Pedang, Api, dan Roh tanpa Raga (1)
Kerajaan Bing, Dinasti Anggrek Ketujuh Puluh, Bulan Ketiga
Bunyi ketukan bertalu-talu dari pintu depan membuat Chang Pingyan jengkel bercampur was-was. Ia sedang bersiap pergi tidur. Permasalahannya bukan istirahat yang terganggu, melainkan tamu ini datang saat larut malam selagi Pingyan sendirian di rumah yang ia tempati bersama Ibu. Dusunnya ini, Dusun Zhen, biasanya aman dari serbuan bandit. Namun, tak ada salahnya berjaga-jaga.
"Siapa di luar?" Pingyan menyambar pedang yang tergantung di dinding lalu keluar kamar. Suara ketukan itu membahana di seluruh rumah yang hanya terdiri dari ruang tengah dan dua kamar tidur. Bandit tentunya tidak akan seberisik ini, tetapi rumah tetangga terdekat begitu jauh hingga orang jahat mungkin merasa aman.
"Permisi, maaf mengganggu," sahut suara seorang pria. Pingyan tidak mengenal suara itu dan logatnya pun bukan logat orang daerah sini. "Apa Jenderal Chang ada di rumah?"
Sejenak, Pingyan bingung lalu sadar bahwa yang dimaksud dengan Jenderal Chang adalah Ibu. Sebelum menetap di Dusun Zhen, Ibu pernah menjadi salah satu pimpinan tentara kerajaan. Baru sekali ini ada tamu yang menyebutkan pangkat Ibu di masa lalu.
"Saya prajurit Kota Ding, ada perlu dengan Jenderal Chang," imbuh orang itu.
Kota Ding adalah kota terdekat dengan Dusun Zhen. Tetap saja Pingyan tak bisa menebak apa urusan para prajurit kota itu dengan Ibu, malam-malam pula. Saat ini, Ibu sedang mengunjungi temannya di ibukota dan penjagaan rumah menjadi tanggung jawab Pingyan. Lebih baik ia mengusir tamu daripada merusak kepercayaan Ibu.
"Apa buktinya Anda prajurit, bukan rampok?" Pingyan menantang.
"Nona, saya sungguh bukan penjahat. Tolong jawab, apa Jenderal Chang ada?"
Sambil mendengarkan, Pingyan menggesekkan ujung jari di gagang pedang. Ibu punya dua pedang, dan yang di tangan Pingyan adalah pedang untuk latihannya sehari-hari. Karenanya ia sudah sangat mengakrabi senjata yang hampir sama panjang dengan lengannya itu. Kalaupun si tamu tak diundang berniat jelek, Pingyan bertekad melawan sebelum mati.
"Tunggu sebentar," ujarnya.
Pingyan menyembunyikan pedang di balik punggungnya. Ia membuka palang pintu lalu mengintip keluar. Seorang pria muda berdiri di bawah sinar bulan. Ia mengenakan seragam tentara seperti yang pernah dilihat Pingyan. Baju zirah serta pelindung kepala warna perak, baju dan celana panjang katun merah bata, juga sepatu bot hitam. Meski begitu, ia mengetatkan pegangan pada pedang.
"Saya membawa pesan untuk Jenderal Chang," kata prajurit itu. "Apa beliau ada di rumah?"
Agak aneh bagi Pingyan bahwa prajurit itu begitu sopan pada anak udik sepertinya. Entah ia memang orang yang santun, atau penjahat yang sengaja ingin membuat calon korban lengah. "Ibu sudah tidur. Biar aku yang menyampaikan pesannya."
Wajah prajurit itu berubah bimbang. "Tapi saya diperintahkan bertemu Jenderal Chang langsung."
Di belakangnya, bergeser sesosok bayangan hitam. Pingyan yang tadinya mengira bayangan itu jelmaan sinar bulan, terlonjak kaget sampai nyaris menghunus pedang. Tanpa ia sadari, rupanya sejak tadi prajurit itu tidak sendirian.
"Jenderal Chang ibumu?" tanya orang kedua itu. Ia pria berumur empat puluhan, dengan lima utas jenggot tumbuh di dagu. Jubah biru mudanya berhiaskan sulaman benang emas dan perak berbentuk burung murai. Walau berbadan gempal dan lebar, gerakan pria itu ringan tanpa bunyi. "Aku tidak tahu ia pernah menikah."
Kontan Pingyan merasa kurang nyaman. Firasatnya, pria ini sengaja bersembunyi agar ia terkejut. Kini nada bicaranya penuh selidik, seakan ia menaksir apakah Pingyan berbohong. Pingyan ingin menjawab dengan ketus, tetapi cemas sikap itu akan menyusahkan Ibu kelak. Apalagi pria ini, selain tampak makmur, sepertinya punya kedudukan tinggi.
