Seperti dijelaskan di awal, kucing bukanlah hewan ternak ataupun hewan konsumsi, sehingga tidak memiliki standarisasi jaminan keamanan pangan. Memaksakan makan daging kucing sebagai pengobatan diabetes jelas keliru. Alih-alih diabetes sembuh, daging hewan nonternak mungkin menyebarkan meat borne disease alias penyakit yang ditimbulkan oleh kontaminasi bakteri pada daging yang dikonsumsi.
Infeksi yang dimunculkan dari masalah ini pun beragam, lho. Mulai dari tuberculosis, brucellosis, salmonellosis, staphylococcal meat intoxication, taeniasis, trichinosis, sampai clostridiosis, seluruhnya berdampak buruk bagi kesehatanmu.
Sebagai contoh, salmonellosis atau infeksi salmonella dapat memunculkan gejala diare, demam, hingga rasa sakit pada perut. Begitu juga brucellosis yang menyebabkan demam, berkeringat, sakit punggung, dan fisik yang melemah.
Bahaya makan daging kucing di atas lebih nyata daripada manfaatnya, lho. Pasalnya, belum ada publikasi yang menyatakan bahwa daging kucing bisa obati diabetes. Konsumsi daging hewan peliharaan ini pun tidak etis dan merupakan bentuk pelanggaran kesejahteraan hewan.
Referensi:
Czaja, Raymond, et al. “Consumption of Domestic Cat in Madagascar: Frequency, Purpose, and Health Implications.” Anthrozoös 28, no. 3 (September 2, 2015): 469–82
"Would you eat your pet cat?". Science Direct. Diakses Agustus 2024
"Bukan Ternak Pangan, Bahaya Konsumsi Daging Kucing". Universitas Airlangga. Diakses Agustus 2024
"Food Borne Disease". Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada. Diakses Agustus 2024
"Toxoplasmosis". Cleveland Clinic. Diakses Agustus 2024
"Botulism". World Health Organization. Diakses Agustus 2024
"Foodborne Botulism Fact Sheet". Alaska Division of Public Health. Diakses Agustus 2024
"About Lyme Disease". Centers of Disease Control and Prevention. Diakses Agustus 2024
"Salmonella". Centers of Disease Control and Prevention. Diakses Agustus 2024
"Lyme Disease in Cats". PetMD. Diakses Agustus 2024