Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pneumomediastinum: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan
ilustrasi pneumomediastinum (pexels.com/freestocks.org)

Pneumomediastinum adalah kondisi medis yang terjadi ketika udara (gas) terperangkap di dalam mediastinum. Mediastinum ialah ruang bagian dada antara paru-paru, trakea, kerongkongan, dan jantung.

Kondisi langka ini sering kali dikaitkan dengan trauma atau kebocoran dari organ paru-paru dan tenggorokan. Namun, ada kalanya penyebab pneumomediastinum tidak teridentifikasi (spontaneous pneumomediastinum).

Laporan dalam Journal of Thoracic Disease menguraikan bahwa pneumomediastinum lebih sering terjadi pada anak laki-laki ketimbang perempuan. Meskipun berisiko untuk segala jenis usia, kondisi ini lebih rentan menjangkit bayi atau anak kecil karena dada mereka masih terdiri dari banyak tulang rawan dan jaringan yang lebih lunak.

1. Gejala

ilustrasi sakit kepala (pexels.com/cottonbro)

Gejala pneumomediastinum bisa berbeda-beda tergantung tingkat keparahan, penyebab yang mendasari, serta kondisi individu yang bersangkutan. Secara umum, gejala pneumomediastinum meliputi:

  • Sulit bernapas.
  • Sakit leher.
  • Batuk, muntah, dan kesulitan menelan (disfagia).
  • Perubahan suara.
  • Mengembangkan kecemasan.
  • Nyeri hebat di bagian tengah dada yang kemudian dapat menyebar ke leher bahkan punggung.
  • Emfisema subkutis, kondisi ketika udara (gas) terperangkap di bawah kulit bagian dada.
  • Hamman's crunch, yaitu suara derak yang beriringan dengan detak jantung (dokter yang mengeceknya).

2. Penyebab

ilustrasi menyelam (pexels.com/Engin Akyurt)

Beberapa penyebab potensial pneumomediastinum di antaranya:

  • Cedera parah yang menghantam leher atau dada.
  • Efek samping operasi pada leher, dada, atau perut.
  • Infeksi dada dan penyakit paru-paru, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan penyakit paru interstisial.
  • Terdiagnosis asma atau kondisi lain yang menyebabkan batuk kuat.
  • Mendapatkan tekanan udara yang cepat saat menyelam.
  • Menghirup asap beracun.
  • Muntah berlebihan.
  • Menggunakan ventilator.
  • Latihan fisik terlalu intens.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, salah satunya metamfetamin.

Mengacu studi dalam Respiratory Medicine CME tahun 2011,manuver Valsava juga dapat dikaitkan dengan penyebab pneumomediastinum. Kondisi demikian melibatkan usaha pernapasan secara paksa sembari menutup glotis. Manuver Valsava dapat mengakibatkan peningkatan tekanan dalam rongga dada dan kepala serta memengaruhi denyut jantung.

3. Faktor risiko

ilustrasi anak yang mengalami gangguan pernapasan (pexels.com/cottonbro)

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pneumomediastinum meliputi:

  • Usia: Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bayi atau anak-anak kemungkinan lebih berisiko mengembangkan pneumomediastinum karena jaringan pada dada masih belum optimal.
  • Jenis kelamin: Laporan dalam Journal of Thoracic Disease memperkirakan sebanyak 76 persen kasus pneumomediastinum memengaruhi laki-laki, khususnya laki-laki yang usianya lebih muda.
  • Kondisi paru-paru: Orang dengan diagnosis medis terkait masalah pada paru-paru seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit paru interstisial, asma, bronkiektasis, dan fibrosis kistik menempati risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan pneumomediastinum.

4. Diagnosis

ilustrasi dokter mengamati hasil pemeriksaan sinar x pada pasien (pexels.com/RODNAE Productions)

Dokter akan melakukan pemeriksaan secara komprehensif mengenai riwayat kesehatan pasien yang diduga mengembangkan pneumomediastinum. Ini termasuk pemeriksaan fisik dan tes pencitraan guna mengamati kesehatan paru-paru, saluran napas, dan mediastinum.

