Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola buang air besar menciptakan siklus umpan balik. Semakin lama feses berada di usus besar, semakin banyak waktu yang dimiliki bakteri untuk memfermentasi isinya, mengatur keasaman usus, dan menghasilkan metabolit yang dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dalam berbagai cara.
Hal ini dipengaruhi langsung oleh pola makan di mana protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang memerlukan bakteri tertentu.
Seiring waktu, jika pola makan tinggi protein, mikrobioma akan menyesuaikan dengan kebutuhan diet. Bakteri ini melepaskan metabolit yang dapat mengubah lingkungan usus, berpotensi memperkuat pola yang sudah ada
Hubungan ini kemungkinan cukup rumit. Ada berbagai faktor gaya hidup yang dapat memengaruhi frekuensi buang air besar, termasuk pola makan, asupan cairan, olahraga, dan tidur.
Namun, karena mikrobioma usus manusia terkait dengan kesehatan, hubungan timbal balik antara pola buang air besar dan mikrobioma mungkin memiliki implikasi yang lebih luas, meskipun sulit untuk diuraikan. Frekuensi poop yang jarang dan sembelit telah dikaitkan dengan gangguan metabolik dan inflamasi, serta gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.
Selain itu, beberapa produk mikrobioma dari pencernaan protein dapat berkontribusi terhadap penyakit ginjal kronis dan penyakit kardiovaskular.
Referensi
Park, Gwoncheol, Seongok Kim, WonJune Lee, Gyungcheon Kim, and Hakdong Shin. “Deciphering the Impact of Defecation Frequency on Gut Microbiome Composition and Diversity.” International Journal of Molecular Sciences 25, no. 9 (April 25, 2024): 4657.
"Your Poop Schedule May Be Shaping Your Body From The Inside Out". Science Alert. Diakses April 2026.