Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Makanan yang Digigit Tikus Masih Bisa Dimakan atau Harus Dibuang?
ilustrasi tikus makan makanan manusia (IDN Times/NRF)
  • Makanan atau minuman yang sudah tergigit atau terkontaminasi tikus sebaiknya dibuang karena bisa mengandung urine, air liur, dan mikroorganisme penyebab penyakit.
  • Tikus dikenal membawa berbagai patogen berbahaya seperti leptospira, salmonella, hantavirus, dan parasit yang dapat menular melalui makanan atau permukaan terpapar cairan tubuhnya.
  • Memasak ulang tidak selalu membuat makanan aman karena toksin bakteri bisa tetap ada dan kontaminasi mungkin sudah menyebar tanpa terlihat jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menunjukkan sisi positif dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan. Dengan penjelasan rinci tentang risiko kontaminasi tikus, pembaca memperoleh pemahaman ilmiah yang membantu mereka membuat keputusan lebih hati-hati. Informasi ini memperkuat kebiasaan higienis dan menumbuhkan tanggung jawab dalam menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan penyimpanan makanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat menemukan bekas gigitan tikus di bungkus makanan atau galon air minum, beberapa orang mungkin tidak langsung membuangnya, melainkan menghilangkan atau menggunting bagian yang terdampak, galon dicuci bagian luarnya saja, atau cukup memasaknya lagi.

Respons seperti ini sangat umum, apalagi jika makanan masih terlihat baik-baik saja sepenglihatan mata, sehingga sayang untuk dibuang. Namun dari sudut pandang kesehatan, makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi tikus sebaiknya tidak dianggap aman.

Masalahnya bukan cuma bekas gigitan. Tikus dapat meninggalkan urine, air liur, kotoran, hingga mikroorganisme yang bisa menyebabkan penyakit.

Tikus bisa membawa banyak penyakit

Dalam kesehatan masyarakat, tikus dikenal sebagai reservoir berbagai patogen. Artinya, hewan pengerat ini bisa membawa mikroorganisme penyebab penyakit tanpa terlihat sakit.

Beberapa penyakit yang berkaitan dengan tikus meliputi:

  • Leptospirosis.

  • Salmonelosis.

  • Hantavirus.

  • Demam gigitan tikus (rat-bite fever).

  • Beberapa infeksi parasit.

Manusia bisa terpapar penyakit dari tikus melalui paparan dari makanan terkontaminasi, urine, air liur, kotoran, atau permukaan yang terkena cairan tubuh tikus. Jadi, walaupun makanan kelihatannya cuma tergigit sedikit oleh tikus, risiko kontaminasi tetap ada.

Kenapa bekas gigitan tikus tidak boleh disepelekan?

Saat menggigit makanan, kemasan makanan, atau galon, tikus bisa memindahkan bakteri dan mikroorganisme ke permukaan yang terkena.

Selain itu, tikus sering berjalan di selokan, tempat sampah, saluran air kotor, dan area penuh bakteri.

Kontaminasi bisa terjadi bukan cuma dari gigitan, tetapi juga dari kaki dan tubuh tikus. Penelitian menunjukkan tikus perkotaan dapat membawa berbagai zoonosis yang relevan bagi kesehatan manusia.

Kalau makanannya dimasak lagi, apakah jadi aman?

ilustrasi tikus mengontaminasi makanan manusia (pexels.com/Vincent M.A. Janssen)

Jawabannya tidak selalu. Sebagian orang berpikir pemanasan akan otomatis membunuh semua risiko. Padahal ada beberapa masalah:

  • Kontaminasi mungkin sudah menyebar.

  • Beberapa toksin bakteri tidak selalu hilang sempurna.

  • Proses penyimpanan setelah terkontaminasi juga bisa memicu pertumbuhan bakteri.

Selain itu, sulit mengetahui seberapa luas area yang sebenarnya terkena urine atau air liur tikus. Karena itu, banyak panduan keamanan pangan menyarankan makanan yang sudah terkena tikus sebaiknya dibuang.

Bagaimana dengan air galon yang digigit tikus?

Ini juga sering membingungkan. Jika tikus hanya berjalan di bagian luar galon yang tertutup rapat, risiko mungkin berbeda dibanding jika tutup galon rusak, segel terbuka, ada bekas gigitan dekat mulut galon, atau bagian dispenser ikut terkontaminasi.

Masalahnya, air minum adalah sesuatu yang biasanya langsung masuk ke tubuh tanpa proses pemanasan. Jika ada keraguan bahwa bagian tutup atau area keluarnya air sudah terkena gigitan atau cairan tikus, lebih aman untuk tidak mengonsumsinya, apalagi jika segel rusak, ada kebocoran, atau terlihat tanda-tanda kontaminasi.

Kontaminasi tikus kadang tidak kelihatan

Urine tikus bisa sangat sedikit dan tidak selalu meninggalkan noda jelas. Kotoran kecil bisa tersembunyi di sudut kemasan. Bekas jilatan atau jejak kaki tentu tidak mudah dilihat. Karena itu, prinsip keamanan pangan biasanya menggunakan pendekatan kehati-hatian.

Jika ada kemungkinan kontaminasi signifikan dari tikus, makanan dan minuman lebih aman dibuang.

Makanan yang paling berisiko

ilustrasi tudung saji (unsplash.com/Paolo Chiabrando)

Risiko lebih tinggi pada:

  • Makanan yang tidak terlindungi rapat atau sudah terekspos lingkungan.

  • Makanan yang digigit kemasannya tipis.

  • Bahan kering seperti beras atau mi.

  • Makanan yang disimpan dalam waktu lama.

  • Makanan tanpa wadah tertutup.

Makanan kaleng yang tidak rusak biasanya lebih aman karena ada penghalang fisik kuat. Namun, bagian luar kaleng tetap perlu dibersihkan sebelum digunakan jika disimpan di area yang ada tikusnya.

Makanan atau air galon yang sudah tergigit atau kemungkinan terkontaminasi tikus sebaiknya tidak dianggap aman. Risiko utamanya bukan cuma bekas gigitan yang terlihat, tetapi kemungkinan adanya bakteri, virus, urine, atau air liur tikus yang tidak tampak oleh mata.

Karena tikus dapat membawa berbagai penyakit, amannya jangan mengambil risiko dari makanan dan minuman yang sudah terpapar. Membuang makanan yang diragukan sering kali jauh lebih aman.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) "Diseases from Rodents." Diakses Mei 2026.

CDC. "Cleaning Up After Rodents." Diakses Mei 2026.

US Food and Drug Administration. "Food Safety." Diakses Mei 2026.

Chelsea G. Himsworth et al., “Rats, Cities, People, and Pathogens: A Systematic Review and Narrative Synthesis of Literature Regarding the Ecology of Rat-Associated Zoonoses in Urban Centers,” Vector-Borne and Zoonotic Diseases 13, no. 6 (April 16, 2013): 349–59, https://doi.org/10.1089/vbz.2012.1195.

Bastiaan G Meerburg, Grant R Singleton, and Aize Kijlstra, “Rodent-borne Diseases and Their Risks for Public Health,” Critical Reviews in Microbiology 35, no. 3 (June 23, 2009): 221–70, https://doi.org/10.1080/10408410902989837.

Editorial Team