Beberapa komponen tes diagnosis pneumomediastinum mencakup rontgen dada, CT scan, dan ultrasonografi. Adapun tes lain yang mungkin akan dilakukan untuk mengesampingkan kondisi medis lain, di antaranya:

  • Bronkoskopi: Prosedur pemeriksaan saluran napas paru-paru menggunakan tabung tipis dengan tambahan kamera dan lampu. Tabung tersebut dimasukkan melalui hidung atau mulut sampai masuk ke bagian bronkus dan saluran kecil pada paru-paru.
  • Endoskopi: Penggunaan alat khusus untuk melihat organ tertentu dengan memasukkannya ke dalam tubuh.
  • Esofagografi: Pemeriksaan radiologi konvensional menggunakan kontras tunggal dan fluoroscopy untuk mengetahui lumen dari esofagus.

5. Perawatan

ilustrasi anak laki-laki mendapatkan perawatan untuk masalah pernapasan (pexels.com/cottonbro)

Pneumomediastinum jarang berkembang menjadi masalah medis serius. Ini biasanya dapat sembuh seiring waktu. Pilihan perawatan difokuskan untuk mengelola gejala dan penyebab dasar.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat masa pemulihan pneumomediastinum adalah:

  • Menghindari aktivitas fisik berat.
  • Tirah baring sampai kondisi benar-benar membaik.
  • Jika diperlukan menggunakan tambahan oksigen untuk membantu laju pernapasan kembali normal.
  • Konsumsi obat batuk, pereda nyeri, dan antikecemasan.

Apabila pneumomediastinum disebabkan oleh kondisi paru-paru (misalnya asma), orang tersebut harus mendapatkan perawatan intensif. Di samping itu, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk melawan infeksi.

6. Komplikasi yang bisa terjadi

ilustrasi tiang infus di rumah sakit (pexels.com/RODNAEProductions)

Mengutip Healthline, perawatan juga termasuk menangani komplikasi seperti pneumotoraks, yang juga dikenal sebagai paru-paru yang kolaps. 

Pneumotoraks terjadi akibat penumpukan udara antara paru-paru dan dinding dada. Orang dengan paru-paru yang kolaps mungkin memerlukan penyisipan tabung dada untuk melepaskan udara dan memungkinkan paru-paru mengembang kembali.

Komplikasi juga dapat memengaruhi jantung. Jarang, pneumomediastinum dapat menyebabkan udara terakumulasi di sekitar karung jantung, sehingga sulit bagi jantung untuk berdetak secara normal.

7. Pneumomediastinum pada bayi baru lahir

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Christian Bowen)

Pneumomediastinum dapat memengaruhi sekitar 2 dari setiap 1.000 kelahiran. Namun, kemunculannya mungkin diremehkan karena tidak selalu menimbulkan gejala yang mengarah pada diagnosis, mengutip Medical News Today.

Kondisi ini lebih mungkin terjadi pada bayi baru lahir yang:

  • Membutuhkan ventilator mekanik untuk membantu pernapasan.
  • Mengembangkan infeksi paru-paru, seperti pneumonia.
  • Menghirup (mengisap) kotoran pertama mereka saat lahir.
  • Memiliki situasi mendesak atau darurat selama kelahiran.

Jika bayi baru lahir memiliki gejala, ini dapat mencakup:

  • Lubang hidung melebar.
  • Dengkur.
  • Pernapasan yang luar biasa cepat.
  • Kesulitan mengisap.
  • Pembesaran dada.

Seorang bayi akan menerima oksigen untuk membantu mereka bernapas dan mendorong reabsorpsi udara jika mereka menunjukkan gejala kesulitan bernapas. Antibiotik dan perawatan lain akan diresepkan untuk masalah mendasar lainnya.

Sering kali bayi baru lahir perlu dipantau di unit perawatan intensif neonatal atau NICU saat perawatan pneumomediastinum.

Pneumomediastinum adalah kondisi yang menyangkut masalah pada mediastinum yang cenderung memiliki prospek baik. Dengan kata lain, dapat sembuh seiring waktu dengan perawatan tertentu.

Apabila kamu mengalami gejala yang mengarah pada pneumomediastinum khususnya bila memiliki faktor risikonya, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team