Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Bahan Makanan yang Jadi Mahal saat Harga Dolar Naik
ilustrasi daging (unsplash.com/Mariia Ioffe)
  • Kenaikan nilai dolar membuat harga bahan makanan impor seperti daging sapi, bawang putih, tepung terigu, kedelai, dan gula ikut melonjak di pasar lokal.
  • Dampak kenaikan harga terasa luas, mulai dari restoran besar hingga pedagang kaki lima yang harus menyesuaikan porsi atau kualitas produk agar biaya produksi tetap terkendali.
  • Bahan pokok berbasis impor ini memengaruhi banyak menu sehari-hari masyarakat Indonesia, sehingga perubahan kurs dolar cepat terasa pada pengeluaran dapur dan harga makanan umum.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Harga bahan makanan sering ikut berubah ketika nilai dolar naik, terutama pada komoditas yang pasokannya masih bergantung pada impor atau distribusi internasional. Dampaknya bukan cuma terasa di supermarket besar, tetapi juga di warung makan, bakery, sampai pedagang kaki lima yang harus menyesuaikan biaya produksi.

Beberapa bahan bahkan cenderung lebih cepat menjadi mahal karena digunakan hampir setiap hari dalam berbagai jenis masakan. Kondisi ini membuat kenaikan dolar sering diam-diam ikut mengubah isi dapur masyarakat. Berikut bahan makanan yang akan jadi mahal kalau harga dolar terus naik. Gak cuma di kota, warga desa juga merasakannya.

1. Daging sapi cepat mahal karena industri peternakan masih bergantung impor

ilustrasi daging sapi (unsplash.com/Sergey Kotenev)

Daging sapi termasuk komoditas yang hampir selalu ikut naik ketika dolar menguat. Penyebabnya bukan cuma karena impor daging beku, tetapi juga karena industri peternakan masih memakai pakan dan sapi bakalan dari luar negeri.

Efeknya terasa cepat pada menu yang memakai banyak irisan daging, seperti bakso, sate, rice bowl, yakiniku, sampai rawon. Tidak sedikit rumah makan akhirnya menaikkan harga makanannya perlahan atau mengurangi jumlah potongan daging dalam satu porsi.

Kenaikan daging sapi biasanya juga menyeret produk lain yang masih berkaitan dengan sapi, mulai dari susu segar hingga butter dan whipping cream. Bakery dan coffee shop sering menjadi tempat pertama yang menyesuaikan harga karena bahan olahan susu digunakan hampir di semua menu.

Saat dolar bertahan tinggi cukup lama, produk berbasis sapi memang cenderung lebih sulit kembali murah. Itulah sebabnya daging sapi sering dianggap sebagai salah satu bahan makanan paling sensitif terhadap kurs dolar.

2. Harga bawang putih sering langsung naik karena pasokan impor sangat besar

ilustrasi bawang putih (unsplash.com/Colin Watts)

Bawang putih termasuk bahan dapur yang paling cepat berubah harga ketika dolar naik. Indonesia masih mengimpor bawang putih dalam jumlah besar, sehingga biaya masuk barang sangat memengaruhi harga di pasar. Dampaknya terasa besar karena hampir semua masakan menggunakan bawang putih sebagai dasar bumbu. Mulai dari nasi goreng, mi ayam, ayam goreng, sampai tumisan sederhana tetap membutuhkan bawang putih dalam jumlah yang cukup banyak.

Ketika harga bawang putih naik, pelaku usaha makanan biasanya langsung terkena efeknya karena bahan ini dipakai setiap hari. Banyak penjual makanan akhirnya mengurangi jumlah bawang dalam bumbu agar biaya dapur tetap aman. Perubahan ini sebenarnya cukup terasa karena aroma gurih masakan jadi berbeda dibandingkan biasanya. Meski terlihat sederhana, bawang putih termasuk komoditas yang pengaruhnya besar dalam dunia kuliner Indonesia.

