Komplikasi campak paling sering dialami oleh bayi, ibu hamil, serta anak-anak yang kurang gizi atau memiliki sistem imun lemah.
Salah satu komplikasi yang paling umum adalah pneumonia. Kondisi ini bisa langsung disebabkan oleh virus campak itu sendiri, atau muncul sebagai infeksi bakteri sekunder, seperti dari Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Streptococcus grup A, hingga Staphylococcus aureus.
Selain pneumonia, komplikasi lain yang bisa terjadi adalah croup (radang saluran napas), otitis media (infeksi telinga tengah), diare, dan yang lebih jarang berupa radang otot jantung (miokarditis), radang selaput jantung (perikarditis), radang usus buntu (apendisitis), serta kelainan darah thrombocytopenic purpura.
Bagi ibu hamil, campak membawa risiko yang jauh lebih serius. Infeksi ini bisa meningkatkan kemungkinan kematian ibu, keguguran, kematian janin dalam kandungan, hingga bayi lahir dengan berat badan rendah.
Pada anak dengan kekurangan vitamin A, campak juga dapat menimbulkan keratokonjungtivitis, yang bisa berujung pada kebutaan.
Komplikasi pada sistem saraf pusat adalah yang paling mengkhawatirkan. Ada tiga kondisi utama yang perlu diwaspadai:
Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM): Penyakit autoimun yang menyerang selubung saraf (demyelinating disease), biasanya muncul beberapa hari hingga minggu setelah infeksi.
Measles inclusion body encephalitis (MIBE): Infeksi otak progresif yang terjadi pada pasien dengan kekebalan tubuh lemah, muncul dalam hitungan bulan setelah campak.
Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE): Penyakit neurologis progresif yang muncul 5–10 tahun setelah sakit campak. Penyebabnya diduga karena respons tubuh yang abnormal terhadap virus campak yang bermutasi. SSPE umumnya menyerang anak-anak yang terkena campak sebelum usia 2 tahun, dengan gejala berupa kejang serta penurunan fungsi kognitif dan motorik yang makin parah.