Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gigi Pelari Jarak Jauh Lebih Rentan Berlubang, Kok Bisa?
ilustrasi lari jarak jauh (unsplash.com/Capstone Events)

  • Penelitian menunjukkan pelari jarak jauh lebih rentan mengalami karies dan erosi enamel akibat kombinasi dehidrasi, mulut kering, serta konsumsi minuman olahraga tinggi gula dan asam.
  • Mulut kering saat latihan intens menurunkan produksi saliva yang berfungsi melindungi enamel, sementara napas lewat mulut memperparah kekeringan dan meningkatkan risiko kerusakan gigi.
  • Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga hidrasi, menunda menyikat gigi setelah minuman asam, berkumur setelah konsumsi sports nutrition, serta rutin memeriksa kesehatan gigi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari meningkatnya perhatian terhadap kesehatan gigi di kalangan pelari jarak jauh. Penelitian yang mengungkap risiko karies dan erosi enamel justru membuka peluang bagi atlet untuk memahami tubuhnya lebih menyeluruh. Dengan langkah sederhana seperti menjaga hidrasi dan kebersihan mulut, performa serta kenyamanan berlari dapat semakin optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lari selalu dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Tubuh aktif bergerak, kardiorespirasi terlatih, bentuk olahraga rutin, dan mungkin lebih memperhatikan pola makan serta tampak bugar.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir penelitian di bidang olahraga menemukan sesuatu yang cukup menarik, bahwa atlet endurance, termasuk pelari jarak jauh, ternyata memiliki risiko masalah kesehatan mulut yang sebaiknya tidak disepelekan.

Masalahnya bukan cuma gigi sensitif atau bau mulut setelah latihan panjang. Beberapa penelitian menemukan prevalensi karies, erosi enamel, dan gangguan gusi yang cukup tinggi pada atlet endurance. Kok bisa? Ternyata ada kombinasi beberapa faktor yang menyebabkan perubahan signifikan pada kondisi mulut.

Kenapa pelari jarak jauh lebih rentan mengalami gigi berlubang?

Saat berlari, tubuh mengalami banyak perubahan fisiologis. Napas menjadi lebih cepat, cairan tubuh berkurang melalui keringat, dan produksi air liur dapat menurun.

Air liur punya peran penting dalam menjaga kesehatan gigi, yaitu membantu menetralkan asam, membersihkan sisa makanan, dan melindungi enamel gigi. Ketika produksi air liur menurun, lingkungan mulut jadi lebih kering dan lebih asam. Dalam kondisi seperti itu bakteri penyebab karies kesempatannya lebih besar untuk berkembang.

Penelitian menemukan bahwa atlet endurance memiliki tingkat masalah kesehatan gigi yang cukup tinggi, termasuk karies dan erosi enamel. Para peneliti menilai kombinasi antara dehidrasi, pola konsumsi minuman olahraga, serta stres fisiologis saat latihan intens menjadi faktor penting.

1. Mulut kering saat lari

Saat lari jarak jauh atau latihan intens, tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat. Jika hidrasi tidak optimal, produksi saliva ikut menurun.

Mulut kering membuat kemampuan alami tubuh untuk membersihkan bakteri dan asam menjadi berkurang. Akibatnya, plak lebih mudah terbentuk dan bakteri penyebab gigi berlubang memiliki lingkungan yang lebih mendukung untuk berkembang.

Selain itu, banyak pelari bernapas lewat mulut, terutama saat intensitas meningkat. Ternyata, ini makin mempercepat penguapan cairan di rongga mulut dan memperparah rasa kering.

Dalam jangka panjang, kombinasi mulut kering dan lingkungan asam dapat meningkatkan risiko kerusakan enamel.

Perlu diketahui bahwa air liur adalah sistem pertahanan alami mulut. Selain membantu menetralkan asam, saliva mengandung mineral seperti kalsium dan fosfat yang membantu proses remineralisasi enamel gigi. Ketika jumlahnya berkurang terus-menerus, kemampuan perlindungan ini ikut menurun.

2. Konsumsi minuman olahraga dan energy gel

ilustrasi running gel atau energy gel (pexels.com/Wesley Davi)

Banyak pelari mengandalkan minuman olahraga untuk membantu mempertahankan energi dan elektrolit selama latihan panjang. Namun dari sisi kesehatan gigi, sebagian produk ini memiliki kadar gula dan tingkat keasaman cukup tinggi.

Asam dapat melemahkan enamel, sementara gula menjadi makanan bagi bakteri penyebab karies.

Penelitian menunjukkan paparan minuman asam berulang dapat meningkatkan risiko erosi gigi, terutama jika dikonsumsi dalam waktu lama selama latihan endurance.

Energy gel juga dapat memengaruhi kesehatan gigi. Produk ini populer dikonsumsi untuk endurance running ataupun race, tetapi teksturnya lengket dan biasanya mengandung karbohidrat sederhana. Jika sisa gel menempel di gigi dalam waktu lama, bakteri di mulut akan memakan gula itu sebagai makanan dan menghasilkan asam yang merusak email gigi.

Risiko meningkat jika konsumsi gel dilakukan berulang tanpa hidrasi atau pembersihan mulut yang cukup.

Dalam kesehatan gigi, seberapa sering konsumsi gula bisa lebih berpengaruh dibanding jumlah gulanya. Jadi, minum minuman olahraga sedikit demi sedikit selama berjam-jam dapat membuat kondisi mulut terus asam dan memberi lebih banyak kesempatan bagi bakteri merusak gigi. Sementara itu, saat makan biasa, air liur punya waktu untuk membantu menetralkan asam dan melindungi gigi kembali.

