Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Mi Instan Lama Dicerna Tubuh? Ini Faktanya
ilustrasi mi instan (unsplash.com/Mufid Majnun)
  • Mi instan termasuk makanan ultraproses yang mengalami banyak tahapan pengolahan, sehingga struktur fisiknya berbeda dari mi segar.

  • Penelitian menunjukkan mi instan dicerna lebih lambat dibanding mi biasa, terutama karena proses penggorengan dan struktur pati yang berubah.

  • Komposisi lemak, garam, dan aditif dalam mi instan dapat memengaruhi proses pencernaan dan metabolisme tubuh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Popularitas mi instan diiringi berbagai pertanyaan tentang nutrisi dan dampaknya bagi kesehatan. Salah satu yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa mi instan sulit dicerna oleh tubuh. Ada pula klaim mi instan bisa bertahan lama di dalam lambung.

Pertanyaan ini sebenarnya tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sesederhana yang dibayangkan. Proses pencernaan mi instan memang memiliki karakteristik berbeda dibanding makanan yang lebih minim proses. Perbedaan ini berkaitan dengan struktur fisik mi instan, cara produksinya, dan klasifikasinya sebagai makanan ultraproses.

Struktur mi instan

Mi instan biasanya dibuat dari tepung terigu, air, garam, dan bahan tambahan seperti pengental atau pengatur tekstur. Setelah adonan dibentuk menjadi mi, produk ini kemudian dikukus dan digoreng cepat (flash frying) sebelum dikeringkan. Proses penggorengan inilah yang membedakan mi instan dari mi segar atau mi kering biasa. Teknik deep-frying pada mi instan menciptakan struktur berpori di dalam mi yang memungkinkan air masuk dengan cepat saat dimasak kembali.

Struktur ini membuat mi instan cepat matang dalam air panas. Namun di sisi lain, penggorengan juga meningkatkan kandungan lemak dalam mi dan memengaruhi struktur pati di dalamnya.

Pati pada tepung terigu mengalami proses yang disebut gelatinisasi dan retrogradasi, yaitu perubahan struktur molekul akibat panas dan pendinginan. Perubahan ini dapat memengaruhi seberapa cepat enzim pencernaan memecah karbohidrat di dalam mi.

Temuan penelitian tentang bagaimana mi instan dicerna

ilustrasi makan mi instan (vecteezy.com/Lalita Somrat)

Salah satu penelitian yang sering dikutip berasal dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School yang menggunakan kapsul endoskopi untuk mengamati proses pencernaan makanan di lambung manusia.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan mi instan dengan mi segar. Hasilnya menunjukkan bahwa mi instan cenderung tetap mempertahankan bentuknya lebih lama di lambung, sementara mi segar lebih cepat terurai selama proses pencernaan.

Para peneliti menjelaskan bahwa struktur mi instan yang telah digoreng dan mengalami banyak proses pengolahan dapat membuatnya lebih lambat dipecah oleh enzim pencernaan. Namun penting untuk dipahami bahwa lebih lambat dicerna bukan berarti makanan tersebut tidak bisa dicerna. Tubuh tetap mampu memecah dan menyerap nutrisinya, hanya saja prosesnya bisa sedikit berbeda dibanding makanan yang lebih alami.

Mi instan dan konsep makanan ultraproses

Dalam ilmu gizi modern, mi instan sering dikategorikan sebagai makanan ultraproses menurut sistem klasifikasi NOVA.

Makanan ultraproses adalah produk yang mengalami banyak tahap pengolahan industri dan biasanya mengandung tambahan seperti emulsifier, penguat rasa, atau pengawet.

Proses pengolahan ini tidak hanya memengaruhi kandungan gizi, tetapi juga struktur fisik makanan.

Menurut studi, perubahan struktur makanan akibat pengolahan industri dapat memengaruhi bagaimana makanan dicerna dan diserap oleh tubuh. Struktur yang lebih padat atau kompleks dapat memperlambat kerja enzim pencernaan.

