Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mitos atau Fakta: Masak Pakai Teflon Bisa Picu Kanker?
ilustrasi teflon (freepik.com/KamranAydinov)

Pernah gak sih kamu lagi masak santai di dapur, tiba-tiba kepikiran soal wajan teflon yang tiap hari dipakai? Awalnya terlihat biasa saja, tapi obrolan di media sosial tentang “teflon bisa picu kanker” bikin rasa tenang itu langsung goyah. Apalagi kalau wajan yang dipakai sudah mulai tergores, muncul rasa khawatir yang diam-diam terus mengganggu.

Di satu sisi, teflon dikenal praktis dan sering jadi pilihan utama untuk memasak tanpa banyak repot. Namun di sisi lain, beredar beragam informasi yang justru menimbulkan kebingungan, mana yang benar dan mana yang hanya sekadar mitos yang dilebih-lebihkan. Biar kamu gak terus diliputi rasa khawatir setiap kali di dapur, yuk simak penjelasan lengkapnya di artikel ini sampai semuanya terasa lebih jelas.

1. Teflon sebenarnya dibuat untuk memudahkan, bukan membahayakan

ilustrasi menggoreng telur dengan teflon (pexels.com/Amina Filkins)

Banyak orang menggunakan teflon karena sifatnya yang anti lengket dan praktis untuk memasak sehari-hari. Lapisan teflon terbuat dari bahan bernama PTFE yang dirancang tahan panas dan stabil saat digunakan dengan benar. Dalam kondisi normal, bahan ini tidak mudah bereaksi dengan makanan atau tubuh manusia.

Dengan kata lain, penggunaan teflon sesuai anjuran pada umumnya tidak serta-merta menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Rasa khawatir sering muncul karena informasi yang beredar tidak disertai penjelasan yang lengkap. Karena itu, memahami cara penggunaan yang benar jadi hal penting sebelum menarik kesimpulan soal bahayanya.

2. Isu kanker lebih sering dikaitkan dengan bahan kimia lama, bukan teflon modern

ilustrasi teflon (pexels.com/Sarah Chai)

Banyak informasi yang beredar menyebut teflon dapat memicu kanker, tetapi sering kali penjelasannya tidak disampaikan secara utuh. Dulu, proses produksinya memang menggunakan bahan kimia yang bernama PFOA yang diketahui berisiko bagi kesehatan. Namun, zat tersebut kini sudah tidak lagi dipakai dalam pembuatan teflon modern di berbagai negara.

Artinya, produk teflon yang tersedia saat ini umumnya memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Sayangnya, informasi lama masih terus beredar tanpa pembaruan yang jelas. Hal inilah yang kemudian membuat banyak orang keliru dalam memahami risiko sebenarnya.

3. Risiko bisa muncul jika teflon dipanaskan terlalu tinggi

ilustrasi memasak kepiting saus telur asin (pexels.com/Cihan Yüce)

Teflon pada dasarnya aman digunakan selama dipakai dengan cara yang tepat dan suhu yang normal. Namun, masalah bisa muncul ketika wajan dipanaskan terlalu tinggi dalam waktu lama. Pada suhu yang sangat tinggi, lapisan teflon berpotensi rusak dan mengeluarkan asap yang kurang baik bagi kesehatan.

Jika terhirup dalam jumlah banyak, asap ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Situasi ini umumnya terjadi saat wajan dibiarkan panas tanpa isi terlalu lama di atas kompor. Oleh karena itu, menjaga suhu tetap stabil dan tidak berlebihan saat memasak menjadi langkah penting untuk menghindari risiko tersebut.

4. Teflon yang tergores tidak selalu berbahaya, tapi tetap perlu diperhatikan

ilustrasi teflon (freepik.com/stockking)

Wajan teflon yang mulai tergores sering kali langsung dicap berbahaya untuk kesehatan. Padahal, serpihan kecil dari lapisannya umumnya tidak bersifat toksik selama tidak terpapar suhu yang terlalu tinggi. Dalam banyak kasus, partikel tersebut akan melewati sistem pencernaan tanpa diserap tubuh.

Namun, permukaan yang sudah rusak bisa membuat kemampuan anti lengketnya menurun. Goresan juga dapat mempercepat kerusakan jika wajan terus dipakai tanpa perawatan yang tepat. Karena itu, walaupun risikonya tidak langsung terasa, mengganti teflon yang sudah rusak parah tetap menjadi pilihan yang lebih aman.

5. Cara penggunaan yang tepat bisa meminimalkan risiko

ilustrasi mencuci teflon (freepik.com/freepik)

Pemakaian teflon yang tepat jadi faktor penting untuk menjaga keamanannya saat digunakan. Sebaiknya jangan memanaskan wajan dalam kondisi kosong terlalu lama karena suhu bisa naik dengan cepat. Gunakan api kecil hingga sedang agar lapisan teflon tetap terjaga dan tidak mudah rusak.

Selain itu, pilih alat masak berbahan kayu atau silikon supaya permukaannya tidak tergores. Saat mencuci, lakukan dengan perlahan agar lapisannya tidak cepat aus. Kebiasaan sederhana ini bisa membantu menjaga teflon tetap aman dan awet dipakai dalam jangka waktu lama.

6. Tidak semua informasi viral itu benar

ilustrasi memasak udang agar tetap juicy (unsplash.com/Kawê Rodrigues)

Banyak kabar soal bahaya teflon beredar luas di media sosial tanpa kejelasan sumber yang bisa dipercaya. Situasi ini sering memicu rasa khawatir berlebihan, padahal belum tentu sejalan dengan bukti ilmiah yang ada. Karena itu, penting untuk bisa memilah mana informasi yang didukung penelitian dan mana yang hanya opini semata.

Dengan memahami sumber yang kredibel, keputusan yang diambil pun terasa lebih mantap. Hindari langsung percaya pada klaim yang terdengar menyeramkan tanpa dasar yang jelas. Pada akhirnya, pemahaman yang tepat akan membantu kamu tetap tenang dan nyaman saat memasak.

Penggunaan teflon tidak perlu ditakuti selama kamu memahami cara pakainya dengan benar. Kunci utamanya ada pada pemakaian yang bijak dan tidak berlebihan, bukan sekadar percaya pada isu yang beredar. Dengan informasi yang tepat, kamu tetap bisa memasak dengan aman, nyaman, dan tanpa rasa khawatir berlebihan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy