Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dehidrasi saat Haji Bukan Sekedar Haus, Ini Dampaknya ke Ginjal
Jemaah haji mulai memadati Masjidil Haram usai puncak haji. (Media Center Haji 2025)
  • Dehidrasi saat haji dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal, memicu cedera ginjal akut hingga gagal ginjal jika tidak segera ditangani.

  • Lansia serta jemaah dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal lebih rentan mengalami kerusakan ginjal akibat dehidrasi berat.

  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga asupan cairan teratur, menghindari panas ekstrem, dan memantau tanda kelelahan agar risiko gangguan ginjal dapat ditekan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti pentingnya kesadaran dan pencegahan terhadap dehidrasi selama ibadah haji, terutama bagi kelompok rentan. Penjelasan medis yang rinci membantu jemaah memahami bagaimana tubuh bereaksi terhadap panas ekstrem dan kekurangan cairan. Dengan informasi ini, upaya edukasi, pemantauan kesehatan, serta kebiasaan menjaga hidrasi dapat dilakukan lebih disiplin dan efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Langit Makkah di siang hari terasa seperti membakar kulit. Di tengah lautan jemaah yang bergerak perlahan, seorang pria lanjut usia berhenti sejenak, menarik napas panjang sambil mengusap keringat yang tak kunjung reda. Ia merasa kelelahan, pikirnya mungkin kurang minum. Namun, beberapa jam kemudian, tubuhnya makin lemas, frekuensi buang air kecil berkurang, hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Bukan cuma dehidrasi, dokter menemukan bahwa fungsi ginjalnya mulai terganggu.

Cerita di atas bukan kasus tunggal. Dalam kondisi panas ekstrem dan aktivitas fisik tinggi selama ibadah haji, rasa haus yang sering disepelekan bisa menjadi awal dari masalah yang jauh lebih serius, yakni berupa cedera ginjal akut yang dapat mengancam nyawa.

Kenapa dehidrasi bisa memengaruhi ginjal?

Dehidrasi bukalah rasa haus yang bisa langsung hilang dengan sekali minum. Dalam kondisi panas ekstrem dan aktivitas fisik yang tinggi, tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar tanpa disadari. Ketika cairan tubuh terus berkurang, volume darah ikut menurun sehingga aliran darah ke ginjal tidak lagi optimal. 

Padahal, ginjal sangat bergantung pada suplai darah yang stabil untuk menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Saat pasokan darah terganggu, fungsi filtrasi menurun, produksi urine berkurang, dan dalam kondisi tertentu bisa berujung pada gagal ginjal akut. Inilah yang membuat dehidrasi pada jemaah haji menjadi kondisi yang serius, bagaimana tubuh, khususnya ginjal, mulai kehilangan kemampuan vitalnya untuk bekerja dengan normal.

Ada beberapa kelompok yang rentan

ilustrasi ibadah haji (unsplash.com/Haidan)

Setiap jemaah memiliki risiko yang berbeda ketika mengalami dehidrasi. Sejumlah kelompok diketahui lebih rentan mengalami gangguan ginjal, terutama dalam kondisi ekstrem seperti saat ibadah haji. Lansia, misalnya, secara fisiologis memiliki cadangan cairan tubuh yang lebih rendah serta respons haus yang tidak sepeka usia muda. Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami dehidrasi tanpa disadari hingga kondisinya sudah cukup berat.

Selain itu, jemaah dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi juga berada dalam kelompok berisiko tinggi. Kedua kondisi ini dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal dalam jangka panjang, sehingga ketika terjadi dehidrasi dan aliran darah menurun, ginjal tidak mampu beradaptasi dengan baik. 

Hal serupa juga berlaku pada orang dengan penyakit ginjal kronis, di mana fungsi ginjal sudah menurun sejak awal dan sangat sensitif terhadap perubahan volume cairan tubuh.

