Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Faktor yang Membuat Gula Darah Sulit Turun
ilustrasi memeriksa gula darah (pexels.com/i-SENS, USA)
  • Kadar gula darah sulit turun dipengaruhi berbagai faktor seperti dehidrasi, pola makan malam hari, kurang tidur, stres, hingga aktivitas fisik yang tidak seimbang.
  • Makanan tinggi karbohidrat dan lemak memperlambat pencernaan sehingga kadar gula darah meningkat lebih lama, sementara sakit dapat memicu resistensi insulin sementara.
  • Pemahaman terhadap faktor-faktor ini membantu pengelolaan gula darah lebih efektif melalui perubahan gaya hidup sehat dan pemantauan kesehatan rutin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti sisi positif dari pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan gula darah. Dengan menjelaskan berbagai penyebab, mulai dari dehidrasi hingga stres, pembaca memperoleh wawasan konkret mengenai bagaimana tubuh bereaksi terhadap kondisi tertentu. Pengetahuan ini membuka peluang untuk pengelolaan kesehatan yang lebih sadar, terarah, dan berbasis pemahaman diri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kadar gula darah yang tinggi sering menjadi masalah bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang hidup dengan diabetes atau memiliki risiko gangguan metabolik.

Meski sudah berusaha menjaga pola makan atau mengonsumsi obat, tidak sedikit orang yang merasa kadar gula darahnya sulit turun. Kondisi ini tentu menimbulkan kebingungan sekaligus kekhawatiran karena gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kesehatan.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kestabilan gula darah dalam tubuh. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, pola makan, tingkat stres, hingga kualitas tidur bisa berperan dalam membuat gula darah tetap tinggi. Memahami faktor-faktor tersebut penting agar pengelolaan gula darah dapat dilakukan dengan lebih efektif.

1. Dehidrasi

Kekurangan asupan air yang parah memicu peningkatan konsentrasi gula darah karena jumlah total air dalam tubuh berkurang. Ini berarti darah menjadi lebih pekat, menyebabkan peningkatan kadar gula darah.

Bagi orang dengan diabetes maupun tanpa diabetes yang melakukan aktivitas fisik berat atau olahraga teratur, terutama saat cuaca panas, hidrasi sangat penting untuk mencegah hiperglikemia dan ketoasidosis diabetik.

2. Makan larut malam

Tubuh memproses makanan dan karbohidrat dengan baik selama siang hari. Ketika kamu mengonsumsi makanan dalam jumlah besar di malam hari, terutama yang memiliki kandungan gula tinggi, biasanya hal itu memicu fluktuasi besar kadar gula darah dan mengganggu kualitas tidur kita. Dalam beberapa kasus, peningkatan gula darah berlanjut hingga pagi hari, tergantung pada metabolisme individu.

3. Aktivitas fisik

ilustrasi sedang berolahraga (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Aktivitas fisik meningkatkan penyerapan glukosa oleh otot, tetapi jika gerakan secara konsisten rendah, otot menggunakan lebih sedikit glukosa dan kadarnya tetap tinggi.

Secara paradoks, olahraga yang sangat intens atau berkepanjangan terkadang dapat meningkatkan gula darah dalam jangka pendek dengan memicu hormon stres, meskipun ini biasanya membaik setelah latihan berulang.

4. Kurang tidur

Tidur adalah penyebab tersembunyi lainnya. Kurang tidur atau gangguan pernapasan saat tidur (seperti apnea tidur obstruktif) mengganggu ritme sirkadian dan meningkatkan resistensi insulin, yang dapat menyebabkan kadar glukosa puasa dan kadar glukosa siang hari tetap tinggi.

Pada pekerja shift dan penderita insomnia kronis, gangguan ini dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 dan hiperglikemia persisten yang lebih tinggi.

5. Makan besar yang tinggi karbohidrat dan lemak

Makan besar dengan karbohidrat dan lemak yang tinggi sering menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang berkepanjangan. Meskipun karbohidrat merupakan kontributor utama kadar glukosa darah, tetapi lemak juga berperan dalam meningkatkan durasi peningkatan ini. Karena makanan tinggi lemak memperlambat pencernaan dan penyerapan karbohidrat, ini mengakibatkan pelepasan gula ke dalam aliran darah yang tertunda.

6. Sakit

ilustrasi orang sedang sakit (pexels.com/Anna Shvets)

Saat kamu sakit, tubuh memproduksi lebih banyak sitokin, protein kecil yang memberi sinyal pada sistem kekebalan tubuh untuk bertindak. Namun, sitokin membuat sel-sel menjadi resisten terhadap insulin untuk sementara waktu. Akibatnya, otot dan hati tidak dapat menggunakan semua glukosa ekstra yang beredar di aliran darah, yang menyebabkan kadar gula darah lebih tinggi dari biasanya.

Makin parah sakit yang kamu alami, makin besar kemungkinan kamu akan mengalami lonjakan kadar gula darah, tetapi kadar tersebut akan kembali turun setelah tubuh pulih dan mengurangi produksi sitokin.

7. Stres

Hormon stres kortisol dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Ini adalah bagian penting dari respons "lawan atau lari". Dalam evolusi manusia, respons ini membantu kemampuan untuk merespons ancaman atau bahaya potensial dengan cepat.

Singkatnya, faktor pemicu stres, seperti menemukan predator atau ancaman lain, menyebabkan peningkatan kebutuhan gula darah karena tubuh perlu berlari atau terlibat dalam pertempuran.

Dengan mengenali berbagai faktor yang dapat membuat gula darah sulit turun, kamu dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk mengelolanya. Perubahan gaya hidup yang konsisten, pola makan seimbang, serta pemantauan kesehatan secara rutin dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mengurangi risiko komplikasi di masa depan.

Referensi

"Glucose Levels Won’t Go Down? Here’s 14 Reasons Why." Nutrisense. Diakses pada April 2026.

"42 Factors That Affect Blood Glucose?! A Surprising Update." The diaTribe Foundation. Diakses pada April 2026.

"7 Surprising Reasons Your Blood Sugar Is High." Veri. Diakses pada April 2026.

Editorial Team