Berdasarkan laporan tersebut, beberapa penyebabnya antara lain:
1. Masalah kelahiran masih dominan
Hampir setengah dari kematian anak terjadi pada periode neonatal, yaitu bulan pertama kehidupan. Penyebab utamanya meliputi:
Kelahiran prematur (36 persen).
Komplikasi saat persalinan (21 persen).
Infeksi dan kelainan bawaan.
Kondisi ini sebenarnya sangat bisa dicegah dengan layanan kesehatan dasar seperti perawatan kehamilan (antenatal care), tenaga medis terlatih saat persalinan, dan perawatan bayi baru lahir. Namun, masalahnya bukan pada kurangnya solusi, tetapi pada akses yang belum merata.
2. Infeksi masih menjadi pembunuh utama
Setelah melewati masa neonatal, ancaman terbesar datang dari penyakit infeksi, seperti malaria (17 persen), pneumonia, dan diare.
Data menunjukkan bahwa kemajuan dalam mengendalikan penyakit ini melambat sejak 2015. Faktor seperti konflik, perubahan iklim, dan resistensi obat memperburuk situasi.
Penelitian global juga menunjukkan bahwa anak di wilayah dengan sistem kesehatan lemah jauh lebih rentan terhadap infeksi yang sebenarnya bisa diobati.
3. Malnutrisi
Untuk pertama kalinya, laporan ini secara khusus mengukur dampak severe acute malnutrition (SAM). Hasilnya, lebih dari 100.000 anak meninggal secara langsung karena kondisi ini. Namun, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Malnutrisi tidak selalu tercatat sebagai penyebab utama kematian, tetapi memperburuk kondisi lain.
Studi menunjukkan bahwa malnutrisi melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko kematian akibat infeksi. Artinya, malnutrisi sering menjadi faktor yang diam-diam memperparah berbagai penyakit.