Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Berat Badan Cepat Naik Setelah Lebaran?
ilustrasi berat badan naik setelah Lebaran (freepik.com/freepik)
  • Kenaikan berat badan setelah Lebaran dipengaruhi perubahan pola makan dan aktivitas.

  • Tidak semua kenaikan berasal dari lemak, sebagian bisa dari retensi cairan.

  • Kebiasaan kecil selama beberapa hari bisa berdampak besar pada metabolisme.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari pemahaman ilmiah tentang kenaikan berat badan setelah Lebaran. Penjelasan bahwa sebagian besar kenaikan berasal dari retensi cairan dan perubahan pola makan sementara membantu mengurangi kekhawatiran berlebih. Dengan demikian, informasi yang disajikan memberi rasa tenang dan pemahaman bahwa tubuh memiliki kemampuan alami untuk kembali seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah melewati Ramadan dengan pola makan yang lebih teratur, tubuh sebenarnya sudah beradaptasi dengan ritme baru. Namun saat Lebaran, pola ini bisa berubah cukup drastis. Frekuensi makan meningkat, jenis makanan lebih tinggi kalori, dan aktivitas fisik sering menurun.

Tidak heran jika banyak orang merasa angka di timbangan naik dalam waktu singkat. Bahkan, kenaikannya bisa terasa tidak masuk akal hanya dalam beberapa hari. Hal ini sering menimbulkan kekhawatiran, padahal tidak semuanya berarti penambahan lemak.

Untuk memahami fenomena ini, penting melihat apa saja yang terjadi di dalam tubuh selama periode Lebaran.

1. Lonjakan asupan kalori dalam waktu singkat

Hidangan Lebaran umumnya tinggi kalori dari kombinasi karbohidrat, lemak, dan gula dalam satu waktu. Ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh, kelebihannya akan disimpan sebagai energi cadangan. Kelebihan kalori secara konsisten akan disimpan sebagai lemak tubuh.

Penelitian juga menunjukkan bahwa periode liburan dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang signifikan, meski hanya berlangsung beberapa hari.

2. Retensi cairan akibat makanan tinggi garam dan karbohidrat

ilustrasi aneka hidangan Lebaran (vecteezy.com/ikarahma)

Kenaikan berat badan setelah Lebaran tidak selalu berasal dari lemak. Banyak hidangan mengandung natrium tinggi (seperti opor, sambal goreng, dan makanan olahan), yang menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan.

Selain itu, konsumsi karbohidrat tinggi meningkatkan cadangan glikogen di otot. Setiap gram glikogen mengikat sekitar 3–4 gram air.

Perubahan pola makan dapat memicu retensi cairan sementara dalam tubuh. Itulah sebabnya berat badan bisa naik cepat dalam hitungan hari.

3. Frekuensi makan meningkat

Selama Lebaran, makan tidak hanya terjadi saat waktu utama, tetapi juga saat berkunjung ke rumah lain. Makanan kecil, camilan, dan minuman manis dikonsumsi berulang sepanjang hari.

Frekuensi makan yang tinggi tanpa kontrol porsi dapat meningkatkan total asupan energi harian. Masalahnya, konsumsi ini sering terjadi tanpa rasa lapar, sehingga tubuh menerima lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan.

4. Penurunan aktivitas fisik

ilustrasi bersilaturahmi saat Lebaran (pexels.com/Thirdman)

Aktivitas selama Lebaran cenderung lebih banyak duduk, baik saat silaturahmi, perjalanan, maupun beristirahat.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku sedenter (minim gerak, kebanyakan duduk atau rebahan) berhubungan dengan penurunan pengeluaran energi dan peningkatan risiko kenaikan berat badan. Ketika asupan meningkat tetapi aktivitas menurun, surplus energi menjadi makin besar.

5. Pola tidur terganggu

Begadang dan perubahan jadwal tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan.

Kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin (pemicu lapar) dan menurunkan leptin (penekan nafsu makan). Akibatnya, kamu cenderung makan lebih banyak dan memilih makanan tinggi kalori.

6. Konsumsi gula dan minuman manis dalam jumlah banyak

ilustrasi minuman manis yang disajikan saat Lebaran (vecteezy.com/Bigc Studio)

Sirop, minuman kemasan, dan kue manis menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran. Gula tambahan memberikan kalori tinggi tanpa rasa kenyang yang bertahan lama.

Konsumsi gula berlebih berkaitan dengan peningkatan berat badan dan gangguan metabolik.

Lonjakan gula darah yang cepat juga membuat tubuh lebih cepat lapar kembali.

7. Faktor psikologis dan suasana sosial

Suasana Lebaran sering membuat orang lebih permisif terhadap makanan. Ada dorongan untuk menikmati momen tanpa batas, ditambah tekanan sosial untuk mencicipi hidangan di setiap rumah.

Dalam psikologi makan, ini dikenal sebagai external eating, yang dapat meningkatkan asupan kalori tanpa disadari. Studi menunjukkan bahwa faktor sosial berperan besar dalam pola makan berlebih.

Kenaikan berat badan setelah Lebaran sebenarnya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari pola makan, aktivitas, hingga perubahan hormonal. Tidak semua kenaikan berarti penambahan lemak, karena sebagian berasal dari cairan dan isi saluran pencernaan.

Yang terpenting adalah bagaimana kamu merespons setelahnya. Kembali ke pola makan seimbang, aktif bergerak, dan tidur cukup dapat membantu tubuh kembali ke kondisi normal.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Healthy Weight, Nutrition, and Physical Activity.” Diakses Maret 2026.

Jack A. Yanovski et al., “A Prospective Study of Holiday Weight Gain,” New England Journal of Medicine 342, no. 12 (March 23, 2000): 861–67, https://doi.org/10.1056/nejm200003233421206.

Mayo Clinic. “Water Retention: Relieve This Premenstrual Symptom.” Diakses Maret 2026.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “The Nutrition Source: Healthy Eating Plate.” Diakses Maret 2026.

Richard Patterson et al., “Sedentary Behaviour and Risk of All-cause, Cardiovascular and Cancer Mortality, and Incident Type 2 Diabetes: A Systematic Review and Dose Response Meta-analysis,” European Journal of Epidemiology 33, no. 9 (March 27, 2018): 811–29, https://doi.org/10.1007/s10654-018-0380-1.

National Sleep Foundation. “Sleep and Health.” Diakses Maret 2026.

World Health Organization. "Guideline: Sugars Intake for Adults and Children." Diakses Maret 2026.

O’Connor, D. B., & Conner, M. (2011). Effects of stress on eating behavior. In R. J. Contrada & A. Baum (Eds.). "The handbook of stress science: Biology, psychology, and health" (pp. 275–286). Springer Publishing Company.

Editorial Team