ilustrasi set menu makan malam untuk perayaan Imlek di Provinsi Shanxi (commons.wikimedia.org/HerryCFPL)
Asal-usul masakan Peranakan erat kaitannya dengan komunitas Peranakan atau Baba-Nyonya. Komunitas itu terbentuk melalui interaksi maupun perkawinan campuran antara migran Tionghoa dan Melayu di Asia Tenggara. Diperkirakan bermula pada abad ke-15.
Perpaduan budaya tidak hanya memengaruhi lingkungan sosial, tetapi juga kulinernya. Masakan Peranakan tetap menghadirkan unsur Tionghoa dari teknik memasaknya. Namun, bahan-bahan yang diolah telah disesuaikan dengan ketersediaan dan selera orang Asia Tenggara.
Kata Peranakan sendiri berarti lahir di daerah setempat yang menekankan perpaduan antara kedua tradisi kuliner. Kini, masakan Peranakan dapat dijumpai nyaris di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Malaysia, Singapura, dan Thailand bagian selatan lebih dikenal sebagai masakan Nyonya atau Baba-Nyonya. Sementara di Filipina lebih akrab dengan sebutan Tsinoy.
Sementara itu, masakan Tionghoa merupakan tradisi kuliner regional di China yang berkembang di wilayah asalnya. Umumnya menggunakan bahan makanan segar dan menekankan pada rasa, warna, aroma, serta tekstur. Resep dan tekniknya pun cukup konservatif serta diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga keasliannya.
Setiap region di China memiliki masakan khas Tionghoa dengan ciri khas berbeda. Secara garis besar dibagi menjadi delapan region yang disebut Eight Great Traditions, serta ditambah empat wilayah baru meliputi Xinjiang, Mongolia, Yunnan, dan Tibet. Contohnya, masakan Sichuan terkenal pedas dan tajam, masakan Hunan punya rasa dominan pedas asam, dan masakan Kanton atau Guangdong cenderung segar dengan teknik memasak yang fleksibel.
Selain itu, masakan Tionghoa juga menjadi bagian dari filosofi yin dan yang. Makanan yin, cenderung lebih dingin dan ringan untuk mengurangi kekeringan serta panas, banyak dijumpai di China bagian selatan. Sedangkan China utara didominasi makanan yang, cenderung pedas dan panas, termasuk penggunaan bawang serta cabai untuk mengurangi rasa dingin, lembap, maupun meningkatkan sirkulasi darah.