Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Rajin ke Museum Bisa Bikin Tubuh Menua Lebih Lambat
ilustrasi seorang laki-laki mengunjungi museum (pexels.com/Eyüpcan Timur)
  • Penelitian University College London menemukan bahwa keterlibatan rutin dalam aktivitas seni dan budaya, seperti mengunjungi museum atau menari, berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih lambat hingga sekitar 4 persen.
  • Studi terhadap lebih dari 3.500 orang dewasa menunjukkan bahwa semakin sering seseorang berpartisipasi dalam kegiatan seni, semakin muda usia biologisnya dibandingkan usia kronologis sebenarnya.
  • Efek positif seni diyakini berasal dari kombinasi manfaat emosional, sosial, kognitif, dan fisik yang membantu menurunkan stres serta mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penelitian dari University College London menunjukkan sisi menggembirakan dari keterlibatan manusia dengan seni: aktivitas sederhana seperti mengunjungi museum atau bernyanyi ternyata berkaitan dengan laju penuaan biologis yang lebih lambat. Temuan ini menyoroti bahwa keindahan, kreativitas, dan interaksi sosial bukan hanya memperkaya batin, tetapi juga tercermin positif pada keseimbangan tubuh secara ilmiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa tahun lalu, sejumlah dokter di Kanada mulai melakukan sesuatu yang tidak biasa, yaitu “meresepkan” pasien mengunjungi museum.

Pasien benar-benar diberi akses gratis ke museum seni lokal dengan harapan aktivitas itu bisa membantu kesehatan mental dan fisik mereka.

Saat itu, gagasan tersebut terdengar seperti pendekatan humanis yang menarik, tetapi mungkin terlalu idealistis untuk dianggap serius secara ilmiah. Kini, penelitian baru dari Inggris memberi dasar ilmiah yang lebih kuat.

Studi dari University College London menemukan bahwa rutin terlibat dalam aktivitas seni dan budaya berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih lambat. Menariknya, efek ini bahkan terlihat pada aktivitas yang tampak sederhana, seperti pergi ke museum, menghadiri pameran seni, bernyanyi, menari, melukis, membuat kerajinan tangan, atau mengunjungi perpustakaan.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Innovation in Aging dan melibatkan lebih dari 3.500 orang dewasa di Inggris. Para peneliti menganalisis seberapa sering peserta melakukan aktivitas seni atau budaya, lalu membandingkannya dengan berbagai jam biologis berbasis epigenetik—alat ilmiah yang digunakan untuk memperkirakan seberapa cepat tubuh mengalami penuaan biologis, bukan hanya usia berdasarkan tanggal lahir.

Tubuh bisa menua lebih cepat maupun lebih lambat

Dalam dunia kesehatan modern, usia kronologis dan usia biologis tidak selalu sama.

Dua orang bisa sama-sama berusia 50 tahun, tetapi kondisi biologis tubuh mereka sangat berbeda. Ada yang tubuhnya masih relatif muda, ada juga yang fungsi tubuhnya sudah menunjukkan tanda penuaan lebih cepat.

Untuk mengukurnya, ilmuwan menggunakan apa yang disebut jam epigenetik (epigenetic clocks). Sistem ini melihat perubahan tertentu pada ekspresi gen yang berkaitan dengan proses penuaan dan kesehatan tubuh.

Dalam studi tersebut, salah satu alat yang digunakan adalah DunedinPACE, yang mengukur kecepatan tubuh mengalami penuaan.

Hasilnya, dibanding orang yang hampir tidak pernah melakukan aktivitas seni atau budaya, mereka yang melakukannya setidaknya seminggu sekali menunjukkan laju penuaan biologis sekitar 4 persen lebih lambat.

Efeknya terlihat bertahap:

  • Aktivitas seni beberapa kali setahun dikaitkan dengan penuaan sekitar 2 persen lebih lambat.

  • Aktivitas bulanan sekitar 3 persen.

  • Aktivitas mingguan sekitar 4 persen lebih lambat.

Para peneliti juga menggunakan alat lain bernama PhenoAge, yang membandingkan usia sebenarnya dengan usia biologis tubuh seseorang.

Orang yang rutin melakukan aktivitas seni setidaknya seminggu sekali, rata-rata memiliki usia biologis sekitar satu tahun lebih muda dibanding mereka yang jarang terlibat dengan seni dan budaya.

