Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Satu Spatula untuk Semua Masakan Ternyata Berbahaya, Ini Penjelasannya
ilustrasi spatula (unsplash.com/vojtech Havlis)

Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan memakai satu spatula untuk seluruh proses memasak daging ternyata menyimpan risiko besar, lho. Banyak orang fokus memastikan daging matang sempurna, tapi lupa bahwa alat masak juga bisa jadi sumber perpindahan bakteri.

Saat spatula yang sama dipakai dari kondisi daging masih mentah sampai siap saji, peluang kontaminasi silang jadi terbuka lebar. Bakteri dari cairan daging mentah bisa kembali menempel ke makanan yang sudah hampir matang atau pindah ke permukaan dapur.

Masalahnya, proses ini sering terjadi tanpa tanda apa pun sehingga terasa aman-aman saja. Padahal, perubahan kebiasaan kecil di dapur bisa sangat berpengaruh untuk menjaga kesehatan seluruh orang rumah. Yuk, cek apakah selama ini kamu masih melakukan kebiasaan dapur yang satu ini.

1. Satu alat bisa memicu kontaminasi silang

ilustrasi masak daging (freepik.com/johnstocker)

Saat spatula atau penjepit menyentuh daging mentah, permukaannya bisa langsung terpapar bakteri. Bakteri dari cairan daging mentah ini gak selalu terlihat, jadi banyak orang merasa alatnya masih aman dipakai terus. Padahal, ketika alat yang sama dipakai membalik daging yang sudah hampir matang, bakteri bisa berpindah lagi ke permukaan makanan. Inilah yang disebut kontaminasi silang, salah satu penyebab paling umum gangguan akibat makanan.

Gary Acuff, profesor emeritus mikrobiologi pangan dari Texas A&M University menjelaskan bahwa alat masak yang menyentuh daging mentah berpotensi mencemari kembali makanan matang. Menurut penjelasannya, proses ini termasuk jalur paling mudah yang bikin seseorang atau tamunya jatuh sakit. Risiko ini memang terlihat kecil, tapi justru sering terjadi karena orang merasa masak di wajan panas sudah otomatis aman. Faktanya, masalahnya sering muncul dari alat yang dipakai berulang tanpa diganti.

2. Panas wajan belum tentu membersihkan spatula

ilustrasi masak daging bacon dan telur (freepik.com/Drazen Zigic)

Banyak orang mengira spatula yang sesekali menyentuh wajan otomatis steril karena terkena panas. Logikanya memang masuk akal, tapi kenyataannya belum tentu begitu. Ujung spatula atau penjepit biasanya hanya menyentuh permukaan panas beberapa detik saja. Waktu sesingkat itu belum cukup untuk membunuh semua patogen bawaan makanan.

Gary Acuff juga menerangkan bahwa kadang hanya diperlukan sedikit sel bakteri untuk memicu sakit perut. Artinya, walaupun jumlah bakterinya gak banyak, tetap ada peluang bikin tubuh bereaksi. Apalagi kalau daging yang kamu masak berupa burger, steak, atau ayam yang cairannya gampang menempel ke alat. Jadi, jangan mengandalkan panas wajan sebagai “pembersih otomatis” untuk alat masak, ya.

3. Bahaya justru sering pindah ke meja dapur

ilustrasi dapur (vecteezy.com/Ace Steel D)

Masalah terbesar sering kali bukan pada makanan yang masih terus dimasak, melainkan pada permukaan lain di dapur. Saat spatula bekas daging mentah kamu taruh di meja, piring, atau tatakan sendok, bakteri bisa menempel di sana. Nanti ketika alat lain atau makanan matang menyentuh area itu, bakteri bisa ikut berpindah. Situasi ini sering terjadi tanpa disadari karena dapur terlihat tetap bersih. Inilah alasan kenapa penggunaan satu alat saja sepanjang proses memasak bisa jadi berbahaya. Bukan cuma daging yang terancam, tapi saus, sayuran, roti burger, bahkan tanganmu juga bisa ikut terpapar.

Gary Acuff menilai cara paling aman adalah memisahkan alat untuk daging mentah dan alat untuk makanan yang sudah hampir matang. Kebiasaan sederhana ini bisa memangkas risiko kontaminasi dengan sangat efektif.

4. Daging beku juga tetap harus diperlakukan seperti mentah

ilustrasi daging beku (vecteezy.com/R2 Studio)

Banyak orang lebih santai saat memegang daging beku karena gak ada cairan merah yang menetes ke mana-mana. Padahal, tampilannya yang “bersih” sering bikin orang lengah. Bakteri tetap bisa ada di permukaan daging beku, lalu berpindah ke spatula, tangan, atau meja dapur. Jadi perlakuannya harus sama seperti daging segar mentah.

Menurut studi USDA, hampir seperempat orang salah menilai produk ayam beku mentah sebagai makanan yang sudah matang sebagian. Tampilan tepung roti atau bekas garis panggangan sering mengecoh sehingga orang merasa cukup memanaskannya sebentar saja. Gary Acuff menjelaskan bahwa salah satu gigitan saja sudah cukup untuk menimbulkan penyakit akibat makanan. Itu sebabnya membaca label kemasan dan memisahkan alat masak tetap wajib dilakukan.

5. Solusi paling simpel: siapkan dua alat sejak awal

ilustrasi dapur (unsplash.com/Becca Tapert)

Kalau kamu sering masak burger, sate, ayam, atau steak, biasakan siapkan dua spatula atau dua penjepit sekaligus. Satu alat khusus untuk memegang daging saat masih mentah, satu lagi untuk membalik setelah setengah matang. Cara ini memang bikin cucian bertambah sedikit, tapi jauh lebih aman untuk kesehatan. Dibanding harus menanggung sakit perut, langkah ini jelas lebih worth it.

Kebiasaan kecil ini juga bikin proses masak lebih rapi dan higienis. Kamu jadi gak perlu waswas alat yang sama menyentuh makanan matang atau meja dapur. Setelah terbiasa, cara ini justru terasa lebih praktis karena alur masak jadi jelas. Intinya, sedikit tambahan effort di dapur bisa jadi penyelamat buat kamu dan orang rumah.

Memakai satu spatula untuk semua proses memasak memang terlihat simpel, tapi risikonya gak sesederhana itu. Kontaminasi silang dari daging mentah ke makanan matang atau permukaan dapur bisa terjadi hanya dalam hitungan detik. Dengan menyiapkan dua alat masak terpisah, kamu sudah mengambil langkah penting untuk menjaga makanan tetap aman.

Jadi, mulai sekarang jangan cuma fokus pada tingkat kematangan makanan saja ya, tapi juga kebersihan alat yang kamu pakai. Kebiasaan kecil ini bisa jadi pembeda antara masakan lezat dan masalah kesehatan yang gak diharapkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team