ilustrasi diabetes (freepik.com/minervastudio)
Para peneliti CDC lalu membandingkan insiden diabetes pada para pasien COVID-19 dengan mereka yang tidak terkena COVID-19, yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebelum pandemik COVID-19, dan yang tidak memiliki gangguan pernapasan sama sekali.
Hasilnya, para peneliti CDC menemukan bahwa dalam database IQVIA:
- Sebanyak 316 per 100.000 orang dalam kelompok COVID-19 mengembangkan diabetes.
- Sebanyak 118 per 100.000 orang dalam kelompok non-COVID-19 pada periode COVID-19 mengembangkan diabetes.
- Sebanyak 126 per 100.000 orang dalam kelompok ISPA sebelum pandemik COVID-19 mengembangkan diabetes.
- Sebanyak 125 per 100.000 orang dalam kelompok sehat pada masa sebelum pandemik mengembangkan diabetes.
Selain itu, para peneliti CDC menemukan bahwa dalam database HealthVerity:
- Sejumlah 399 per 100.000 orang dalam kelompok pasien COVID-19 mengembangkan diabetes.
- Sejumlah 304 per 100.000 orang dalam kelompok non-COVID-19 mengembangkan diabetes.
Ternyata, risiko diabetes pada pasien COVID-19 berkisar 31 persen (HealthVerity) hingga 166 persen (IQVIA) lebih tinggi dibanding pasien ISPA non-COVID-19 atau kelompok sehat.
Selain itu, pasien ISPA non-COVID-19 usia di bawah 18 tahun juga 116 persen (IQVIA) lebih berisiko mengembangkan diabetes daripada kelompok sehat.