Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Chat Keanu dan Lula Lahfah
Chat Keanu dan Lula Lahfah (https://www.instagram.com/keanuagl)

Intinya sih...

  • Influencer Lula Lahfah meninggal dunia setelah mengeluhkan pembengkakan usus yang membuatnya takut dan harus menjalani pemeriksaan kolonoskopi dengan bius total.

  • Pembengkakan usus umumnya merujuk pada peradangan usus atau kolitis yang dapat menyebabkan nyeri perut, buang air besar berdarah, penurunan nafsu makan, hingga berat badan menyusut.

  • IBD sering luput terdeteksi karena gejalanya tidak spesifik dan menyerupai gangguan pencernaan biasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Influencer Lula Lahfah meninggal dunia setelah sebelumnya dikabarkan sempat mengeluhkan kondisi kesehatan serius yang berkaitan dengan usus. Percakapan pribadi antara Lula dan sahabatnya, Keanu Angelo, yang kemudian dibagikan ke publik, memperlihatkan bagaimana Lula mengungkap rasa takutnya saat mengetahui ususnya mengalami pembengkakan dan ia harus menjalani pemeriksaan kolonoskopi dengan bius total.

Percakapan tersebut kini menyita perhatian.

Penjelasan dari sisi medis

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, dokter penyakit dalam subspesialis konsultan gastroenterologi dan hepatologi, menjelaskan bahwa istilah pembengkakan usus secara medis umumnya merujuk pada peradangan usus atau kolitis.

Peradangan ini dapat disebabkan oleh faktor infeksi maupun noninfeksi, termasuk inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus yang prevalensinya meningkat.

"Tentu kondisi pasien dengan pembengkakan usus atau peradangan usus ini akan membuat pasien-pasien tersebut mengalami nyeri perut yang berulang, buang air besar berdarah dan berlendir, penurunan nafsu makan, hingga berat badan yang terus menyusut," jelasnya kapada IDN Times.

Dalam kasus yang lebih berat, khususnya pada penyakit Crohn yang bersifat kronis, peradangan usus juga berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang, termasuk peningkatan risiko kanker.

Oleh karena itu, Prof. Ari menegaskan bahwa peradangan usus harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan kolonoskopi dan ditangani secara tuntas. Karena tanpa pengobatan, kondisi ini dapat berujung pada perdarahan, infeksi berulang, serta dampak kesehatan serius di kemudian hari.

IBD kerap luput terdeteksi

ilustrasi sakit perut (pexels.com/cottonbro studio)

IBD sering luput terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya yang tidak spesifik dan menyerupai gangguan pencernaan biasa.

IBD terjadi ketika respons imun di saluran cerna mengalami disregulasi sehingga memicu peradangan berulang yang tidak kunjung selesai.

Di Indonesia, kasus ini ada dan jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Sayangnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika gejalanya sudah cukup berat, karena keluhan yang muncul sering kali hanya berupa nyeri perut. Bahkan, tidak sedikit pasien yang baru mengetahui penyakit ini setelah muncul komplikasi, seperti penyempitan usus, perdarahan, atau anemia.

Prof. Ari menegaskan bahwa IBD merupakan radang usus yang bersifat kronis dan dapat menyerang usus besar maupun usus halus. Karena sifatnya yang menahun dan berulang, pasien perlu pengobatan jangka panjang.

Tujuan terapi bukan untuk menyembuhkan secara total, melainkan menjaga penyakit tetap dalam kondisi remisi dan mencegah terjadinya komplikasi.

Penyebab pasti IBD belum diketahui karena bersifat multifaktor. Faktor genetik, lingkungan, pola makan, gaya hidup, serta keseimbangan mikrobiota usus diduga berperan dalam munculnya penyakit ini. Gangguan pada bakteri baik di usus atau disbiosis dapat memperburuk peradangan, sehingga pasien dianjurkan untuk menjaga pola makan, menghindari makanan berpengawet, serta memperhatikan gaya hidup secara menyeluruh.

Editorial Team