Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perbedaan Migrain Episodik dan Migrain Kronis, Jangan Keliru
Ilustrasi migrain (freepik.com/benzoix)
  • Migrain adalah gangguan neurologis kompleks dengan gejala nyeri berdenyut, mual, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara, terbagi menjadi migrain episodik dan kronis berdasarkan frekuensi serangan.
  • Migrain episodik terjadi kurang dari 15 hari per bulan dengan periode bebas sakit kepala, sedangkan migrain kronis muncul 15 hari atau lebih dan sering mengganggu aktivitas harian secara signifikan.
  • Penanganan migrain episodik fokus menghentikan serangan saat terjadi, sementara migrain kronis memerlukan terapi pencegahan jangka panjang seperti obat harian, suntikan Botox, atau manajemen stres.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Migrain kerap dianggap sama dengan sakit kepala biasa. Padahal, kondisi ini sebenarnya merupakan gangguan neurologis yang cukup kompleks dan bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Migrain biasanya ditandai dengan sakit kepala yang berdenyut, kadang bisa disertai mual, sensitivitas terhadap cahaya dan suara, bahkan gangguan penglihatan yang disebut aura.

Namun, tidak semua migrain memiliki pola yang sama. Secara umum, migrain dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu migrain episodik dan migrain kronis. Perbedaan paling utama di antara keduanya terletak pada frekuensi serangan dan dampaknya terhadap kehidupan penderita. Memahami perbedaannya penting karena pendekatan penanganannya juga bisa berbeda.

1. Apa itu migrain episodik?

Migrain episodik adalah jenis migrain yang terjadi kurang dari 15 hari dalam satu bulan. Serangan ini biasanya berlangsung antara 4 hingga 72 jam jika tidak diobati.

Pada migrain episodik, seseorang masih memiliki cukup banyak hari tanpa sakit kepala. Artinya, di antara serangan migrain, mereka dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

Gejala migrain episodik umumnya, meliputi:

  • Nyeri kepala berdenyut, biasanya di satu sisi kepala.

  • Sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia).

  • Sensitivitas terhadap suara (fonofobia).

  • Mual atau muntah.

  • Aura, seperti kilatan cahaya atau garis zigzag pada penglihatan.

Serangan migrain episodik juga sering dipicu oleh beberapa faktor tertentu, misalnya:

  • Stres atau tekanan emosional.

  • Perubahan hormon.

  • Kurang atau terlalu banyak tidur.

  • Makanan tertentu, seperti keju tua.

  • Paparan cahaya terang atau faktor lingkungan lainnya.

Migrain episodik sendiri masih dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu frekuensi rendah (kurang dari 10 hari sakit kepala per bulan) dan frekuensi tinggi (10–14 hari per bulan). Namun, keduanya tetap memberi waktu pemulihan bagi penderita.

Sebagian besar kasus migrain episodik dapat ditangani dengan obat pereda nyeri akut seperti triptan atau NSAID, sehingga penderita masih bisa kembali beraktivitas setelah serangan yang mereda alami.

2. Apa itu migrain kronis?

Migrain kronis merupakan kondisi yang lebih berat. Diagnosis ini diberikan ketika seseorang mengalami sakit kepala selama 15 hari atau lebih dalam satu bulan selama minimal tiga bulan berturut-turut, dengan setidaknya delapan hari memiliki gejala khas migrain.

Pada kondisi ini, sakit kepala bisa terasa hampir setiap hari. Kadang berupa serangan migrain penuh, tetapi di hari lain bisa muncul sakit kepala yang lebih ringan. Akibatnya, penderita merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar bebas dari sakit kepala.

Gejala migrain kronis biasanya lebih berat dan mengganggu, seperti:

  • Serangan migrain yang berlangsung lebih lama.

  • Sensitivitas yang lebih tinggi terhadap cahaya dan suara.

  • Rasa sakit yang lebih intens.

  • Gangguan aktivitas sehari-hari yang lebih signifikan.

Frekuensi serangan yang tinggi juga membuat penderitanya berisiko mengalami medication overuse headache, yaitu sakit kepala yang muncul karena penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan.

Menariknya, migrain kronis sering berkembang dari migrain episodik yang tidak tertangani dengan baik. Sekitar 2,5 persen penderita migrain episodik dapat berkembang menjadi migrain kronis.

