ilustrasi sakit perut (pexels.com/cottonbro studio)
IBD sering luput terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya yang tidak spesifik dan menyerupai gangguan pencernaan biasa.
IBD terjadi ketika respons imun di saluran cerna mengalami disregulasi sehingga memicu peradangan berulang yang tidak kunjung selesai.
Di Indonesia, kasus ini ada dan jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Sayangnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika gejalanya sudah cukup berat, karena keluhan yang muncul sering kali hanya berupa nyeri perut. Bahkan, tidak sedikit pasien yang baru mengetahui penyakit ini setelah muncul komplikasi, seperti penyempitan usus, perdarahan, atau anemia.
Prof. Ari menegaskan bahwa IBD merupakan radang usus yang bersifat kronis dan dapat menyerang usus besar maupun usus halus. Karena sifatnya yang menahun dan berulang, pasien perlu pengobatan jangka panjang.
Tujuan terapi bukan untuk menyembuhkan secara total, melainkan menjaga penyakit tetap dalam kondisi remisi dan mencegah terjadinya komplikasi.
Penyebab pasti IBD belum diketahui karena bersifat multifaktor. Faktor genetik, lingkungan, pola makan, gaya hidup, serta keseimbangan mikrobiota usus diduga berperan dalam munculnya penyakit ini. Gangguan pada bakteri baik di usus atau disbiosis dapat memperburuk peradangan, sehingga pasien dianjurkan untuk menjaga pola makan, menghindari makanan berpengawet, serta memperhatikan gaya hidup secara menyeluruh.