Yang menarik, perbedaan ini bahkan terlihat lebih besar dibanding perbedaan antara orang yang rutin olahraga mingguan dan yang tidak.

Kenapa seni bisa berpengaruh pada tubuh?

ilustrasi pertunjukan seni (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Para peneliti menilai efek seni kemungkinan tidak datang dari satu mekanisme tunggal.

Aktivitas seni melibatkan banyak aspek kesehatan sekaligus, dari mulai emosional, sosial, kognitif, bahkan fisik.

Saat kamu berjalan di museum, misalnya, tubuh sebenarnya tidak hanya melihat lukisan. Ada proses mental ketika otak memproses warna, bentuk, memori, dan emosi. Ada juga efek sosial ketika aktivitas dilakukan bersama orang lain. Beberapa kegiatan seni seperti menari atau bernyanyi bahkan melibatkan aktivitas fisik dan pernapasan.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan aktivitas seni dapat membantu:

  • Menurunkan stres.

  • Mengurangi inflamasi.

  • Memperbaiki kesehatan mental.

  • Mendukung kesehatan kardiovaskular.

Hal-hal tersebut sangat berkaitan dengan proses penuaan biologis.

Dalam studi ini, hubungan paling kuat terlihat pada kelompok usia paruh baya. Selain itu, makin beragam aktivitas seni dan budaya yang dilakukan, makin baik pula tanda-tanda biologis yang terlihat.

Artinya, efeknya mungkin merupakan kombinasi pengalaman yang membuat hidup lebih aktif secara mental, emosional, dan sosial.

Namun, bukan berarti mengunjungi museum menggantikan rutin berolahraga

Penelitian ini tidak mengatakan bahwa pergi ke museum otomatis membuat seseorang lebih sehat daripada olahraga. Olahraga tetap memiliki manfaat yang sangat kuat dan terbukti bagi kesehatan jantung, metabolisme, otot, serta umur panjang. Namun studi ini memperlihatkan sesuatu yang penting, bahwa kesehatan manusia tidak cuma dibentuk oleh makanan dan aktivitas fisik.

Kehidupan emosional, rasa terhubung, stimulasi mental, kreativitas, dan pengalaman budaya juga dapat meninggalkan jejak biologis pada tubuh.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, aktivitas seni mungkin memberi tubuh kesempatan untuk refresh dengan cara yang berbeda.

Seni mungkin bekerja seperti "suplemen" sosial dan mental

Ilustrasi beberapa aktor yang sedang bermain peran di atas panggung pertunjukan teater (pexels.com/Matin Ziya)

Banyak aktivitas seni sebenarnya menggabungkan berbagai elemen yang dikenal baik untuk kesehatan, seperti bergerak, fokus, rasa ingin tahu, relasi sosial, makna emosional, hingga rasa tenang. Karena itu, para peneliti mulai melihat seni bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari perilaku yang mendukung kesehatan.

Beberapa negara bahkan mulai mengeksplorasi konsep social prescribing, yaitu pendekatan ketika dokter tidak hanya memberi obat, tetapi juga merekomendasikan aktivitas seperti komunitas sosial, kegiatan alam, atau seni sebagai bagian dari dukungan kesehatan.

Dalam konteks ini, museum bisa menjadi ruang untuk berjalan pelan, berpikir, merasa terhubung, dan keluar sejenak dari tekanan hidup sehari-hari.

Penelitian dari Inggris menemukan bahwa rutin terlibat dalam aktivitas seni dan budaya berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih lambat.

Aktivitas seperti mengunjungi museum, melukis, bernyanyi, menari, atau menghadiri pameran seni tampaknya memberi manfaat yang tidak hanya terasa secara emosional, tetapi juga dapat tercermin pada kondisi biologis tubuh.

Walaupun penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak, tetapi temuannya memperkuat gagasan bahwa kesehatan manusia dipengaruhi oleh lebih dari sekadar olahraga dan pola makan. Cara kamu menikmati hidup, merasa terhubung, berpikir, dan merasakan keindahan mungkin juga ikut membentuk bagaimana tubuh menua.

Referensi

Daisy Fancourt et al., “Does Leisure Activity Matter for Epigenetic Ageing? Analyses of Arts Engagement and Physical Activity in the UK Household Longitudinal Study,” Innovation in Aging, May 11, 2026, https://doi.org/10.1093/geroni/igag038.

"Visiting Museums May Slow Your Biological Aging, Study Finds." Science Alert. Diakses Mei 2026.

Editorial Team