Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret udon
Potret udon (pexels.com/Markus Winkler)

Masakan Jepang dikenal dengan kesederhanaan bahan dan penyajian yang rapi, tetapi tetap kaya rasa. Di antara beragam istilah kuliner Jepang, kata don dan udon paling sering kita dengar, karena ada di buku menu.

Sebagian orang masih bingung perbedaan keduanya, bahkan menganggapnya sama saja. Padahal, keduanya merujuk pada jenis hidangan yang berbeda, baik dari bahan utama, cara penyajian, maupun cita rasanya.

Nah, agar tidak keliru saat memesan di restoran, kamu perlu memahami perbedaan don dan udon dalam masakan Jepang. Berikut di antaranya.

1. Bahan utama dan konsep hidangan

Perbedaan paling mendasar antara don dan udon terletak pada bahan utama yang digunakan. Don merupakan kependekan dari donburi, yakni hidangan nasi putih yang disajikan dalam mangkuk dan diberi lauk di bagian atasnya.

Nasi menjadi fondasi utama, sementara lauk berfungsi sebagai pemberi rasa dan tekstur. Dalam satu mangkuk don, nasi dan lauk menyatu, sehingga setiap suapan menghadirkan rasa yang seimbang antara karbohidrat dan protein.

Sementara itu, udon adalah mi khas Jepang yang terbuat dari tepung terigu dengan tekstur tebal dan kenyal. Pada udon, mi justru menjadi pusat perhatian. Kuah hanya berperan sebagai pendamping yang memperkuat rasa, bukan mendominasi. Konsep ini membuat udon terasa lebih ringan di perut dibandingkan don, meski sama-sama mengenyangkan.

2. Cara penyajian dan cita rasa

Potret donburi (pexels.com/Cohesion Singapore)

Don biasanya disajikan tanpa kuah berlebih. Lauk seperti daging sapi, ayam, telur, atau ikan dimasak dengan bumbu gurih dan manis, lalu ditata di atas nasi hangat. Bumbu dari lauk akan meresap ke nasi, menciptakan cita rasa yang lebih kaya dan intens. Hidangan ini sering dipilih sebagai menu makan utama karena praktis dan cepat disajikan.

Sebaliknya, udon disajikan dengan kuah kaldu yang cenderung ringan dan jernih. Kuah ini dibuat dari dashi, kecap asin Jepang, dan mirin, sehingga rasanya tidak terlalu tajam.

Penyajian seperti ini memungkinkan rasa mi tetap menonjol. Udon bisa disajikan panas maupun dingin, tergantung jenisnya, dan sering dianggap sebagai hidangan yang menenangkan.

3. Fungsi dalam budaya makan Jepang

Dalam budaya makan Jepang, don sering diasosiasikan sebagai makanan praktis untuk aktivitas sehari-hari. Hidangan ini banyak dijumpai di restoran cepat saji dan warung makan sederhana, karena bisa dinikmati dengan cepat tanpa mengurangi rasa kenyang. Don juga sering dianggap sebagai makanan “lengkap,” karena sudah mencakup nasi dan lauk dalam satu mangkuk.

Udon memiliki peran yang sedikit berbeda. Selain sebagai makanan sehari-hari, udon juga kerap dikaitkan dengan momen tertentu, seperti cuaca dingin atau saat ingin menyantap makanan yang ringan. Tekstur mi yang kenyal dan kuah yang hangat membuat udon terasa nyaman di perut, sehingga sering dipilih ketika tidak ingin makanan berat.

Meski hanya dibedakan oleh satu huruf dalam namanya, don dan udon memiliki karakter yang sangat berbeda. Don menonjolkan perpaduan nasi dan lauk dengan rasa yang kuat, sedangkan udon menawarkan kesederhanaan mi dan kuah yang ringan.

Keduanya sama-sama menjadi ikon masakan Jepang dan menunjukkan bagaimana satu budaya bisa menghadirkan variasi hidangan dari konsep yang sederhana. Kalau kamu paling suka yang mana, nih? Don atau udon?

Editorial Team