Ilustrasi mengambil gawai (pexels.com/Eren Li)
Langkah pertama dalam mengatasi cyberchondria adalah membatasi waktu pencarian informasi kesehatan di internet. Kamu bisa menetapkan batas waktu maksimal 15-20 menit dan hanya mengakses situs kesehatan terpercaya seperti website rumah sakit atau organisasi kesehatan resmi.
Di samping itu, berkonsultasi langsung dengan dokter tetap menjadi pilihan terbaik ketika mengalami keluhan kesehatan. Jika kecemasan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Kesehatan mentalmu sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Memahami fenomena cyberchondria dapat membantumu menjadi pengguna internet yang lebih bijak. Dengan pengetahuan yang tepat, kamu bisa memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif tanpa harus terjebak dalam kecemasan yang gak perlu.
Sumber referensi:
https://www.summahealth.org/flourish/entries/2020/02/get-the-facts-on-cyberchondria
https://www.psychologytoday.com/us/blog/fulfillment-any-age/201609/5-ways-tell-if-you-have-cyberchondria
https://bcmj.org/premise/am-i-cyberchondriac
Vismara, M., Varinelli, A., Pellegrini, L., Enara, A., & Fineberg, N. A. (2022). New challenges in facing cyberchondria during the coronavirus disease pandemic. Current opinion in behavioral sciences, 46, 101156. https://doi.org/10.1016/j.cobeha.2022.101156
Schenkel, S. K., Jungmann, S. M., Gropalis, M., & Witthöft, M. (2021). Conceptualizations of Cyberchondria and Relations to the Anxiety Spectrum: Systematic Review and Meta-analysis. Journal of medical Internet research, 23(11), e27835. https://doi.org/10.2196/27835
https://www.sciencedaily.com/releases/2015/05/150506095710.htm
Starcevic V. (2023). Keeping Dr. Google under control: how to prevent and manage cyberchondria. World psychiatry : official journal of the World Psychiatric Association (WPA), 22(2), 233–234. https://doi.org/10.1002/wps.21076