TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Syok Neurogenik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan

Paling umum disebabkan oleh cedera tulang belakang

ilustrasi cedera tulang belakang (freepik.com/jcomp)

Syok neurogenik (neurogenic shock) adalah kondisi tubuh kesulitan menjaga detak jantung, tekanan darah, dan suhu stabil karena kerusakan pada sistem saraf setelah cedera tulang belakang.

Seperti jenis syok lainnya, ini adalah kondisi serius yang bisa berakibat fatal karena aliran darah terlalu rendah. Tanpa aliran darah normal, sel-sel tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaannya. Syok neurogenik harus segera ditangani.

1. Apa itu syok neurogenik?

Sebelum membahas syok neurogenik lebih mendalam, mari kenali dulu beberapa jenis syok:

  • Syok hipovolemik: Syok akibat kehilangan darah.
  • Syok distributif: Syok akibat volume cairan internal yang tidak seimbang.
  • Syok kardiogenik: Syok akibat jantung tidak berfungsi dengan baik.
  • Syok obstruktif: Syok akibat penyumbatan pembuluh darah utama atau jantung.

Syok neurogenik adalah subtipe dari syok distributif, sering merupakan efek samping dari cedera tulang belakang, seperti dilansir WebMD. Sementara semua jenis syok butuh perhatian medis yang cepat, syok neurogenik harus ditangani secepat mungkin.

Syok neurogenik terjadi ketika pembuluh darah berhenti bekerja dengan baik dan tidak mendorong cukup darah ke seluruh tubuh. Penderitanya tidak mengalami kehilangan darah, melainkan darah tidak bersirkulasi dengan benar. Darah menggenang di pembuluh darah dan tekanan darah turun secara signifikan.

Penyebab syok neurogenik biasanya adalah cedera tulang belakang. Ketika saraf di sumsum tulang belakang rusak, mereka berhenti mengirimkan pesan ke saraf yang mengontrol fungsi lain di dalam tubuh. Jika sinyal saraf ke otot di pembuluh darah tidak bekerja, maka pembuluh berhenti bekerja dengan baik.

Stroke atau gumpalan darah yang mencegah sirkulasi darah juga dapat menyebabkan syok neurogenik. Dalam kasus yang jarang, orang mengalami syok neurogenik sebagai reaksi terhadap anestesi spinal. Ini juga bisa menjadi efek samping dari beberapa obat atau infeksi otak, seperti meningitis.

2. Penyebab

ilustrasi tulang belakang (unsplash.com/ Joyce McCown)

Menurut publikasi StatPearls, penyebab syok neurogenik yang paling umum adalah cedera tulang belakang. Ini bisa terjadi ketika kamu mengalami cedera punggung atau leher, misalnya saat jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor.

Syok neurogenik terjadi setelah 19,3 persen cedera yang memengaruhi tulang belakang leher dan 7 persen dari cedera yang memengaruhi tulang belakang dada.

Penyebab syok neurogenik lainnya yang kurang umum meliputi:

  • Kerusakan saraf.
  • Sindrom Guillain-Barre.
  • Tindakan anestesi tulang belakang yang tidak tepat.
  • Mielitis transversal, yaitu pembengkakan sumsum tulang belakang.
  • Toksin yang merusak sistem saraf otonom.

3. Gejala

Salah satu gejala utama syok neurogenik adalah tekanan darah rendah akibat sirkulasi darah yang tidak teratur. Namun, dipaparkan dalam laman Healthline, kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah gejala lain, seperti:

  • Pusing.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Tatapan kosong.
  • Pingsan.
  • Peningkatan keringat.
  • Kecemasan.
  • Kulit pucat.

Dalam kasus syok neurogenik yang lebih parah, dapat terjadi:

  • Sulit bernapas.
  • Nyeri dada.
  • Kelemahan akibat sirkulasi darah yang tidak teratur.
  • Bradikardia (irama jantung yang lebih lambat).
  • Denyut nadi lemah.
  • Sianosis (bibir dan jari berubah warna).
  • Hipotermia.

Jika tidak diobati, syok neurogenik dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang tidak dapat diperbaiki dan kematian.

Baca Juga: Syok Hipovolemik: Penyebab, Gejala, Tahapan, Pengobatan

4. Diagnosis

ilustrasi CT scan (pixabay.com/mufidpwt)

Pertama-tama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk gejala tambahan dan memantau tekanan darah. Ada juga sejumlah tes untuk menunjukkan tingkat keparahan cedera yang menyebabkan syok neurogenik.

  • CT scan: Jika seseorang mengalami cedera tulang belakang, CT scan dapat membantu mendiagnosis seberapa parah cedera tersebut, serta dapat membantu dokter mendeteksi perdarahan internal atau kerusakan tambahan.
  • MRI: Ini dapat membantu mendeteksi penyimpangan apa pun pada tulang belakang. Dikombinasikan dengan evaluasi gejala, dokter dapat menggunakan pemindaian MRI untuk mendiagnosis sumber nyeri punggung dan syok neurogenik.
  • Kateter urine: Digunakan untuk mengukur volume urine. Dalam beberapa kasus cedera tulang belakang, seseorang mungkin tidak bisa buang air kecil sendiri atau menderita inkontinensia. Lewat tes urine, dokter juga bisa mendeteksi tanda-tanda infeksi.

5. Penanganan

Penanganan syok neurogenik mungkin melibatkan:

  • Menstabilkan tulang belakang: Dokter dapat menahan pasien dengan aman di tempatnya, mencegah cedera lebih lanjut pada sumsum tulang belakang.
  • Cairan intravena (IV): Dokter dapat mengobati tekanan darah rendah dengan resusitasi cairan IV. Ini membantu darah bersirkulasi seperti biasa dan mengantarkan oksigen ke organ.
  • Vasopresor: Jenis obat ini menyebabkan pembuluh darah berkontraksi, meningkatkan tekanan darah.
  • Obat lain: Dokter mungkin menggunakan obat seperti atropin untuk meningkatkan detak jantung pasien.
  • Pembedahan: Ini mungkin diperlukan untuk mendekompresi tulang belakang atau mengobati cedera tulang belakang.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya