Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi seseorang mengalami heartburn, gejala masalah asam lambung.
ilustrasi heartburn, masalah asam lambung, GERD (IDN Times/NRF)

Intinya sih...

  • Makan besar, makan larut malam, dan makanan tinggi lemak/gula sering memicu naiknya asam lambung melalui refluks asam.

  • Posisi tidur dan ritme pencernaan berperan besar dalam memperburuk gejala jika langsung berbaring setelah makan.

  • Strategi sederhana—porsi kecil, jeda makan–tidur, serta pilihan makanan cerdas—dapat membantu merayakan Imlek tanpa gangguan pencernaan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perayaan Imlek menyiratkan momen berkumpul yang penuh kehangatan dan hidangan yang berlimpah. Tak jarang keluarga menikmati makanan besar di malam hari, larut malam, atau menghabiskan banyak waktu di meja makan bersama. Namun, bagi kamu yang punya rentan terhadap asam lambung naik atau gastroesophageal reflux disease (GERD), pola ini bisa jadi “red flag” yang membuat gejala mudah kambuh.

Refluks gastroesofageal terjadi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, mengalir kembali ke kerongkongan (esofagus) karena katup di ujung bawah kerongkongan tidak menutup sempurna. Hal ini dapat memicu heartburn (sensasi terbakar di dada), regurgitasi, mual, dan ketidaknyamanan perut setelah makan, yang merupakan gejala umum GERD yang dipicu oleh faktor gaya hidup.

1. Makan porsi besar dan makan larut malam bisa memicu refluks

Saat perayaan Imlek, mudah sekali makan porsi besar sekaligus, apalagi pada malam hari usai aktivitas keluarga. Sayangnya, porsi makan besar bisa meningkatkan tekanan pada perut sehingga isi lambung lebih mudah terdorong kembali ke kerongkongan.

Studi menunjukkan bahwa volume makan besar dan kandungan kalori tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko refluks. Bahkan, ketika makan dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur, misalnya dalam 2–3 jam sebelum berbaring, risiko naiknya asam lambung makin besar karena gravitasi tidak membantu menahan isi lambung.

Makanan tinggi lemak, gorengan, saus berat, dan olahan manis yang sering hadir di meja saat Imlek juga dapat memperburuk refluks karena mereka lambat dicerna dan meningkatkan produksi asam lambung.

2. Faktor pola makan, ritme pencernaan, dan tidur

ilustrasi gejala asam lambung GERD (IDN Times/Novaya Siantita)

Selain porsi besar, waktu makan yang terlalu larut berpotensi memperberat gejala. Pencernaan bekerja berdasarkan ritme harian—setelah makan, tubuh membutuhkan waktu beberapa jam untuk mengosongkan perut dan mencerna makanan secara efisien. Jika kamu langsung berbaring setelah makan, kemampuan perut menahan asam lambung menurun, sehingga refluks lebih mudah terjadi.

Berbagai panduan kesehatan pencernaan merekomendasikan memberi jeda minimal 2–3 jam antara makan dan tidur, terutama jika riwayat GERD atau sensitif terhadap refluks. Selain itu, tidur dengan posisi kepala sedikit lebih tinggi dan menghindari pakaian yang terlalu menekan perut juga dapat membantu mencegah asam lambung naik saat malam hari.

3. Pilihan makanan dan strategi cerdas saat Imlek

Ada beberapa strategi yang bisa kamu terapkan untuk membantu mencegah gejala masalah asam lambung, seperti:

  • Pengaturan porsi dan frekuensi makan: Memilih makan kecil tapi beberapa kali lebih baik daripada makan satu porsi besar sekaligus, terutama pada malam hari. Ini membantu mengurangi tekanan perut dan risiko refluks.

  • Hindari makanan pemicu: Beberapa makanan dan minuman yang sering memicu refluks termasuk makanan berlemak tinggi, gorengan, minuman berkafein atau beralkohol, makanan pedas, dan minuman berkarbonasi. Mengurangi konsumsi jenis ini saat perayaan dapat membantu.

  • Perhatikan waktu makan dan posisi tubuh: Makan lebih awal, memberi jeda sebelum tidur, dan mempertahankan posisi tegak setelah makan membantu pencernaan berjalan lebih efisien dan mengurangi kemungkinan asam lambung naik ke esofagus.

Imlek seharusnya menjadi pengalaman yang menghangatkan, bukan berujung pada gangguan pencernaan. Memahami bagaimana porsi makan, makanan tinggi lemak/gula, waktu makan larut malam, serta kebiasaan tidur memengaruhi asam lambung dapat membantu merencanakan perayaan yang lebih nyaman. Dengan pengaturan porsi, pemilihan makanan yang cerdas, serta kebiasaan makan yang bijak, kamu bisa menikmati hidangan tradisional tanpa harus mengalami heartburn.

Referensi

"Gastroesophageal reflux disease (GERD)." Mayo Clinic. Diakses Februari 2026.

“How to Sleep Better with GERD and Acid Reflux.” Sleep Advisor. Diakses Februari 2026.

"Eating, Diet, & Nutrition for GER & GERD." National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Februari 2026.

"Begini Cara Mencegah Asam Lambung Naik.” Puskesmas Sesela. Diakses Februari 2026.

"Bukan Cuma Obat, Ini Tips Mencegah GERD Kambuh." Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Diakses Februari 2026.

Jakov Ivan Bucan et al., “Updates in Gastroesophageal Reflux Disease Management: From Proton Pump Inhibitors to Dietary and Lifestyle Modifications,” Gastrointestinal Disorders 7, no. 2 (April 30, 2025): 33, https://doi.org/10.3390/gidisord7020033.

Editorial Team