3. Perbedaan utama migrain episodik dan kronis

ilustrasi orang terkena migrain (pexels.com/Liza Summer)

Berikut beberapa perbedaan yang paling mencolok antara kedua jenis migrain ini:

  • Frekuensi serangan: Migrain episodik terjadi kurang dari 15 hari per bulan, sedangkan migrain kronis muncul 15 hari atau lebih dalam satu bulan.

  • Durasi dan pola sakit kepala: Migrain episodik biasanya berlangsung 4–72 jam per serangan dan diikuti periode bebas sakit kepala. Pada migrain kronis, sakit kepala bisa terjadi hampir setiap hari atau saling tumpang tindih.

  • Tingkat keparahan: Migrain episodik memiliki tingkat keparahan yang bervariasi dan masih memberi waktu pemulihan. Sebaliknya, migrain kronis cenderung lebih intens dan berkepanjangan.

  • Dampak pada kehidupan sehari-hari: Migrain kronis biasanya menyebabkan gangguan aktivitas yang jauh lebih besar, termasuk pada pekerjaan, hubungan sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Meski begitu, kondisi ini tidak selalu permanen. Sekitar 26 persen penderita migrain kronis dapat kembali menjadi migrain episodik dalam waktu dua tahun jika mendapatkan penanganan yang tepat.

4. Penyebab dan faktor risiko

Migrain episodik dan kronis sebenarnya memiliki beberapa faktor penyebab yang sama, termasuk faktor genetik dan pemicu lingkungan. Namun, migrain kronis sering dikaitkan dengan beberapa faktor risiko tambahan, seperti:

  • Serangan migrain episodik yang terlalu sering.

  • Stres berkepanjangan.

  • Obesitas.

  • Konsumsi kafein berlebihan.

  • Riwayat cedera kepala.

  • Gangguan tidur, termasuk kebiasaan mendengkur.

Perempuan juga diketahui jauh lebih sering mengalami migrain. Sekitar 80 hingga 90 persen penderita migrain adalah perempuan, kemungkinan karena pengaruh hormon. Pada migrain kronis, otak juga bisa mengalami sensitisasi sentral, yaitu kondisi ketika sistem saraf menjadi lebih sensitif terhadap sinyal rasa sakit.

5. Perbedaan penanganannya

Pendekatan pengobatan migrain episodik biasanya fokus pada menghentikan serangan saat terjadi. Beberapa langkah yang umum dilakukan antara lain:

  • Mengonsumsi obat pereda nyeri.

  • Menggunakan obat khusus migrain, seperti triptan.

  • Istirahat di ruangan gelap dan tenang.

  • Mengidentifikasi serta menghindari pemicu migrain.

Sementara itu, migrain kronis biasanya memerlukan pengobatan pencegahan jangka panjang. Dokter dapat meresepkan obat preventif yang diminum setiap hari, seperti topiramate atau beta-blocker.

Selain itu, beberapa terapi lain juga sering digunakan, misalnya:

  • Suntikan Botox setiap 12 minggu.

  • Terapi perilaku atau manajemen stres.

  • Perangkat neuromodulasi.

  • Pendekatan perawatan multidisiplin.

Penanganan yang dilakukan lebih awal dapat membantu mencegah migrain episodik berkembang menjadi migrain kronis.

Jika migrain mulai terjadi lebih dari 10 hari dalam satu bulan, mengganggu aktivitas, atau polanya berubah dari biasanya, segera temui dokter atau ahli saraf. Mencatat frekuensi dan pemicu sakit kepala, misalnya melalui aplikasi atau jurnal harian, juga bisa membantu proses diagnosis. Dengan penanganan yang tepat, baik migrain episodik maupun kronis dapat dikontrol sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.

Referensi

Healthline. Diakses pada Maret 2026. "Episodic Migraine vs. Chronic Migraine: What Are the Differences?"

NeurologyLive. Diakses pada Maret 2026. "The Difference Between Episodic and Chronic Migraine."

PS Neurology. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines vs. Episodic Migraines: Key Differences and Treatments."

Continental Hospitals. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines vs. Episodic Migraines: Understanding the Differences."

WebMD. Diakses pada Maret 2026. "Chronic Migraines Explained."

Editorial Team