Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Efek Samping Pengobatan Lupus yang Perlu Diketahui
ilustrasi pasien penyakit lupus minum obat (pexels.com/Darina Belonogova)
  • Pengobatan lupus melibatkan NSAID, antimalaria, kortikosteroid, dan imunosupresan yang bekerja menekan peradangan serta aktivitas imun berlebih, namun masing-masing memiliki efek samping berbeda tergantung dosis dan kondisi pasien.
  • Efek samping umum mencakup gangguan lambung dari NSAID, risiko kerusakan retina akibat hydroxychloroquine, hingga peningkatan tekanan darah dan osteoporosis dari penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
  • Pemantauan rutin seperti tes darah, pemeriksaan mata dan tulang, pengaturan dosis obat, serta gaya hidup sehat membantu mengurangi efek samping agar pasien lupus tetap dapat hidup aktif dan produktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang membuat sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Untuk mengendalikan peradangan dan mencegah kerusakan organ, penderita lupus biasanya memerlukan pengobatan jangka panjang. Kendati sangat membantu, obat-obatan lupus juga bisa menimbulkan berbagai efek samping yang perlu diperhatikan.

Pengobatan lupus biasanya melibatkan beberapa kelompok obat, seperti NSAID, antimalaria, kortikosteroid, dan imunosupresan. Masing-masing bekerja dengan cara berbeda untuk menekan peradangan atau mengendalikan aktivitas sistem imun yang berlebihan.

Efek samping pengobatan lupus bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jenis obat, dosis, lama penggunaan, hingga kondisi kesehatan pasien. Karena itu, penting bagi pasien lupus untuk memahami risiko pengobatan, bekerja sama dengan dokter dalam menentukan terapi yang paling aman dan efektif.

1. NSAID dan efek sampingnya

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti Ibuprofen sering digunakan untuk meredakan nyeri sendi ringan, demam, dan pegal akibat lupus. Namun, obat ini cukup sering menyebabkan gangguan lambung.

Efek samping yang umum meliputi:

  • Nyeri ulu hati

  • Mual dan gangguan pencernaan

  • Tukak lambung

  • Perdarahan saluran cerna

Pada beberapa kasus, dokter juga meresepkan obat pelindung lambung seperti Omeprazole untuk mengurangi risiko iritasi lambung. NSAID juga perlu digunakan hati-hati pada pasien lupus dengan gangguan ginjal atau penyakit jantung karena dapat memperburuk kondisi tersebut.

2. Obat antimalaria dan efek sampingnya

Obat antimalaria seperti hydroxychloroquine termasuk terapi utama lupus karena membantu mengurangi flare, ruam kulit, dan nyeri sendi. Dibandingkan obat lain, efek sampingnya cenderung lebih ringan. Keluhan yang sering muncul antara lain:

  • Mual.

  • Diare.

  • Perubahan warna kulit.

  • Nafsu makan menurun.

Meski jarang, penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan retina mata. Oleh sebab itu, pasien biasanya dianjurkan menjalani pemeriksaan mata rutin setiap tahun untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini.

3. Risiko penggunaan kortikosteroid

ilustrasi obat-obatan pasien lupus (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kortikosteroid seperti prednisone sering digunakan untuk mengendalikan flare lupus yang berat dengan cepat. Sayangnya, obat ini juga dikenal memiliki efek samping paling banyak, terutama jika digunakan dalam jangka panjang.

Efek samping jangka pendek, meliputi:

  • Berat badan naik.

  • Wajah membulat atau “moon face”.

  • Retensi cairan.

  • Mudah memar.

  • Perubahan suasana hati.

  • Sulit tidur.

Selain itu, steroid juga dapat meningkatkan tekanan darah, risiko diabetes, serta membuat tubuh lebih rentan terkena infeksi karena sistem imun ditekan. Jika digunakan lama, efek sampingnya bisa menjadi lebih serius, seperti:

  • Osteoporosis atau tulang keropos.

  • Katarak.

  • Kerusakan jaringan tulang (nekrosis avaskular).

  • Risiko patah tulang meningkat.

Pada anak-anak, penggunaan steroid jangka panjang juga dapat menghambat pertumbuhan. Karena itu, dokter sering menyarankan tambahan kalsium dan vitamin D untuk membantu menjaga kesehatan tulang.

4. Efek samping obat imunosupresan

Obat imunosupresan digunakan pada lupus yang menyerang organ penting, seperti ginjal, paru-paru, atau otak. Beberapa obat yang umum dipakai adalah Methotrexate, Azathioprine, dan Cyclophosphamide.

Methotrexate

Efek samping yang sering muncul:

  • Mual.

  • Sariawan.

  • Sakit kepala.

  • Sensitif terhadap sinar matahari.

Dalam beberapa kasus, obat ini juga bisa memengaruhi hati dan paru-paru.

Azathioprine

Obat ini dapat meningkatkan risiko:

  • Hepatitis.

  • Peradangan pankreas.

  • Penurunan daya tahan tubuh.

Cyclophosphamide

Efek sampingnya tergolong cukup berat, seperti:

  • Rambut rontok.

  • Mual.

  • Jumlah sel darah putih menurun.

  • Gangguan kandung kemih.

  • Risiko infertilitas.

Semua obat imunosupresan juga dapat meningkatkan risiko infeksi dan beberapa jenis kanker karena sistem imun ditekan dalam waktu lama.

5. Cara mengurangi efek samping pengobatan lupus

Meskipun efek sampingnya cukup banyak, tetapi risiko tersebut sebenarnya bisa dikendalikan dengan pemantauan yang baik. Dokter biasanya akan memberikan dosis efektif terendah untuk meminimalkan dampak obat terhadap tubuh.

Beberapa langkah yang sering dilakukan antara lain:

  • Pemeriksaan darah rutin untuk memantau fungsi hati, ginjal, dan sel darah.

  • Pemeriksaan kepadatan tulang untuk mencegah osteoporosis.

  • Pemeriksaan mata rutin pada pengguna hydroxychloroquine.

  • Pengurangan dosis steroid secara bertahap, bukan dihentikan mendadak.

Selain itu, gaya hidup sehat juga membantu mengurangi efek samping pengobatan lupus. Pola makan seimbang dapat membantu mengontrol berat badan, olahraga ringan membantu menjaga kekuatan tulang, sementara penggunaan tabir surya penting untuk melindungi kulit yang sensitif.

Pasien juga tidak dianjurkan menghentikan obat tanpa konsultasi dokter karena hal tersebut bisa memicu flare lupus yang lebih parah.

Pengobatan lupus memang memerlukan keseimbangan antara manfaat dan risiko. Dengan pemantauan yang tepat serta komunikasi yang baik dengan dokter, banyak penderita lupus tetap bisa menjalani hidup aktif dan produktif.

Referensi

Aaria Rheumatology. "Lupus Medication Side Effects: A Patient’s Complete Guide (2025)." Diakses pada Mei 2026.

Better Health. "Lupus and Medication." Diakses pada Mei 2026.

Johns Hopkins Lupus Center. "Treating Lupus with NSAIDs." Diakses pada Mei 2026.

Lupus Association of NSW. "Medications for Treating Lupus." Diakses pada Mei 2026.

WebMD. "What Is Lupus Treatment?" Diakses pada Mei 2026.

Editorial Team