potret kerupuk seblak (commons.wikimedia.org/Seblak.janghaji)
Seblak menemukan bentuk paling populer ketika pedagang mulai memodifikasi bahan serta tingkat kepedasan menyesuaikan selera masyarakat urban. Kehadiran kerupuk berwarna merah oranye, tambahan bakso, sayuran, ceker, makaroni, mi basah, sampai batagor membuat sajian ini semakin digemari. Tekstur kenyal berpadu kuah pedas hangat menjadi kombinasi ideal untuk iklim Bandung yang relatif sejuk sehingga konsumen merasa hangat ketika menyantapnya. Kreativitas pedagang kaki lima kemudian menjadikan seblak sebagai hidangan fleksibel yang dapat diisi topping apa saja sesuai preferensi pembeli.
Perkembangan tersebut dibarengi kemunculan seblak kering yang menyerupai keripik pedas sehingga makanan ini bisa dibawa bepergian tanpa repot. Produk kemasan mulai diproduksi, memudahkan distribusi ke kota lain sampai akhirnya masuk ke platform digital. Seblak pun berubah dari makanan lokal menjadi fenomena nasional karena masyarakat di berbagai provinsi dapat mencoba tanpa harus datang ke Bandung secara langsung. Pengaruh budaya urban yang terus bergerak membuat varian baru muncul tanpa henti sehingga konsumen tidak pernah kehabisan pilihan ketika ingin mencicipi rasa pedas seblak yang memanjakan lidah. Bahkan belakangan, seblak mulai merambah mancanegara. Lewat platform TikTok diketahui bahwa seblak mulai digemari di Thailand.
Kamu bisa melihat bagaimana sebuah jajanan sederhana mampu memicu rasa penasaran besar ketika jejaknya tersebar di penjuru negeri. Rasa penasaran mengenai sejarah asal usul seblak justru membuat makanan ini terasa lebih menarik karena setiap daerah memiliki cerita yang berbeda. Apakah kamu sendiri termasuk salah satu pencinta seblak?