ilustrasi katarak sklerosis nuklear (en.wikipedia.org/Imrankabirhossain)
Sklerosis nuklear adalah pengerasan dan perubahan warna kekuningan pada bagian tengah lensa mata (disebut nukleus). Kondisi ini terjadi secara alami seiring penuaan. Lambat laun, sklerosis nuklear membuat penglihatan menjadi buram karena lensa yang mengeras dan menguning menghalangi lebih banyak cahaya untuk masuk ke mata.
Lensa mata tersusun dari protein bening bernama kristalin yang tersusun rapi sehingga cahaya bisa lewat. Namun, seiring waktu, dan paparan sinar UV, protein-protein ini mulai menggumpal, menyebabkan bagian tengah lensa menjadi lebih keras dan berwarna kuning.
Karena lensa tidak lagi sejernih dulu, cahaya yang masuk ke mata jadi lebih sedikit dan menyebar tidak beraturan. Bahkan, intensitas cahaya yang sampai ke retina bisa turun sampai 10 kali lipat saat seseorang berusia 80-an tahun. Akibatnya, penglihatan jadi buram, muncul silau (glare), lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya (halo), dan makin sulit melihat pada malam hari.
Sklerosis nuklear bisa berkembang menjadi katarak sklerosis nuklear saat pengerasan dan perubahan warna makin parah. Lensa jadi makin kecokelatan dan buram. Kondisi ini diklasifikasikan dari tingkat 1 (ringan) hingga tingkat 4 (buram total kecokelatan).
Pada usia lanjut, kondisi ini cukup umum. Studi menunjukkan sekitar 40 persen orang berusia 75 tahun ke atas mengalami katarak jenis ini setidaknya di satu mata.
Perkembangan jenis katarak ini sangat perlahan, dan gejala biasanya muncul secara bertahap:
Penglihatan menjadi buram seperti melihat lewat kacamata kotor.
Membaca jadi lebih sulit.
Mengemudi pada malam hari terasa menyilaukan dan kabur.
Sulit membedakan kontras dalam cahaya redup.
Mata lebih peka terhadap sinar matahari.
Warna tampak kusam dan berubah.
Dalam beberapa kasus, penglihatan dekat justru sempat membaik (fenomena yang disebut second sight). Namun, ini hanya sementara. Seiring memburuknya katarak, penglihatan akan makin terganggu.