Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
10 Buah Penurun Asam Urat secara Alami, Sudah Tahu Semua?
ilustrasi buah stroberi dan ceri (pexels.com/Nikita Belokhonov)
  • Beberapa buah membantu menurunkan asam urat lewat antioksidan dan vitamin C.

  • Buah tertentu dapat mengurangi peradangan dan risiko serangan gout.

  • Konsumsi buah tetap perlu seimbang, terutama yang mengandung fruktosa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari kekuatan alami buah-buahan dalam membantu menjaga kadar asam urat tetap seimbang. Dengan kandungan vitamin, antioksidan, dan senyawa aktif yang bekerja langsung pada proses metabolisme tubuh, berbagai buah seperti ceri, jeruk, dan semangka menawarkan cara yang menyenangkan sekaligus bermanfaat untuk mendukung kesehatan secara alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengelola asam urat tidak selalu harus bergantung pada obat. Pola makan, termasuk pilihan buah, punya peran dalam membantu menjaga kadar asam urat tetap stabil.

Beberapa buah memiliki manfaat spesifik dalam membantu menurunkan kadar asam urat atau mengurangi risiko kekambuhan. Efek ini berasal dari kandungan vitamin, antioksidan, hingga senyawa aktif yang bekerja langsung pada proses pembentukan dan pembuangan asam urat di tubuh.

Agar tidak salah pilih, ini daftar buah yang dapat membantu menurunkan kadar asam urat secara alami.

1. Ceri

Ceri adalah buah yang paling sering dikaitkan dengan penurunan risiko gout (radang sendi akibat penumpukan kristal asam urat). Kandungan antosianin di dalamnya memiliki efek antiinflamasi kuat yang membantu mengurangi peradangan pada sendi.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ceri berkaitan dengan penurunan risiko serangan gout hingga 35 persen.

Selain itu, ceri juga membantu menurunkan kadar asam urat dengan meningkatkan ekskresi melalui ginjal. Ini membuatnya bukan hanya meredakan gejala, tetapi juga bekerja pada akar masalahnya.

2. Apel

Apel mengandung serat tinggi dan senyawa seperti asam malat yang dipercaya membantu menetralkan asam urat dalam tubuh.

Serat dalam apel juga berperan menyerap kelebihan asam urat dalam darah dan membantu proses eliminasi melalui sistem pencernaan.

Meski efeknya tidak sekuat ceri, tetapi konsumsi apel secara rutin dapat membantu menjaga kestabilan kadar asam urat sebagai bagian dari pola makan sehat seimbang.

3. Jeruk dan buah sitrus

ilustrasi jeruk dan buah sitrus lainnya (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

Jeruk, lemon, dan limau kaya akan vitamin C yang berperan dalam menurunkan kadar asam urat. Vitamin C membantu tubuh membuang asam urat melalui urine.

Studi juga menunjukkan bahwa asupan vitamin C yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan risiko gout pada laki-laki.

Selain itu, sifat alkali dari buah sitrus membantu menyeimbangkan pH tubuh, sehingga mengurangi kecenderungan pembentukan kristal asam urat.

4. Pisang

Pisang rendah purin, sehingga aman dikonsumsi oleh orang yang punya kadar asam urat tinggi. Selain itu, kandungan kalium dalam pisang membantu menjaga fungsi ginjal. Ginjal yang bekerja optimal akan lebih efektif dalam membuang asam urat dari tubuh.

Pisang juga mudah dicerna, sehingga cocok dikonsumsi saat gejala sedang kambuh tanpa memperberat sistem pencernaan.

5. Stroberi

Stroberi mengandung vitamin C tinggi serta antioksidan yang membantu mengurangi peradangan. Antioksidan ini bekerja melawan stres oksidatif yang sering memperparah kondisi gout.

Selain itu, kandungan air yang tinggi membantu menjaga hidrasi, yang penting untuk proses pembuangan asam urat.

6. Semangka

ilustrasi semangka (pexels.com/stayhereforu)

Semangka memiliki kandungan air yang sangat tinggi, sehingga membantu meningkatkan produksi urine. Efek diuretik alami ini membantu tubuh mengeluarkan kelebihan asam urat.

Selain itu, semangka juga mengandung likopen, antioksidan yang berperan dalam mengurangi peradangan.

7. Pir

Pir kaya akan serat dan memiliki indeks glikemik rendah, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis. Ini penting karena kadar gula darah yang tinggi dapat berkaitan dengan peningkatan asam urat.

Pir juga membantu menjaga keseimbangan metabolisme secara keseluruhan.

8. Kiwi

Kiwi mengandung vitamin C dalam jumlah tinggi, bahkan lebih tinggi dari jeruk dalam beberapa kasus. Kandungan ini membantu menurunkan kadar asam urat dan mendukung sistem imun.

Selain itu, kiwi juga mengandung serat dan antioksidan yang mendukung kesehatan metabolik.

9. Nanas

ilustrasi nanas (unsplash.com/Mariah Hewines)

Nanas mengandung enzim bromelain yang memiliki efek antiinflamasi. Bromelain membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri pada sendi, yang sering terjadi saat serangan gout.

Meski bukan penurun asam urat langsung, efek antiinflamasi ini membantu mengurangi gejala secara signifikan.

10. Anggur

Anggur mengandung resveratrol, senyawa antioksidan yang membantu melawan peradangan. Efek ini penting dalam mengurangi kerusakan jaringan akibat kristal asam urat di sendi.

Namun, karena mengandung gula alami cukup tinggi, konsumsi buah ini tetap perlu dibatasi.

Buah bisa menjadi bagian dari strategi manajemen asam urat karena mengandung nutrisi yang mendukung proses alami tubuh dalam mengontrol kadar asam urat. Beberapa buah bahkan memiliki efek spesifik yang didukung oleh penelitian, seperti ceri dan buah tinggi vitamin C.

Meski begitu, penting untuk tetap mengonsumsi buah secara seimbang. Tidak semua buah boleh dikonsumsi berlebihan, terutama yang tinggi gula alami. Dengan pendekatan yang tepat, buah bisa membantu menjaga asam urat tetap stabil dan mencegah gout kambuh.

Referensi

Yuqing Zhang et al., “Cherry Consumption and Decreased Risk of Recurrent Gout Attacks,” Arthritis & Rheumatism 64, no. 12 (September 30, 2012): 4004–11, https://doi.org/10.1002/art.34677.

Mayo Clinic. “Gout Diet: What’s Allowed, What’s Not.” Diakses Maret 2026.

Hyon K. Choi, Xiang Gao, and Gary Curhan, “Vitamin C Intake and the Risk of Gout in Men,” Archives of Internal Medicine 169, no. 5 (March 9, 2009): 502, https://doi.org/10.1001/archinternmed.2008.606.

Editorial Team