Dalam budaya makan Jepang, don sering diasosiasikan sebagai makanan praktis untuk aktivitas sehari-hari. Hidangan ini banyak dijumpai di restoran cepat saji dan warung makan sederhana, karena bisa dinikmati dengan cepat tanpa mengurangi rasa kenyang. Don juga sering dianggap sebagai makanan “lengkap,” karena sudah mencakup nasi dan lauk dalam satu mangkuk.
Udon memiliki peran yang sedikit berbeda. Selain sebagai makanan sehari-hari, udon juga kerap dikaitkan dengan momen tertentu, seperti cuaca dingin atau saat ingin menyantap makanan yang ringan. Tekstur mi yang kenyal dan kuah yang hangat membuat udon terasa nyaman di perut, sehingga sering dipilih ketika tidak ingin makanan berat.
Meski hanya dibedakan oleh satu huruf dalam namanya, don dan udon memiliki karakter yang sangat berbeda. Don menonjolkan perpaduan nasi dan lauk dengan rasa yang kuat, sedangkan udon menawarkan kesederhanaan mi dan kuah yang ringan.
Keduanya sama-sama menjadi ikon masakan Jepang dan menunjukkan bagaimana satu budaya bisa menghadirkan variasi hidangan dari konsep yang sederhana. Kalau kamu paling suka yang mana, nih? Don atau udon?