Pendekatan pengobatan migrain episodik biasanya fokus pada menghentikan serangan saat terjadi. Beberapa langkah yang umum dilakukan antara lain:
Mengonsumsi obat pereda nyeri.
Menggunakan obat khusus migrain, seperti triptan.
Istirahat di ruangan gelap dan tenang.
Mengidentifikasi serta menghindari pemicu migrain.
Sementara itu, migrain kronis biasanya memerlukan pengobatan pencegahan jangka panjang. Dokter dapat meresepkan obat preventif yang diminum setiap hari, seperti topiramate atau beta-blocker.
Selain itu, beberapa terapi lain juga sering digunakan, misalnya:
Suntikan Botox setiap 12 minggu.
Terapi perilaku atau manajemen stres.
Perangkat neuromodulasi.
Pendekatan perawatan multidisiplin.
Penanganan yang dilakukan lebih awal dapat membantu mencegah migrain episodik berkembang menjadi migrain kronis.
Jika migrain mulai terjadi lebih dari 10 hari dalam satu bulan, mengganggu aktivitas, atau polanya berubah dari biasanya, segera temui dokter atau ahli saraf. Mencatat frekuensi dan pemicu sakit kepala, misalnya melalui aplikasi atau jurnal harian, juga bisa membantu proses diagnosis. Dengan penanganan yang tepat, baik migrain episodik maupun kronis dapat dikontrol sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Referensi
Healthline. Diakses pada Maret 2026. "Episodic Migraine vs. Chronic Migraine: What Are the Differences?"
NeurologyLive. Diakses pada Maret 2026. "The Difference Between Episodic and Chronic Migraine."
PS Neurology. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines vs. Episodic Migraines: Key Differences and Treatments."
Continental Hospitals. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines vs. Episodic Migraines: Understanding the Differences."
WebMD. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines Explained."