ilustrasi ikan tude bakar dan sambal dabu-dabu (commons.wikimedia.org/Gunawan Kartapranata)
Sambal dabu-dabu biasanya langsung dituangkan ke atas makanan, disendok ke atas ikan cakalang goreng, disiramkan ke ayam bakar, atau dijadikan saus cocol di pinggir piring. Karena minyak panasnya belum menghilang, sensasi hangat itu masih terasa di suapan pertama. Orang Manado menyebut cara makan seperti ini sebagai pengalaman yang harus dilakukan saat makanan masih panas, bukan setelah dingin.
Colo-colo lebih akrab dan komunal. Di Ambon, ada tradisi yang disebut makan patita, yaitu makan bersama-sama di tepi pantai dengan ikan segar yang baru dibakar di atas bara arang. Satu mangkuk colo-colo diletakkan di tengah. Semua orang mencelupkan ikan masing-masing ke dalamnya.
Tradisi ini bukan sekadar cara makan, melainkan momen kebersamaan yang sudah diwariskan turun-temurun dan masih bisa kamu temukan langsung kalau berkunjung ke warung-warung tepi pantai di Ambon atau Sorong hari ini.
Sambal colo-colo dan sambal dabu-dabu adalah dua bukti bahwa Indonesia Timur menyimpan kekayaan kuliner yang jauh lebih dalam dari yang banyak orang tahu. Keduanya layak kamu coba langsung di daerah asalnya agar benar-benar merasakan perbedaannya. Pengalaman mencelupkan ikan bakar segar ke dalam sambal yang dibuat 2 menit sebelum makan adalah sesuatu yang sulit terlupakan. Kalau kamu tim sambal colo-colo atau sambal dabu-dabu, nih?