Menurut berbagai studi, penularan infeksi saluran napas saat haji sangat tinggi karena jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam area yang padat dan melakukan aktivitas fisik dalam cuaca ekstrem.
Virus seperti rhinovirus, influenza, hingga virus corona yang bukan penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS), mengalami peningkatan signifikan setelah pelaksanaan haji akibat kontak erat antarmanusia dalam kerumunan yang padat.
Salah satu alasan utama ISPA mudah menular saat haji adalah kondisi overcrowding atau kepadatan ekstrem. Dalam beberapa titik ritual, kepadatan jemaah bahkan bisa mencapai sekitar tujuh orang per meter persegi. Situasi ini membuat droplet dari batuk, bersin, atau percakapan sangat mudah berpindah dari satu orang ke orang lain.
Infeksi saluran napas akut merupakan penyakit paling dominan selama ibadah haji. Pneumonia pyogenik (pneumonia yang disebabkan oleh bakteri penghasil nanah, misalnya Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, atau Klebsiella) bahkan menyumbang lebih dari separuh kasus infeksi yang membutuhkan rawat inap.
Selain itu, jemaah juga tinggal bersama dalam tenda besar, menggunakan transportasi umum yang padat, serta melakukan aktivitas ibadah dalam jarak sangat dekat selama berhari-hari. Kombinasi ini menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus dan bakteri.