penanganan pasien dengan masalah kardiovaskuler (commons.wikimedia.org/Press Information Department)
Perlu digarisbawahi terlebih dahulu bahwa dampak kesehatan yang disebabkan mikroplastik itu masih diteliti lebih lanjut, bahkan terbilang baru masuk tahapan awal. Maka dari itu, segala masalah medis yang akan dikemukakan pada poin ini lebih merujuk pada potensi berdasarkan temuan awal, tapi tetap berasal dari sumber-sumber yang kredibel. Sejauh ini, kekhawatiran utama dari kontaminasi mikroplastik pada tubuh manusia masih erat kaitannya dengan organ-organ tempat benda ini bersarang setelah masuk ke tubuh.
Dalam Yonsei Medical Journal berjudul “Health Effects of Microplastic Exposure: Current Issues and Perspectives in South Korea” karya Yongjin Lee, dkk., mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia itu punya beragam bentuk. Ada yang berbentuk kotak, bulat, memanjang, serta acak yang tak jarang punya sisi tajam dan mampu melukai organ dalam tubuh yang terkontaminasi. Belum lagi, kandungan racun dari polimer mikroplastik bisa bersifat racun begitu masuk ke berbagai bagian tubuh akibat luka yang ditimbulkan sebelumnya.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan pada hewan dan manusia untuk tahap awal, dampak kesehatan yang timbul paling banyak berkaitan dengan sistem pernapasan, pencernaan, endokrin, reproduksi, dan imun. Untuk lebih lengkapnya, inilah beberapa masalah medis yang dialami hewan uji lab berdasarkan organ atau sistem yang terjangkiti:
Pada sistem pernapasan, mikroplastik menyebabkan stres oksidatif di saluran pernapasan, utamanya ketika awal masuk. Akibatnya, tubuh akan mengalami batuk, bersin, sesak napas, sampai peradangan. Seramnya, mikroplastik yang berukuran nano punya peluang besar untuk masuk ke dalam sel paru-paru dan membawa racun sehingga menimbulkan risiko penyakit paru obstruktif kronik.
Pada sistem pencernaan, mikroplastik utamanya menyebabkan luka pada saluran makan sampai menjadi iritasi dan peradangan. Dalam tahapan yang ekstrem, mikroplastik di dalam usus menciptakan perubahan pada mikroba yang ada di sana sampai menyebabkan sakit perut, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar. Penyerapan racun pada mikroplastik turut jadi masalah yang ditemukan karena di dalam mikroplastik tak jarang ada akumulasi racun lingkungan, semisal logam berat dan hidrokarbon aromatik polisiklik yang berpindah ke dalam tubuh.
Pada sistem endokrin atau hormonal, mikroplastik memengaruhi proses produksi, pelepasan, pengangkutan, metabolisme, sampai pembuangan hormon tubuh karena racun yang dibawa itu terserap ke dalam tubuh. Malahan, racun itu sampai mengganggu sistem reproduksi seseorang karena dalam penelitian terbaru ditemukan mikroplastik di plasenta 6 ibu hamil serta adanya dugaan memengaruhi kualitas sperma bagi pria.
Berdasarkan hasil di atas, kita jadi tahu kalau untuk sementara ini ada dua cara mikroplastik mengganggu kesehatan manusia, yakni fisik dan racun. Maksudnya, mikroplastik berbentuk tajam dapat melukai secara langsung organ tubuh yang dihinggapi, sementara dalam jangka panjang, racun yang ada di dalamnya terakumulasi dan diserap tubuh sampai menyebabkan potensi penyakit yang lebih kronis. Sebenarnya, ada beberapa bagian tubuh lain yang berpotensi mengalami hal yang serupa karena mikroplastik turut ditemukan di dalamnya.
Dalam Jurnal Environment & Health berjudul, “Potential Health Impact of Microplastics: A Review of Environmental Distribution, Human Exposure, and Toxic Effects” karya Yue Li, dkk., disebutkan kalau mikroplastik berukuran nano sudah dikonfirmasi bersarang di sistem kardiovaskuler, hati, otak, ginjal, dan otot. Potensi mengalami masalah serupa memang ada, tapi sejauh ini penelitian masih terus didalami.