Studi menunjukkan, sebagian besar kasus cedera ginjal akut terjadi pada jemaah dengan komorbid tersebut, dengan usia rata-rata di atas 60 tahun. Dalam konteks ini, dehidrasi bukan lagi faktor tunggal, melainkan pemicu yang mempercepat kerusakan ginjal pada tubuh yang sudah rentan. Karena itu, kelompok ini butuh perhatian khusus, mulai dari edukasi sebelum keberangkatan hingga pemantauan kondisi selama beribadah haji.

Dampaknya tidak sekedar lelah dan pusing

Dampak dari dehidrasi tak berhenti pada rasa lelah atau pusing. Ketika tubuh kekurangan cairan secara signifikan, urine menjadi lebih pekat dan volumenya menurun, kondisi yang mempermudah terbentuknya kristal hingga berujung pada batu ginjal. 

Dalam situasi yang lebih berat, penurunan aliran darah ke ginjal dapat memicu cedera ginjal akut, yang ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin dan berkurangnya produksi urine. Jika tidak ditangani cepat, kondisi ini bisa berkembang menjadi gagal ginjal yang terapi seperti dialisis, bahkan meningkatkan risiko kematian, terutama pada jemaah dengan penyakit penyerta.

Pada jemaah yang sudah memiliki penyakit ginjal kronis, dehidrasi dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal yang sebelumnya masih stabil. Artinya, satu episode dehidrasi berat bisa berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup setelah pulang ke Tanah Air. Inilah yang membuat dehidrasi menjadi faktor yang sering terlihat ringan, tetapi sebenarnya memiliki konsekuensi klinis yang serius.

Pencegahan menjadi kunci dan harus berbasis kebiasaan yang disiplin. Jemaah dianjurkan untuk tidak menunggu rasa haus, melainkan menjaga asupan cairan secara teratur sepanjang hari. Penggunaan pelindung seperti payung atau topi, serta menghindari aktivitas di bawah terik matahari juga penting untuk mengurangi kehilangan cairan. 

Bagi kelompok berisiko lakukan monitoring kondisi tubuh, termasuk frekuensi buang air kecil dan tanda-tanda kelelahan. Dengan pendekatan preventif yang tepat, risiko gangguan ginjal akibat dehidrasi saat haji dapat ditekan secara signifikan.

Referensi

"Can Dehydration Affect Your Kidneys?". National Kidney Foundation. Diakses April 2026.

"Understanding Heat Risks for Kidney Disease and Dehydration". Metropolitan Kidney Centers. Diakses April 2026.

Kolivand, Pirhossein, Samad Azari, Hossein Saffari, Taher Doroudi, Ali Marashi, Masoud Behzadifar, Fereshte Karimi, et al. “Epidemiology and Economic Burden of End-Stage Kidney Disease by Age, Gender, and Province among Iranian Hajj Pilgrims in 2012-22: A Retrospective Study of 469,581 Participants.” BMC Nephrology 26, no. 1 (July 30, 2025): 424.

Madani, Tariq A., Tawfik M. Ghabrah, Mogbil A. Al-Hedaithy, Mohammad A. Alhazmi, Tarik A. Alazraqi, Ali M. Albarrak, and Abdulrahman H. Ishaq. “Causes of Hospitalization of Pilgrims during the Hajj Period of the Islamic Year 1423 (2003).” Annals of Saudi Medicine 26, no. 5 (September 1, 2006): 346–51.

Elrewihby, WalidH, NabilF Hasan, Walaa Fikry, and Ehab Wafa. “Acute Kidney Injury in Hospitalized Patients during Muslim Pilgrimage (Hajj: 1432).” Saudi Journal of Kidney Diseases and Transplantation 29, no. 5 (January 1, 2018): 1128.

Almuzaini, Yasir, Fahad Alamri, Lamis Alabdullatif, and Anas Khan. “Critical Determinants of Morbidity and Adverse Outcomes during the Hajj Using the Haddon Matrix and the Combined Model.” Scientific Reports 15, no. 1 (November 13, 2025): 39824.

Editorial Team