3. Harga tepung terigu mudah terkerek naik karena gandum masih impor

ilustrasi tepung terigu (unsplash.com/Immo Wegmann)

Tepung terigu menjadi salah satu bahan makanan yang paling rawan mahal saat dolar menguat. Sebab, gandum hampir sepenuhnya berasal dari impor. Efeknya luas sekali karena tepung digunakan di banyak makanan populer, mulai dari roti, mi instan, gorengan, martabak, donat, sampai makanan beku.

Saat harga gandum naik, pelaku usaha kuliner biasanya langsung menyesuaikan ukuran atau kualitas produk agar biaya produksi tidak terlalu berat. Dampaknya sering tidak langsung terlihat lewat harga, tetapi lewat ukuran porsi yang mengecil.

Kondisi ini membuat banyak jajanan perlahan berubah tanpa disadari pembeli. Ada roti yang terasa lebih ringan, kulit gorengan yang lebih tipis, atau mi yang porsinya sedikit berkurang. Bakery juga sering mengurangi filling atau topping agar harga jual tetap masuk akal. Karena konsumsi tepung di Indonesia sangat tinggi, kenaikan dolar biasanya cepat terasa pada makanan berbasis gandum.

4. Kedelai bisa bikin harga tempe dan tahu ikut bergerak naik

ilustrasi kedelai (unsplash.com/Daniela Paola Alchapar)

Kedelai menjadi bahan makanan yang sangat penting karena dipakai untuk membuat tempe dan tahu, dua lauk yang dikonsumsi hampir setiap hari di Indonesia. Masalahnya, sebagian besar kedelai masih berasal dari impor, sehingga nilai dolar sangat memengaruhi harga pasarnya.

Saat kurs naik, produsen tempe dan tahu biasanya langsung kesulitan menjaga biaya produksi tetap stabil. Dampaknya paling sering terlihat pada ukuran tempe yang mengecil sebelum harga benar-benar naik.

Efek kenaikan kedelai terasa sampai ke warteg, tukang gorengan, dan usaha katering sederhana. Banyak penjual akhirnya mengurangi ukuran lauk atau mengubah potongan agar tetap bisa dijual dengan harga yang sama.

Karena tahu dan tempe termasuk makanan yang dekat dengan masyarakat, perubahan kecil pada harganya cepat terasa di pengeluaran sehari-hari. Inilah alasan kedelai menjadi salah satu komoditas pangan yang paling sensitif terhadap penguatan dolar.

5. Gula bisa ikut mahal karena industri makanan banyak bergantung pada impor

ilustrasi gula (unsplash.com/ Immo Wegmann)

Gula termasuk bahan makanan yang sering terdampak ketika dolar menguat, terutama untuk industri makanan dan minuman dalam skala besar. Indonesia masih mengimpor gula mentah untuk kebutuhan produksi, sehingga biaya bahan baku ikut naik saat rupiah melemah.

Dampaknya bukan cuma terasa pada minuman kemasan, tetapi juga pada bakery, dessert, boba, sampai jajanan pasar yang memakai gula dalam jumlah banyak. Banyak pelaku usaha akhirnya mulai mengurangi tingkat manis atau mengecilkan ukuran produk.

Efeknya sering terasa diam-diam pada makanan yang sehari-hari dianggap murah. Ada teh manis yang rasanya lebih ringan, selai roti yang lebih tipis, atau topping dessert yang tidak sebanyak biasanya. Pada beberapa usaha minuman, ukuran gelas kadang diperkecil agar harga jual tetap terlihat normal di mata pembeli. Karena gula digunakan pada begitu banyak produk makanan, kenaikan kecil sekalipun bisa cepat menyebar ke berbagai jenis kuliner.

Kenaikan dolar memang tidak selalu langsung membuat semua bahan makanan mahal sekaligus, tetapi beberapa komoditas biasanya lebih cepat terasa dampaknya. Mulai dari lauk sederhana hingga jajanan favorit bisa ikut berubah karena biaya bahan baku dan distribusi meningkat. Dari semua bahan makanan tadi, mana yang menurutmu harganya paling cepat naik?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team