Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Nasi Jaha Masuk Kekayaan Intelektual Komunal yang Dilindungi Negara
Potret nasi jaha (commons.wikimedia.org/Supardisahabu)
  • Nasi jaha resmi ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal oleh DJKI Kemenkumham untuk melindungi warisan kuliner tradisional Maluku Utara agar tetap diakui secara hukum.
  • Perlindungan ini bertujuan menjaga kekayaan budaya daerah serta mencegah klaim sepihak, dengan dukungan penting dari pemerintah daerah dan masyarakat dalam pelestarian KI Komunal.
  • Nasi jaha menjadi simbol tradisi dan identitas budaya masyarakat Sulawesi Utara, mencerminkan nilai gotong royong serta keharmonisan antara manusia, alam, dan tradisi melalui proses pembuatannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nasi jaha, makanan khas dari Maluku Utara ini resmi ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual (KI) Komunal oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Penetapan ini menjadi langkah penting dalam melindungi warisan kuliner tradisional, agar tetap terjaga dan diakui secara hukum.

Sebagai salah satu hidangan khas, nasi jaha merupakan olahan tradisional yang kerap hadir dalam berbagai momen penting. Termasuk sebagai menu berbuka puasa bagi masyarakat Maluku Utara. Cita rasanya yang gurih dengan aroma khasnya menjadikan nasi jaha sebagai sajian yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga sarat nilai budaya.

Dalam pencatatannya, nasi jaha masuk sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dalam kategori pengetahuan tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa resep, cara pengolahan, hingga nilai budaya di dalamnya merupakan bagian dari kearifan lokal.

1. Bahan dasar nasi jaha

Melansir dari situs resmimalut.kemenkum.go.id, nasi jaha terbuat dari bahan dasar beras ketan, beras putih, jahe, santan, daun jeruk, pandan, dan serai. Bahan dasar tersebut diisi ke dalam batang bambu berlapis daun pisang muda, kemudian dibakar.

Proses pembakaran ini memberikan aroma khas yang menggoda. Menjadikan nasi jaha memiliki cita rasa yang unik dan sulit ditiru hidangan lain. Nasi Jaha menjadi menu sehari-hari dan sering disajikan pada acara tradisional di Ternate dan daerah lain di Maluku Utara.

2. Tujuan perlindungan

Potret memasak nasi jaha dengan bambu (vecteezy.com/Bigc Studio)

Penetapan nasi jaha sebagai Kekayaan Intelektual Komunal tidak lepas dari upaya untuk menjaga dan melindungi kekayaan budaya daerah. Perlindungan ini juga bertujuan untuk mencegah klaim sepihak terhadap warisan kuliner Indonesia.

Hal tersebut juga ditegaskan pihak Kementerian Hukum mengenai pentingnya peran berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan Kekayaan Intelektual Komunal.

“Potensi tersebut patut dilindungi melalui pencatatan pada Kementerian Hukum melalui DJKI. Peran pemerintah daerah dan masyarakat sangat penting untuk mendukung pelindungan Kekayaan Intelektual, agar tidak diklaim daerah lain,” ujar Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, dalam keterangannya di situs resmi Kantor Wilayah Kemenkum RI Provinsi Maluku Utara.

3. Bagian dari tradisi dan identitas budaya

Nasi jaha bukan sekadar makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya masyarakat Bolaang Mongondow, Minahasa, dan etnis-etnis lain di Sulawesi Utara.

Proses pembuatannya yang menggunakan bahan sederhana memerlukan ketelatenan. Tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga kerja sama, sehingga mencerminkan nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Nasi jaha kerap menjadi hidangan wajib dalam berbagai acara adat seperti pernikahan, syukuran, hingga perayaan keagamaan. Kehadirannya melambangkan penghormatan kepada tamu, sekaligus ungkapan rasa syukur atas kebersamaan dan rezeki yang diterima.

Selain itu, nasi jaha juga sering menjadi sebagai oleh-oleh khas dari Sulawesi Utara. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keterkaitan makanan ini dengan identitas daerah. Meski terlihat sederhana, nasi jaha memiliki filosofi mendalam tentang harmoni antara manusia, alam, dan tradisi yang terus dijaga hingga kini.

Nah, kamu sendiri sudah pernah mencicipi nasi jaga, belum? Jangan lupa mencicipinya saat liburan ke Maluku Utara, ya!

Editorial Team