3. Sistem imun dan peradangan saat latihan berat

Latihan endurance berat sementara dapat memengaruhi sistem imun dan meningkatkan stres oksidatif tubuh. Perubahan ini juga bisa memengaruhi kesehatan jaringan mulut dan gusi.

Pada beberapa atlet, peredangan ringan kronis dan recovery yang kurang optimal dapat membuat kesehatan mulut lebih rentan terganggu.

Menariknya, masalah gigi ternyata juga dapat memengaruhi performa atlet.

Penelitian pada atlet Olimpiade menemukan bahwa gangguan kesehatan mulut dapat mengganggu kualitas tidur, nutrisi, dan kenyamanan saat latihan. Artinya, kesehatan gigi tidak boleh diabaikan.

Faktanya, mulut adalah bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Peradangan di rongga mulut dapat memengaruhi kondisi tubuh secara sistemik. Jadi, menjaga kesehatan gigi pada pelari bukan hanya soal mencegah lubang, tetapi juga mendukung kualitas recovery dan performa.

4. Pola makan yang tinggi karbohidrat

ilustrasi makan sumber karbohidrat sebelum lari (pexels.com/Kampus Production)

Pelari endurance sering mengonsumsi karbohidrat lebih banyak untuk mendukung kebutuhan energi dan recovery. Masalah muncul ketika sumber karbohidrat sering dikonsumsi dalam bentuk manis, lengket, atau terlalu sering sepanjang hari. Seperti yang disebut sebelumnya, bakteri mulut menggunakan gula tersebut untuk menghasilkan asam yang merusak enamel.

Selain itu, sebagian pelari terbiasa makan sedikit tetapi sering untuk menjaga energi. Jika kebersihan mulut tidak optimal, frekuensi paparan gula yang tinggi dapat meningkatkan risiko gigi berlubang. Terlebih lagi jika dikombinasikan dengan mulut kering akibat latihan.

Akan tetapi, bukan berarti pelari harus takut karbohidrat karena ini tetap penting bagi performa endurance. Yang perlu diperhatikan adalah timing, pilihan produk, hidrasi, dan kebersihan mulut setelah latihan atau race.

5. Kurang menyadari risiko kesehatan gigi

Pelari umumnya lebih memperhatikan pace, VO2 max, sepatu, atau recovery otot dibanding kesehatan mulut. Padahal, masalah gigi sering berkembang perlahan tanpa gejala jelas di awal. Ketika nyeri mulai muncul, kerusakan biasanya sudah cukup signifikan.

Penampilan fit tidak selalu mencerminkan kondisi rongga mulut yang baik. Beberapa atlet elite bahkan ditemukan memiliki tingkat erosi gigi yang cukup tinggi meski secara fisik sangat bugar. Ini menunjukkan bahwa olahraga rutin saja tidak otomatis melindungi kesehatan mulut.

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi masalah gigi sebelum menjadi lebih serius. Bagi pelari dengan volume latihan tinggi, kesehatan gigi sebaiknya menjadi bagian dari perawatan kesehatan secara keseluruhan.

Cara mencegah gigi berlubang pada pelari

ilustrasi seorang pelari berkonsultasi dengan dokter gigi (pexels.com/Kaboompics)

  • Jaga hidrasi. Hidrasi membantu mempertahankan produksi saliva dan mengurangi mulut kering. Minum air putih setelah minum minuman olahraga atau energy gel juga membantu membersihkan sisa gula dan asam di mulut.

  • Jangan langsung menyikat gigi setelah minum minuman asam. Menyikat gigi segera setelah paparan asam dapat memperparah erosi enamel. Tunggu sekitar 30–60 menit sebelum menyikat gigi agar enamel punya waktu kembali stabil.

  • Perhatikan pola konsumsi sports nutrition. Gunakan produk sesuai kebutuhan latihan, bukan sekadar kebiasaan. Jika memungkinkan, berkumur dengan air setelah konsumsi gel atau minuman olahraga.

  • Rutin periksa kesehatan gigi dan mulut. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi erosi enamel, karies awal, atau masalah gusi sebelum berkembang lebih jauh.

Lari memang menyehatkan, tetapi bukan berarti bebas dari masalah kesehatan gigi dan mulut. Pada pelari endurance, kombinasi dehidrasi, mulut kering, minuman olahraga, dan pola makan tertentu dapat menciptakan lingkungan yang lebih rentan terhadap gigi berlubang dan erosi enamel.

Kabar baiknya, sebagian besar risiko ini dapat dikurangi dengan langkah sederhana: hidrasi yang baik, kebersihan mulut yang konsisten, serta penggunaan sports nutrition secara lebih bijak. Dalam jangka panjang, kesehatan gigi bukan hanya membantu menjaga senyum tetap sehat, tetapi juga mendukung kenyamanan dan performa saat berlari.

Referensi

I Needleman et al., “Oral Health and Impact on Performance of Athletes Participating in the London 2012 Olympic Games: A Cross-sectional Study,” British Journal of Sports Medicine 47, no. 16 (September 24, 2013): 1054–58, https://doi.org/10.1136/bjsports-2013-092891.

“Mouth Healthy: Saliva and Oral Health.” American Dental Association. Diakses Mei 2026.

Neil P. Walsh, “Nutrition and Athlete Immune Health: New Perspectives on an Old Paradigm,” Sports Medicine 49, no. S2 (November 6, 2019): 153–68, https://doi.org/10.1007/s40279-019-01160-3.

“Effects of Sports Drinks and Other Beverages on Dental Enamel,” PubMed, February 1, 2005, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15779219/.

“Sports Drinks and Dental Erosion,” PubMed, April 1, 2005, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15973827/.

David Nieman, “Exercise, Infection, and Immunity,” International Journal of Sports Medicine 15, no. S 3 (October 1, 1994): S131–41, https://doi.org/10.1055/s-2007-1021128.

Editorial Team