Pendekatan yang paling bijak bagi banyak orang adalah moderasi. Bukti ilmiah yang ada tidak mendukung anggapan bahwa satu atau dua kali makan ikan asin akan langsung menyebabkan kanker.
Yang menjadi perhatian dalam penelitian adalah:
Konsumsi rutin dalam jangka panjang.
Paparan sejak masa kanak-kanak.
Jenis ikan asin tertentu.
Kombinasi dengan faktor risiko lain.
Karena itu, beberapa langkah aman yang bisa kamu terapkan di antaranya:
Membatasi konsumsi makanan yang sangat asin.
Perbanyak konsumsi buah dan sayur.
Tidak merokok.
Jaga berat badan sehat.
Periksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan seperti mimisan berulang, benjolan di leher, gangguan pendengaran satu sisi, atau hidung tersumbat yang tidak membaik.
Hubungan antara ikan asin dan kanker nasofaring didukung oleh bukti ilmiah yang cukup kuat, tetapi memahami konteksnya sangat penting.
Sebagian besar penelitian yang menjadi dasar kesimpulan tersebut dilakukan pada ikan asin ala Tiongkok tradisional yang diproduksi dengan metode pengawetan khas di Tiongkok Selatan.
Sampai saat ini belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa jenis ikan asin yang dikonsumsi di Indonesia memiliki tingkat risiko yang sama. Namun, karena beberapa metode pengawetan dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi karsinogenik dan makanan sangat asin juga memiliki dampak kesehatan lain, konsumsilah secara bijak.
Kanker nasofaring bukan penyakit yang disebabkan oleh satu makanan. Faktor genetik, infeksi virus Epstein-Barr, lingkungan, dan pola makan secara keseluruhan berperan bersama dalam menentukan risiko seseorang.
Referensi
IARC Working Group on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans. "Personal Habits and Indoor Combustions. Lyon (FR): International Agency for Research on Cancer; 2012. (IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, No. 100E.) CHINESE-STYLE SALTED FISH." Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK304384/.
World Health Organization (WHO). "Nasopharyngeal Cancer." Diakses Juni 2026.
Ellen T. Chang and Hans-Olov Adami, “The Enigmatic Epidemiology of Nasopharyngeal Carcinoma,” Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention 15, no. 10 (October 1, 2006): 1765–77, https://doi.org/10.1158/1055-9965.epi-06-0353.
IARC Working Group. "Carcinogenicity of Chinese-style Salted Fish." Diakses Juni 2026.
Mimi C. Yu and Jian-Min Yuan, “Epidemiology of Nasopharyngeal Carcinoma,” Seminars in Cancer Biology 12, no. 6 (December 1, 2002): 421–29, https://doi.org/10.1016/s1044579x02000858.
Yet Hua Loh et al., “N-nitroso Compounds and Cancer Incidence: The European Prospective Investigation Into Cancer and Nutrition (EPIC)–Norfolk Study,” American Journal of Clinical Nutrition 93, no. 5 (March 24, 2011): 1053–61, https://doi.org/10.3945/ajcn.111.012377.
National Cancer Institute (NCI). "N-Nitroso Compounds and Cancer." Diakses Juni 2026.
“Nasopharyngeal Carcinoma in Malaysian Chinese: Salted Fish and Other Dietary Exposures,” PubMed, July 17, 1998, https://doi.org/10.1002/(sici)1097-0215(19980717)77:2.
World Cancer Research Fund International. "Diet, Nutrition, Physical Activity and Cancer: a Global Perspective A summary of the Third Expert Report." Diakses Juni 2026.
IARC. WHO. "Indonesia." GLOBOCAN 2022. Diakses Juni 2026.
NCI. "Nasopharyngeal Cancer Treatment." Diakses Juni 2026.