Suasana Lebaran sering membuat orang lebih permisif terhadap makanan. Ada dorongan untuk menikmati momen tanpa batas, ditambah tekanan sosial untuk mencicipi hidangan di setiap rumah.
Dalam psikologi makan, ini dikenal sebagai external eating, yang dapat meningkatkan asupan kalori tanpa disadari. Studi menunjukkan bahwa faktor sosial berperan besar dalam pola makan berlebih.
Kenaikan berat badan setelah Lebaran sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari pola makan, aktivitas, hingga perubahan hormonal. Tidak semua kenaikan berarti penambahan lemak, karena sebagian berasal dari cairan dan isi saluran pencernaan.
Yang terpenting adalah bagaimana kamu merespons setelahnya. Kembali ke pola makan seimbang, aktif bergerak, dan tidur cukup dapat membantu tubuh kembali ke kondisi normal.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention. “Healthy Weight, Nutrition, and Physical Activity.” Diakses Maret 2026.
Jack A. Yanovski et al., “A Prospective Study of Holiday Weight Gain,” New England Journal of Medicine 342, no. 12 (March 23, 2000): 861–67, https://doi.org/10.1056/nejm200003233421206.
Mayo Clinic. “Water Retention: Relieve This Premenstrual Symptom.” Diakses Maret 2026.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. “The Nutrition Source: Healthy Eating Plate.” Diakses Maret 2026.
Richard Patterson et al., “Sedentary Behaviour and Risk of All-cause, Cardiovascular and Cancer Mortality, and Incident Type 2 Diabetes: A Systematic Review and Dose Response Meta-analysis,” European Journal of Epidemiology 33, no. 9 (March 27, 2018): 811–29, https://doi.org/10.1007/s10654-018-0380-1.
National Sleep Foundation. “Sleep and Health.” Diakses Maret 2026.
World Health Organization. "Guideline: Sugars Intake for Adults and Children." Diakses Maret 2026.
O’Connor, D. B., & Conner, M. (2011). Effects of stress on eating behavior. In R. J. Contrada & A. Baum (Eds.). "The handbook of stress science: Biology, psychology, and health" (pp. 275–286). Springer Publishing Company.