan Ibu.


















