Dari Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, Dr. dr. Erlina Burhan, Msc, Sp.P(K) mengatakan bahwa penggunaan Covifor sedang dalam tahap pengujian.
Obat tersebut sedang diujicobakan terhadap 25 pasien yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
“Sudah dapat izin dari BPOM (untuk diujicobakan). Jadi untuk digunakan ke pasien COVID-19 sudah tidak ada masalah dengan persyaratan hanya digunakan untuk kasus darurat,” terang Dr. Erlina kepada IDN Times.
Layaknya obat yang lain, tentu saja ada kekhawatiran timbulnya efek samping dari penggunaan obat tersebut. Ini belum diketahui mengingat proses uji coba masih dilakukan. Hanya saja, memang sudah ada perkiraan efek samping yang bisa muncul.
“Menilik kasus di negara lain, dugaan efek samping dari remdesivir ini akan berimbas ke lever dan ginjal. Oleh karena itu, kami benar-benar memperhatikan riwayat kesehatan pasien yang punya sejarah gagal ginjal dan lainnya agar tidak mendapat obat ini,” kata Dr. Erlina.
infografis pencegahan COVID-19 (IDN Times)
Sekali lagi perlu diingat bahwa Covifor atau remdesivir bukanlah obat yang dapat menyembuhkan COVID-19. Hingga hari ini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk COVID-19.
Akan tetapi, obat ini sudah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk pengobatan pasien rawat inap dengan gejala COVID-19 yang parah.
Cara terbaik untuk melindungi diri COVID-19 masih dengan fokus pada pencegahan.
Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3M: Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik, dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.