Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret bersama anak sekolah dasar tersenyum dan berpose.
Potret bersama anak sekolah dasar tersenyum dan berpose. (pixabay.com/stokpik)

Intinya sih...

  • Kurangnya asupan serat pada anak Indonesia mengganggu sistem pencernaan dan melemahkan imunitas, berdampak pada prestasi akademik dan masa depan bangsa.

  • Satu dari dua anak Indonesia tidak mendapatkan asupan serat yang cukup, menyebabkan gangguan pencernaan seperti konstipasi dan diare, serta meningkatkan risiko tidak berprestasi secara akademik.

  • Tingginya angka anemia, stunting, dan gangguan pencernaan pada anak dapat menghambat Indonesia memanfaatkan bonus demografi untuk mencapai peradaban yang lebih maju.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah upaya Indonesia memanfaatkan bonus demografi, persoalan gizi dasar masih menjadi tantangan serius yang kerap luput dari perhatian. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan akses ekonomi, tetapi juga oleh kesehatan sistem pencernaan sejak dini.

Serat sering dianggap sepele, padahal tanpa asupan serat yang cukup, sistem pencernaan tidak bekerja optimal, imunitas melemah, dan proses belajar anak ikut terganggu,” imbuhnya dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Jakarta, pada Kamis (08/01/2026).

Kondisi ini menjadi krusial mengingat masih banyak anak Indonesia yang mengalami masalah gizi, mulai dari anemia hingga stunting, yang pada akhirnya berpotensi menghambat pencapaian prestasi akademik dan masa depan bangsa.

Persoalan asupan serat pada anak

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” (IDN Times/Misrohatun)

Dokter Ray mengungkapkan bahwa persoalan serat pada anak Indonesia berada pada level yang mengkhawatirkan. Ia menyebut, sekitar satu dari dua anak Indonesia tidak mendapatkan asupan serat yang cukup, pola makan mereka pun tidak beragam.

Kondisi ini berdampak langsung pada keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Ketika bakteri baik tidak mendapat “makanan”, gangguan pencernaan seperti konstipasi dan diare menjadi lebih sering terjadi.

“Kalau sistem pencernaan anak bermasalah, bukan hanya urusan perut. Anak dengan gangguan pencernaan memiliki risiko dua sampai tiga kali lipat untuk tidak berprestasi secara akademik di sekolah,” kata Dr. Ray. Menurutnya, ketika masalah ini dibiarkan, Indonesia bukan hanya menghadapi persoalan kesehatan anak, tetapi juga ancaman serius terhadap kualitas generasi produktif di masa depan.

Bonus demografi bisa gagal

Masalah ini menjadi semakin serius ketika dikaitkan dengan peluang Indonesia memasuki bonus demografi. Ia mengingatkan bahwa bonus demografi hanya dapat dimanfaatkan jika mayoritas penduduk usia produktif tumbuh sehat, kuat, dan memiliki kemampuan kognitif yang optimal.

Namun, tingginya angka anemia, stunting, serta gangguan pencernaan pada anak justru berpotensi membuat peluang tersebut terlewat.

“Bonus demografi itu bukan soal jumlah usia produktif yang besar, tapi soal kualitasnya. Kalau anak-anak kita tumbuh anemia, sering sakit, dan prestasi akademiknya rendah, maka bonus demografi hanya akan menjadi bonus di atas kertas,” tambah dr. Ray.

Menurutnya, tanpa intervensi gizi yang tepat dan sistemik dari keluarga, Indonesia berisiko gagal memanfaatkan momentum demografi yang seharusnya menjadi pijakan menuju peradaban yang lebih maju.

Editorial Team