Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sama-sama Berwarna Ungu, Inilah 7 Perbedaan Taro dan Ube yang Sekilas Sama
ilustrasi ube ice cream (pexels.com/Guo)

Mungkin kamu pernah memesan kafe dan melihat ada dua minuman warna ungu dengan tampilan menarik, yakni taro latte dan ube latte. Kemudian kamu pun bingung, apa perbedaan taro dan ube yang kerap tampil pada minuman atau dessert ini?

Keduanya memang terlihat sama secara estetika, instagramable, dan bikin penasaran. Padahal, perbedaan keduanya itu bisa dilihat dari berbagai sisi dan bisa sangat memengaruhi pengalaman makan-minum kamu secara keseluruhan, lho. Jangan sampai salah pesan, inilah beda taro dan ube yang perlu kamu tahu!


1. Sama-sama sejenis umbi, tapi beda famili

ilustrasi ubi ungu (pexels.com/Marcelo Verfe)

Ube adalah sejenis ubi ungu yang jadi primadona dari Filipina, dikenal secara internasional sebagai purple yam dan sudah lama jadi ikon kuliner di sana. Sementara itu, taro atau yang dikenal sebagai talas punya akar sejarah di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sebenarnya, Indonesia sangat akrab dengan kedua jenis umbi ini sehingga lebih mudah diterima di lidah kita.  

Meski sama-sama umbi-umbian yang tumbuh di tanah, keduanya berasal dari famili tanaman yang sama sekali berbeda secara botani. Talas berasal dari Araceae yakni talas-talasan. Keluarga ini mempunyai ciri daun yang berbentuk hati dan bunga majemuk. Sedangkan ube berasal dari famili Dioscoreaceae

Nah, uniknya, ube (Dioscorea alata) sejenis ubi rambat atau ubi air, ernyata juga berbeda dengan ubi ungu (Ipomoea batatas) pada umumnya yang termasuk ubi jalar. Meski berasal dari jenis ubi yang berbeda, keduanya kerap disamakan karena memiliki warna ubi yang sama, yaitu ungu.

2. Warna ungu yang berbeda level

ilustrasi ube cheesecake (pexels.com/senanur ulusoy)

Ini bagian yang paling sering bikin orang salah kaprah, ube aslinya sudah ungu pekat dan intens bahkan saat masih mentah dan belum diolah sama sekali. Cukup belah dua dan kamu akan disambut warna ungu royal yang bikin mata langsung tertarik. Taro justru agak kalem soal warna. Bagian dalamnya dominan putih atau abu-abu dengan bintik-bintik ungu kecil yang halus dan malu-malu. Warna ungu cerah mencolok yang kamu lihat di gelas bubble tea itu biasanya sudah "dibantu" oleh pewarna makanan tambahan agar lebih menarik, lho.

Ube bisa menjadi pilihan bagi kamu yang suka warna ungu natural dan gak perlu filter yang berlebihan. Sedangkan, taro lebih cocok untuk kamu yang lagi suka vibe pastel soft dan minimalis karena warnanya lebih kalem dan elegan. Jadi, pilih mana, nih?


3. Tekstur yang terasa berbeda saat masuk mulut

ilustrasi ube ice cream (pexels.com/Anastasia Belousova)

Ube mempunyai tekstur yang lembut, lembap, dan terasa creamy secara alami setelah dimasak. Bahkan tanpa tambahan bahan apapun, ube sudah terasa mewah di lidah, lho. Di sisi lain, taro karakternya lebih padat, bertepung (starchy), dan cenderung kering, mirip dengan tekstur kentang yang dipanggang. Perbedaan ini sangat terasa saat kamu makan keduanya dalam kondisi yang sama-sama polos, contohnya dikukus. Ube langsung terasa lumer, sementara taro butuh sedikit usaha lebih untuk dikunyah.

Kalau kamu suka baking, pahami dulu perbedaan tekstur ini sebelum asal diganti, ya. Ube sangat sempurna untuk selai, isian roti, atau es krim yang ingin kamu buat terasa premium tanpa effort besar. Taro butuh bantuan ekstra cairan atau lemak agar bisa smooth. Tapi justru di situlah sensasi "ada gigitannya" yang jadi daya tarik tersendiri. Jangan paksa taro jadi selembut ube tanpa melalui proses pengolahan yang tepat atau hasilnya akan seret di tenggorokan, lho.


4. Profil rasa yang benar-benar berbeda di ujung lidah

ilustrasi taro latte (pexels.com/Blanca Isela)

Ini adalah perbedaan paling krusial yang wajib kamu hafal. Ube rasanya manis alami dengan sentuhan vanila yang hangat dan lembut. Taro punya profil rasa yang jauh lebih kompleks. Ada nuansa nutty (kacang-kacangan), sedikit earthy (tanah), dan aroma unik yang sering dideskripsikan mirip popcorn. Keduanya enak, tapi berbeda.

Kalau lagi butuh sesuatu yang terasa seperti pelukan hangat dan bikin hati senang, dessert atau minuman berbahan ube adalah jawaban yang tepat. Namun, kalau kamu lagi ingin sesuatu yang segar, gak terlalu manis, dan punya karakter yang lebih "dewasa", taro jadi pilihan yang  lebih bijak.


5. Kandungan gizi yang ternyata sama-sama keren, meski berbeda

ilustrasi ube latte (unsplash.com/Coffeefy Workafe)

Ube kaya akan vitamin C, potasium, dan antioksidan terutama antosianin yang merupakan pigmen ungu alaminya. Itulah yang membuatnya benar-benar berwarna ungu pekat dari dalam. Kandungan antioksidan ini dipercaya punya manfaat baik untuk melawan radikal bebas dan menjaga kesehatan jantung. Taro di sisi lain unggul dalam kandungan serat makanan, mangan, dan berbagai vitamin B kompleks yang baik untuk sistem pencernaan dan energi harian. Keduanya tergolong pangan dengan indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih, jadi lumayan ramah untuk kamu yang lagi jaga asupan gula, kok.

Tentu saja, kandungan gizi ini terkandung pada ubi yang masih alami dan belum dicampur banyak gula atau lemak tambahan, ya. Ube latte dengan 5 sendok gula pasir dan whipped cream tebal itu ceritanya sudah beda lagi. Begitu pula taro bubble tea yang kebanjiran susu kental manis. Tentu saja manfaat gizinya sudah bergeser jauh dari versi originalnya. Jadi, gak sehat, deh!

Buat kamu yang suka baking, kamu harus bisa melihat perbedaan ube dan taro biar sesuai ekspektasimu saat memasak. Oh iya, kalau budget sedang mepet tapi tetap ingin kreasi ungu yang enak, taro jadi pilihan yang lebih ekonomis dan lebih mudah ditemukan di sekitarmu. Kalau kamu ingin warna ungu natural yang lebih intens dan rasa yang lebih manis tanpa banyak tambahan, berburu ube atau produk olahannya memang jadi jawaban yang tepat.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team