Comscore Tracker

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para Turis

Pusat kuliner ini berada di dekat Keraton Yogyakarta

Gudeg menjadi makanan khas sekaligus buah tangan yang kerap dicari wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta. Perpaduan rasa manis dan pedas dari nangka muda yang direbus dengan santan dan gula aren, serta sambal krecek, bikin ngiler seketika. 

Di Yogyakarta, salah satu pusat kuliner dan oleh-oleh gudeg yang terkenal adalah Sentra Gudeg Wijilan yang tak jauh dari Kompleks Keraton Yogyakarta. Banyak penjual yang menjajakan makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah, sehingga tak pernah sepi dari pengunjung.

1. Berada di dalam kawasan "beteng"

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para Turisinstagram.com/kartikaholly

Keraton Yogyakarta dalam laman resminya menjelaskan terdapat dua jenis tembok benteng yang dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai pelindung dari musuh.

Tembok cepuri dipakai sebagai pelapis dalam yang mengelilingi kawasan keraton. Sementara itu, tembok baluwarti atau beteng yang lebih kokoh dan luas dibuat untuk melindungi kawasan tempat tinggal kerabat Sultan, sekaligus pemukiman abdi dalem.

Saat ini, wilayah dalam beteng atau jeron beteng dipenuhi pemukiman dan toko. Sentra Gudeg Wijilan pun terletak di kawasan ini, tepatnya di Jalan Wijilan, Kota Yogyakarta.

2. Dekat dengan "Plengkung Tarunasura"

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para Turisinstagram.com/kartikaholly

Karena berada di dalam kawasan beteng, maka siapa pun yang datang ke sentra ini dari arah utara bakal melewati Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan. Plengkung merupakan pintu masuk benteng yang dilengkapi dua gardu jaga dan empat tempat meriam.

Ki Sabdacarakatama dalam Sejarah Keraton Yogyakarta (2009) mengatakan terdapat lima plengkung yang tersebar di lima titik. Kini, hanya Plengkung Wijilan dan Plengkung Gading  yang masih dalam keadaan utuh berbentuk gerbang melengkung.

Baca Juga: Tugu Golong-Gilig, Cikal Bakal Tugu Putih yang Jadi Ikon Yogyakarta 

3. Sejarah menjadi sentra gudeg

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para TurisIDN Times/Nindias Khalika

Kisah terbentuknya pusat kuliner gudeg di Wijilan, menurut berbagai sumber, dimulai ketika seorang penjual bernama Ibu Slamet merintis usaha warung gudeg pada tahun 1942.

Beberapa tahun kemudian, muncul tempat makan gudeg milik Ibu Djuwariah atau Yu Djum dan Warung Gudeg Campur Sari. Pada tahun 1980, Warung Gudeg Campur Sari tutup, tetapi tempat makan lain seperti warung gudeg Bu Lies dan lain-lain buka di sana. Hingga saat ini, toko gudeg milik Yu Djum, Bu Slamet, dan Bu Lies masih bisa ditemui di Sentra Gudeg Wijilan. 

Baca Juga: 10 Tempat Nongkrong di Yogyakarta, Nyaman dan Murah Meriah!

4. Cita rasa gudeg Wijilan

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para TurisInstagram.com/tyabastiana

Gudeg di Sentra Gudeg Wijilan memiliki rasa yang hampir mirip, yakni manis. Selain makan di tempat, kamu bisa membawa gudeg di sentra sebagai buah tangan, karena tidak mudah basi dan mampu tahan selama tiga hari.      

Berbeda dengan gudeg Solo yang basah, gudeg di kawasan ini justru kering karena tidak menggunakan areh yang diencerkan. Areh merupakan kuah santan kental yang biasanya disajikan dengan cara disiram di atas nasi atau lauk. Di daerah lain seperti Solo, areh yang dipakai berbentuk encer, sehingga tak kering seperti gudeg Wijilan.

5. Dipakai sebagai "ubo rampe" acara Keraton

Mengenal Kampung Wijilan, Sentra Gudeg Yogyakarta Incaran Para TurisInstagram.com/pawonyusur

Selain menjadi santapan dan oleh-oleh, Syafaruddin Murbawono dalam Monggo Mampir: Mengudap Rasa Secara Jogja (2009), mengatakan gudeg Wijilan dulunya dipakai sebagai ubo rampe keperluan keluarga Sultan saat melakukan kembul bujono.

Kembul bujono merupakan istilah untuk menamai kegiatan makan bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Tak hanya mengisi perut, aktivitas ini juga melambangkan kekompakan dan kerukunan.

Wah, ternyata gak cuma enak ya, gudeg Wijilan juga sarat makna. Kamu sudah pernah cobain, belum? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar ya!

Baca Juga: 7 Gudeg Tengah Malam di Yogyakarta, Enaknya Bikin Antrean Mengular

yummy-banner

Topic:

  • Dewi Suci R.

Berita Terkini Lainnya