Tidak hanya risiko yang berbeda, penyakit Parkinson juga sering menunjukkan pola gejala yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki biasanya mengalami gejala motorik yang lebih berat, seperti tremor yang lebih jelas, gangguan berjalan, serta masalah keseimbangan. Mereka juga lebih sering mengalami gangguan kognitif yang berkaitan dengan perhatian dan memori.
Selain itu, beberapa gejala lain, seperti air liur berlebihan, gangguan kontrol impuls, perjudian kompulsif, atau perilaku hiperseksual juga lebih sering ditemukan pada laki-laki. Sebaliknya, perempuan sering mengalami gejala non motorik yang lebih menonjol, seperti depresi atau gangguan suasana hati. Mereka juga biasanya mengalami onset penyakit sekitar dua tahun lebih lambat dibandingkan laki-laki.
Memahami perbedaan ini bukan hanya penting bagi dunia medis, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang faktor risiko penyakit Parkinson. Dengan penelitian yang terus berkembang, diharapkan ke depan akan muncul strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih tepat sasaran bagi laki-laki maupun perempuan.
Referensi
Frédéric Moisan et al., “Parkinson Disease Male-to-female Ratios Increase With Age: French Nationwide Study and Meta-analysis,” Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry 87, no. 9 (December 23, 2015): 952–57, https://doi.org/10.1136/jnnp-2015-312283.
"Men and Parkinson’s Disease." Parkinson's NSW. Diakses pada April 2026.
"Men Have Higher Risk of Parkinson's, And We May Finally Know Why." Science Alert. Diakses pada April 2026.
"Largest Ever Parkinson’s Study Shows How Symptoms Differ between Men and Women." The Conversation. Diakses pada April 2026.