"Aku anak angkatnya," sahut Pingyan dengan nada sabar yang, bahkan di telinganya sendiri, terdengar dimanis-maniskan bagai meledek. "Setelah Ibu pensiun dan pindah ke dusun ini, ia mengambilku sebagai anak."
Alih-alih menyahuti Pingyan, pria itu berpaling kepada si prajurit. "Aku sudah tidak ada perlu dengan Jenderal Chang. Ayo."
"Baik, Tuan." Prajurit itu membungkuk dan buru-buru menyusul saat pria berbaju apik itu berjalan meninggalkan rumah.
Segenap kantuk terbang dari badan Pingyan. Mengapa pria jubah biru itu tahu-tahu memutuskan tidak ingin lagi bertemu Ibu? Pasti ada alasan yang sama tidak wajar dengan waktu kedatangannya. Jika kedua orang ini ternyata berniat bikin onar, sebaiknya saat itu Pingyan masih terjaga. Maka ia pun tetap mengintip dari pintu, dengan pedang dalam posisi siaga.
Sesuai dugaannya, kedua laki-laki itu tidak pergi jauh. Mereka berhenti di bawah pohon dedalu separuh gundul di halaman depan. Selain pohon itu dan kebun sayur di halaman belakang, rumah Pingyan dikelilingi hamparan rumput. Rumah tetangga terdekat tidak tampak bahkan di siang hari.
Si prajurit menyerahkan sebilah pedang kepada pria jubah biru. Bilahnya tidak memantulkan cahaya bulan, maka tampaknya bukan terbuat dari baja. Pria jubah biru memegang pedang dengan bilah terarah ke depan. Telinga Pingyan menangkap suara lapat-lapat mirip rapalan doa. Sekejap ia heran kemudian tersadar apa yang tengah berlangsung di hadapannya.
Pria itu sedang mengucapkan mantra. Berarti, Pingyan menebak, ia pengusir roh, penghubung dengan dunia gaib, atau semacamnya. Karena prajurit itu begitu patuh, berarti pria itu pejabat atau anggota keluarga bangsawan.
Seharusnya Pingyan pergi tidur. Apa pun yang dicari kedua orang itu sudah bukan urusannya. Akan tetapi, kalaupun ia tidur, ia tak akan bisa segera terlelap. Ia malah akan terus-menerus menerka, mengapa ada pemanggil roh yang sempat bertemu Ibu malam-malam.
Dengan penasaran dan sedikit cemas, Pingyan menyelinap keluar rumah.
Baik si prajurit maupun pria jubah biru tak menggubris kehadiran Pingyan. Angin yang tadinya hanya sepoi-sepoi mulai berembus kencang. Kebetulan atau pertanda munculnya arwah dan hantu?
Pingyan sedikit merinding. Ia beringsut ke samping si prajurit. Matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan mendapati bahwa prajurit itu masih sangat muda. Usia mereka berdua mungkin hanya terpaut satu-dua tahun.
"Eh, Kak, sebetulnya ada apa?" bisik Pingyan. "Orang ini siapa?"
"Beliau Tuan Wei dari ibukota," si prajurit balas berbisik. "Pengusir hantu yang sakti, bahkan jadi orang kepercayaan Pangeran Pertama. Tuan Wei datang ke Kota Ding dan aku ditugaskan mengawalnya ke dusun ini. Tapi barusan Tuan Wei bilang ia sudah tak ada perlu dengan Jenderal Chang, dan sekarang ingin mengusir hantu. Selebihnya aku tak tahu."
Pengusir hantu dari ibu kota yang dipercaya putra sulung Yang Mulia Kaisar? Berarti benar tebakan Pingyan bahwa pria jubah biru alias Wei bukan orang sembarangan. Ketika Ibu masih bertugas di istana, ia sempat menjadi salah satu orang kepercayaan Kaisar. Kedatangan Wei mungkin berhubungan dengan hal itu.
Bila penduduk dusun sedang berkumpul di alun-alun, keluarga istana termasuk salah satu bahan obrolan kegemaran mereka. Dari situlah Pingyan tahu tentang Kaisar yang sekarang dan keluarganya. Yang Mulia memiliki dua putra: putra pertama lahir dari selir, sedangkan putra kedua anak Permaisuri. Maka walau Pangeran Pertama adalah anak sulung, pewaris takhta adalah adiknya, Pangeran Kedua.
Terbetik kabar burung bahwa Pangeran Pertama yang tidak puas dengan ketentuan ini, diam-diam menyusun rencana makar. Pada dasarnya, penduduk Dusun Zhen tidak peduli siapa yang memerintah. Mereka hanya berharap tidak terjadi pemberontakan berlarut-larut karena pasti menyengsarakan rakyat.
***
Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!
www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co
![[NOVEL] Pingyan dan Pangeran Bayangan-BAB 1](https://image.idntimes.com/post/20200824/pingyan-dan-pangeran-bayangan-landscape-ced4088d8d2a3f4b061e616de0195b73.jpg)