ilustrasi vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)
Para ahli yang terlibat dalam pengembangan Vaksin Nusantara mengatakan bahwa metode yang mereka gunakan ini cenderung lebih aman. Sebab, mereka menggunakan basis sel yang berasal dari tubuh setiap orang.
Keunggulan lain yang diklaim dimiliki oleh vaksin sel dendritik ini adalah sifatnya yang personal, halal, dan tidak mengandung komponen kimiawi lain. Mereka juga mengklaim bahwa vaksin ini bisa digunakan golongan orang yang saat ini tak masuk ke dalam kriteria vaksinasi.
Akan tetapi, di balik itu ada beberapa hal yang bisa disebut menjadi kelemahan vaksin sel dendritik. Pertama, prosesnya sangat rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Itulah kenapa selama ini metode tersebut hanya digunakan untuk imunoterapi kanker, tidak untuk pemakaian secara massal.
Terlebih lagi, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan vaksin sel dendritik tidak sedikit. Terapi kanker yang menggunakan metode tersebut membutuhkan biaya hingga ratusan juta rupiah. Akan tetapi, Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa biaya vaksin COVID-19 sel dendritik ini dibanderol seharga Rp140 ribu per dosis.
Itulah penjelasan mengenai sel dendritik yang dipakai sebagai teknologi Vaksin Nusantara gagasan Terawan. Vaksin ini masih dalam proses uji klinis. Tuai kritik, vaksin ini pun masih terus dipertanyakan perihal ketersediaan data.