ilustrasi tudung saji (unsplash.com/Paolo Chiabrando)
Risiko lebih tinggi pada:
Makanan yang tidak terlindungi rapat atau sudah terekspos lingkungan.
Makanan yang digigit kemasannya tipis.
Bahan kering seperti beras atau mi.
Makanan yang disimpan dalam waktu lama.
Makanan tanpa wadah tertutup.
Makanan kaleng yang tidak rusak biasanya lebih aman karena ada penghalang fisik kuat. Namun, bagian luar kaleng tetap perlu dibersihkan sebelum digunakan jika disimpan di area yang ada tikusnya.
Makanan atau air galon yang sudah tergigit atau kemungkinan terkontaminasi tikus sebaiknya tidak dianggap aman. Risiko utamanya bukan cuma bekas gigitan yang terlihat, tetapi kemungkinan adanya bakteri, virus, urine, atau air liur tikus yang tidak tampak oleh mata.
Karena tikus dapat membawa berbagai penyakit, amannya jangan mengambil risiko dari makanan dan minuman yang sudah terpapar. Membuang makanan yang diragukan sering kali jauh lebih aman.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) "Diseases from Rodents." Diakses Mei 2026.
CDC. "Cleaning Up After Rodents." Diakses Mei 2026.
US Food and Drug Administration. "Food Safety." Diakses Mei 2026.
Chelsea G. Himsworth et al., “Rats, Cities, People, and Pathogens: A Systematic Review and Narrative Synthesis of Literature Regarding the Ecology of Rat-Associated Zoonoses in Urban Centers,” Vector-Borne and Zoonotic Diseases 13, no. 6 (April 16, 2013): 349–59, https://doi.org/10.1089/vbz.2012.1195.
Bastiaan G Meerburg, Grant R Singleton, and Aize Kijlstra, “Rodent-borne Diseases and Their Risks for Public Health,” Critical Reviews in Microbiology 35, no. 3 (June 23, 2009): 221–70, https://doi.org/10.1080/10408410902989837.