ilustrasi alat cuci darah (ANTARA FOTO)
Turut hadir di webinar tersebut, Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI, dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K), mengatakan bahwa pasien AKIUO harus sedini mungkin mencari pertolongan. Hal ini bisa terlihat dari penurunan kadar urine dalam 6 jam.
"Di rumah sakit, kita akan memeriksa parameter fungsi ginjal. Karena ginjal mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, maka ketika ginjal terganggu fungsinya, ureum dan kreatinin meningkat. Dari sini, bisa terlihat fungsi ginjal terganggu berapa besar," papar dr. Eka.
Kemudian, jika memang terganggu hingga stadium 3 (ureum dan kreatinin sangat tinggi), berarti terjadi gangguan fungsi ginjal karena sisa metabolisme tidak terbuang. Kalau begitu, dr. Eka mengatakan bahwa cuci darah atau hemodialisis harus dilakukan.
Berbeda dengan pasien dewasa hingga lansia, pasien AKIUO anak mengalami kesulitan karena tak tersedia di semua tempat. Sementara mesin cuci darah ada di seluruh Indonesia, mayoritas diperuntukkan oleh pasien dewasa hingga lansia.
Dalam skenario normal, kondisi anak yang memerlukan hemodialisis jauh lebih sedikit, sehingga tidak efisien jika disediakan di semua tempat. Namun, menakar kondisi lonjakan kasus AKIUO anak di Indonesia, dr. Eka mengatakan bahwa sudah ada beberapa fasilitas kesehatan yang menawarkan hemodialisis untuk anak.
"Di Jakarta, ada di RSCM dan Harapan Kita. Silakan, boleh datang langsung kalau memang ada gangguan seperti ini agar tidak melalui proses lebih panjang ... Kalau kondisi masih dini, semoga respons pengobatan jadi lebih baik." kata dr. Eka.