Pada mi instan, kombinasi tepung olahan, penggorengan, dan penambahan lemak berkontribusi pada perubahan struktur tersebut.

Faktor lain yang memengaruhi pencernaan mi instan

ilustrasi makan mi instan (vecteezy.com/Piti Petdum)

Selain struktur mi, beberapa faktor lain juga memengaruhi bagaimana tubuh mencernanya.

  • Kandungan lemak. Mi instan goreng biasanya mengandung lemak dari proses penggorengan. Lemak diketahui dapat memperlambat pengosongan lambung, sehingga makanan bertahan sedikit lebih lama di dalam lambung. Makanan tinggi lemak dapat memperlambat laju pengosongan lambung dibanding makanan rendah lemak.

  • Kandungan natrium tinggi. Bumbu mi instan sering mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Konsumsi natrium berlebih tidak secara langsung memengaruhi pencernaan, tetapi dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang seperti tekanan darah.

  • Rendah serat. Sebagian besar mi instan memiliki kandungan serat yang rendah. Padahal, serat berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan dan membantu pergerakan usus.

Jadi, apakah makan mi instan berbahaya?

Mi instan bukanlah makanan yang secara otomatis berbahaya bagi tubuh. Tubuh manusia memiliki sistem pencernaan yang sangat efisien dan mampu memproses berbagai jenis makanan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultraproses secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kronis seperti obesitas, penyakit jantung, dan diabetes.

Karena itu, mi instan sebaiknya diposisikan sebagai makanan yang dikonsumsi sesekali, bukan sebagai makanan utama sehari-hari.

Menambahkan sumber protein seperti telur atau ayam serta sayuran juga dapat membantu meningkatkan nilai gizi mi instan dan membuatnya lebih seimbang.

Karakteristik mi istan berbeda dari mi segar. Proses penggorengan dan pengolahan industri mengubah struktur fisiknya sehingga dapat memengaruhi bagaimana makanan tersebut dicerna oleh tubuh.

Mi instan dapat bertahan sedikit lebih lama di lambung dibanding mi segar, tetapi ini tidak berarti tubuh tidak mampu mencernanya. Sistem pencernaan manusia tetap dapat memecah dan menyerap nutrisi dari makanan ini.

Yang lebih penting adalah memahami posisi mi instan dalam pola makan. Sebagai makanan ultraproses, mi instan sebaiknya dikonsumsi sesekali dan diimbangi dengan makanan yang lebih segar dan bernutrisi agar kesehatan pencernaan tetap terjaga.

Referensi

Neelam Gulia, Vandana Dhaka, and B. S. Khatkar, “Instant Noodles: Processing, Quality, and Nutritional Aspects,” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 54, no. 10 (May 14, 2013): 1386–99, https://doi.org/10.1080/10408398.2011.638227.

Jin Wang et al., “Effect of Frying Process on Nutritional Property, Physicochemical Quality, and in Vitro Digestibility of Commercial Instant Noodles,” Frontiers in Nutrition 9 (February 17, 2022): 823432, https://doi.org/10.3389/fnut.2022.823432.

"This video will make you want to drop instant noodles from your diet." Study International. Diakses Maret 2026.

Leonie Elizabeth et al., “Ultra-Processed Foods and Health Outcomes: A Narrative Review,” Nutrients 12, no. 7 (June 30, 2020): 1955, https://doi.org/10.3390/nu12071955.

Anthony Fardet and Edmond Rock, “Ultra-Processed Foods and Food System Sustainability: What Are the Links?,” Sustainability 12, no. 15 (August 4, 2020): 6280, https://doi.org/10.3390/su12156280.

K. M. Cunningham and N. W. Read, “The Effect of Incorporating Fat Into Different Components of a Meal on Gastric Emptying and Postprandial Blood Glucose and Insulin Responses,” British Journal of Nutrition 61, no. 2 (March 1, 1989): 285–90, https://doi.org/10.1079/bjn19890116.

Editorial Team