Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi memakan kue
ilustrasi memakan kue (pexels.com/Ivan S)

Intinya sih...

  • Respons tubuh terhadap rasa manis

  • Membantu memberi rasa selesai setelah makan

  • Pengaruh tradisi dan sejarah kuliner

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menikmati hidangan penutup yang manis setelah menyantap makanan berat sudah menjadi tradisi kuliner yang mendunia sejak ratusan tahun lalu. Dessert menjadi penutup yang dinanti setelah makanan utama yang gurih atau asin. Penempatan makanan manis di akhir sesi makan ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan lidah serta kenyamanan perut.

Kebiasaan menyajikan dessert di akhir makan tidak muncul begitu saja. Ada alasan fisiologis, psikologis, dan budaya yang saling berkaitan satu sama lain. Urutan ini terbentuk dari cara tubuh merespons rasa serta kebiasaan makan yang berkembang selama ratusan tahun di berbagai peradaban. Yuk, simak penjelasan mengenai kenapa dessert disajikan terakhir dalam urutan makanan!

1. Respons tubuh terhadap rasa manis

ilustrasi memakan kue (freepik.com/benzoix)

Tubuh manusia merespons rasa manis secara berbeda dibandingkan rasa lain seperti asin atau pahit. Setelah mengonsumsi makanan gurih atau berlemak, lidah mengalami penurunan sensitivitas terhadap rasa tersebut secara bertahap. Rasa manis kemudian terasa lebih menonjol, bersih, dan memuaskan saat muncul di akhir makan sebagai kontras alami dari hidangan sebelumnya.

Selain itu, konsumsi gula memicu pelepasan dopamine yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan emosional. Efek ini terasa lebih kuat ketika tubuh sudah kenyang, rileks, dan tidak lagi fokus pada rasa lapar. Oleh karena itu, dessert di akhir makan memberikan sensasi penutup yang menyenangkan, membantu memperbaiki suasana hati, serta meninggalkan kesan positif setelah proses makan selesai.

2. Membantu memberi rasa selesai setelah makan

ilustrasi makan bersama (unsplash.com/logan jeffrey)

Dessert berperan sebagai penanda bahwa sesi makan telah mencapai tahap akhir. Rasa manis memberikan kontras yang jelas dibandingkan hidangan sebelumnya yang cenderung gurih atau asin. Kontras ini membantu otak mengenali transisi dari aktivitas makan ke aktivitas berikutnya secara alami, perlahan, dan tanpa terasa mendadak setelah rangkaian hidangan utama.

Tanpa penutup manis, makan sering terasa menggantung atau belum sepenuhnya tuntas bagi banyak orang. Inilah sebabnya dessert dianggap sebagai elemen penting dalam pengalaman makan secara keseluruhan, bukan sekadar tambahan rasa. Secara psikologis, urutan ini memberi struktur yang jelas, rasa puas, kesan penutupan yang lebih utuh.

3. Pengaruh tradisi dan sejarah kuliner

ilustrasi restoran (pexels.com/Valeria Boltneva)

Dalam sejarah kuliner Eropa, hidangan manis awalnya disajikan terpisah dari makanan utama. Seiring waktu, dessert berkembang menjadi simbol kemewahan, perayaan, dan status sosial kalangan bangsawan. Penyajiannya di akhir makan menegaskan posisinya sebagai hidangan istimewa yang dinantikan.

Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai budaya melalui perdagangan, kolonialisme, dan pertukaran resep antarwilayah. Meski bentuk dessert berbeda beda di setiap daerah, posisinya sebagai penutup tetap bertahan kuat. Kebiasaan ini akhirnya dianggap sebagai standar dalam penyajian makanan modern hingga sekarang di banyak negara.

4. Menyesuaikan dengan kerja pencernaan

ilustrasi memakan dessert (freepik.com/freepik)

Makanan utama umumnya lebih berat dan membutuhkan waktu cerna lebih lama dibandingkan hidangan lain. Menyajikan dessert di akhir membantu tubuh memproses makanan secara bertahap dan lebih teratur sepanjang proses pencernaan alami. Rasa manis yang ringan terasa lebih nyaman saat perut sudah terisi makanan utama dan tidak lagi berada dalam kondisi lapar aktif.

Selain itu, dessert biasanya disajikan dalam porsi kecil dan tidak terlalu mengenyangkan. Hal ini mencegah rasa terlalu penuh yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan setelah makan berat. Urutan ini membuat pengalaman makan terasa lebih seimbang, lebih terkontrol, dan tidak membebani sistem pencernaan secara berlebihan dalam jangka waktu lama setelah makan selesai.

Dessert disajikan terakhir dalam urutan makanan bukan sekadar kebiasaan tanpa alasan. Respons tubuh terhadap rasa manis, kebutuhan psikologis akan penutup, serta pengaruh sejarah kuliner semuanya saling berperan. Urutan ini terbukti memberi pengalaman makan yang lebih lengkap dan memuaskan secara keseluruhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team