ilustrasi bebek panggang utuh (unsplash.com/Yosuke Ota)
Istilah peranakan secara harafiah berarti "yang lahir di tempat lokal" dan peranakan Chinese adalah kelompok terbesar sekaligus yang paling dikenal. Dari situlah, masakan peranakan berkembang menjadi tradisi kuliner yang khas dan terpisah dari makanan Tionghoa pada umumnya.
Masakan peranakan merupakan salah satu jenis kuliner warisan budaya yang berasal dari akulturasi antara berbagai tradisi kuliner Asia Tenggara terutama Tionghoa dan Melayu/Indonesia. Pengaruh kuliner peranakan ini mulai terlihat ketika komunitas Tionghoa bermigrasi ke wilayah Nusantara sejak abad ke 15. Proses adaptasi tersebut melahirkan beragam masakan dengan resep yang diwariskan lintas generasi.
Makanan ini dikenal berwarna-warni dan kaya akan rempah-rempah lokal yang memberikan cita rasa kompleks pada hidangan yang menarik perhatian. Rasanya bisa pedas, asin, dan sedikit manis sekaligus. Di samping itu, hidangan peranakan menghadirkan elemen Tionghoa seperti penggunaan mi, tahu, dan saus fermentasi. Ditambah dengan bahan lokal seperti rempah, santan, dan sayur-mayur menjadi bagian utama resepnya.
Teknik merebus, mengukus, dan menumisnya yang jadi ciri khas masakan peranakan pun dilakukan dengan sentuhan lokal. Prosesnya sendiri sering memakan waktu karena banyak hidangan tradisional yang dibuat dengan rempah segar dan dimasak perlahan hingga benar-benar meresap. Sehingga, menghasilkan rasa yang berbeda dan autentik.