Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perbedaan Lupus dan Artritis Reumatoid, Sama-sama Penyakit Autoimun
ilustrasi seorang lansia mengalami artritis reumatoid pada jari tangannya (pexels.com/cottonbro studio)
  • Lupus menyerang berbagai organ tubuh seperti kulit, ginjal, dan jantung, sedangkan artritis reumatoid lebih fokus pada sendi kecil tangan, kaki, serta dapat menyebabkan deformitas bila tidak diobati.
  • Gejala lupus lebih bervariasi dengan ruam kupu‑kupu dan gangguan organ dalam, sementara artritis reumatoid menimbulkan nyeri sendi simetris yang konsisten dan bisa membentuk nodul di sekitar sendi.
  • Diagnosis lupus ditandai antibodi ANA positif, sedangkan artritis reumatoid dengan faktor rheumatoid atau anti‑CCP; keduanya memerlukan terapi imunosupresif berbeda sesuai organ yang terkena.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sekilas, lupus dan artritis reumatoid memang terlihat mirip karena sama-sama termasuk penyakit autoimun yang menyerang tubuh sendiri.

Keduanya juga bisa menyebabkan nyeri sendi, kelelahan, hingga peradangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun sebenarnya, lupus dan artritis reumatoid sangat berbeda. Dari mulai bagian tubuh yang diserang, gejala khas, hingga tingkat komplikasinya.

Karena gejalanya sering tumpang tindih, banyak orang sulit membedakan kedua kondisi autoimun ini. Padahal, memahami perbedaannya penting agar penanganan bisa dilakukan dengan tepat sejak dini.

1. Pengertian dan target organ

Lupus, lengkapnya disebut systemic lupus erythematosus (SLE), adalah penyakit autoimun yang bersifat sistemik. Artinya, kondisi ini bisa menyerang hampir semua organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, jantung, paru‑paru, darah, dan bahkan otak.

Artritis reumatoid lebih terfokus pada sendi, terutama sendi kecil tangan, pergelangan, kaki, dan lutut. Namun, pada kasus lebih lanjut peradangan bisa juga menyerang jantung, paru‑paru, dan mata.

Singkatnya, lupus cenderung menyerang seluruh tubuh, sedangkan artritis reumatoid terutama menyerang sendi‑sendi.

2. Gejala sendi yang khas

Baik lupus maupun artritis reumatoid sama-sama bisa menyebabkan nyeri sendi, bengkak, dan kaku, tetapi ada beberapa ciri yang membedakan:

  • Pada artritis reumatoid, nyeri dan kaku terutama paling buruk di pagi hari, sering berlangsung lebih dari 30 menit, dan biasanya bersifat simetris (kedua tangan atau kedua lutut sama‑sama sakit).

  • Pada lupus, nyeri sendi bisa muncul sepanjang hari, tidak selalu kaku sangat berat di pagi hari, dan polanya lebih bervariasi: bisa simetris, bisa satu sisi saja, dan kadang seperti berpindah‑pindah sendi.

Selain itu, artritis reumatoid dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen dan deformitas seperti jari yang bengkok atau mengepal. Sementara itu, lupus biasanya tidak sampai merusak sendi hingga terjadi deformitas berat.

3. Tanda‑tanda di luar sendi

ilustrasi ruam kupu-kupu pada orang dengan penyakit lupus (commons.wikimedia.org/M. Sand, D. Sand, C. Thrandorf, V. Paech, P. Altmeyer, F. G. Bechara)

Perbedaan besar lain adalah ruang lingkup gejala di luar sendi:

  • Lupus sangat sering mengenai kulit dan organ dalam. Pasien lupus bisa mengalami ruam berbentuk kupu‑kupu di pipi dan hidung, fotosensitivitas (kulit sangat sensitif terhadap sinar matahari), kerontokan rambut, ulkus mulut, serta gangguan ginjal, jantung, paru‑paru, dan pembuluh darah.

  • Artritis reumatoid lebih jarang menyebabkan ruam khas. Jika ada, biasanya berupa nodul reumatoid di kulit sekitar sendi, bukan ruam kupu‑kupu di wajah. Peradangan pada organ dalam (misalnya jantung, paru) bisa terjadi pada artritis reumatoid, tetapi tidak seumum dan seberagam pada lupus.

Secara umum, gejala lupus sering lebih beragam dan naik‑turun (flares), sementara artritis reumatoid cenderung memberikan nyeri sendi yang lebih konsisten dan progresif jika tidak diobati.

4. Tes darah dan penanda laboratorium

Diagnosis lupus dan artritis reumatoid dibantu oleh tes darah yang berbeda:

  • Pada lupus, tes positif yang amat khas adalah antibodi antinuklir (ANA) yang biasanya positif, dan banyak pasien juga memiliki antibodi lain seperti anti‑dsDNA atau anti‑Sm.

  • Pada artritis reumatoid, penanda utama adalah faktor rheumatoid (RF) dan antibodi anti‑cyclic citrullinated peptide (anti‑CCP) yang sering positif; sebagian besar pasien artritis reumatoid tidak memiliki ANA positif.

Hanya sekitar 40 persen pasien lupus yang menunjukkan faktor reumatoid positif, sedangkan hampir semua pasien artritis reumatoid memiliki faktor rheumatoid atau anti‑CCP positif.

5. Pengobatan dan dampak jangka panjang

Baik lupus maupun artritis reumatoid tidak bisa disembuhkan, tetapi keduanya bisa diatasi dengan obat remitif (agar penyakit tidur atau tidak aktif).

Obat yang digunakan sering tumpang tindih. Misalnya kortikosteroid, obat antimalaria (hidroksiklorokuin) untuk lupus, dan obat penekan imun atau terapi biologis (DMARDs) untuk artritis reumatoid. Namun, strategi akan disesuaikan dengan organ yang terkena dan keparahan penyakit.

Secara umum, lupus dianggap lebih beragam dan bisa lebih berbahaya jika menyerang organ penting, seperti ginjal atau otak. Sementara itu, artritis reumatoid cenderung lebih fokus pada cacat sendi dan penurunan kualitas hidup akibat keterbatasan gerak. Namun, tingkat keparahan sangat bervariasi pada setiap individu.

Demikianlah perbedaan lupus dan artritis reumatoid. Jika mengalami nyeri sendi disertai demam, ruam, atau gejala organ dalam, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis reumatologi agar lupus dan artritis reumatoid bisa dibedakan secara tepat dan diterapi sejak dini.

Referensi

Hightower Clinical. "Lupus vs Rheumatoid Arthritis: Understanding the Key Differences." Diakses pada Mei 2026.

Medical News Today. "Lupus vs. Rheumatoid Arthritis: What to Know." Diakses pada Mei 2026.

Pure Rheumatology London. "Which is Worse Lupus or Rheumatoid Arthritis (RA)." Diakses pada Mei 2026.

Ubie Health. "What’s The Difference between Lupus and Rheumatoid Arthritis or Fibromyalgia?" Diakses pada Mei 2026.

Editorial Team